Bercerita.

540 Kata
Malam ini langit nampak begitu terang. Disinari cahaya rembulan dan sinar bintang yang bertaburan di langit. Aku duduk menyendiri di balkon kamarku. Berusaha memahami apa yang ada di benakku saat ini. Di dalam kesendirianku, aku teringat kembali kenangan bersama Rengganis. Ketika bermain bersamanya hingga aku jatuh sakit pun, Rengganis selalu ada untukku. Ia sudah kuanggap seperti kakak kandungku sendiri, meski kami seumuran, akan tetapi, sikap Rengganis padaku seperti seorang kakak yang penuh perhatian kepada adiknya sendiri. Pintu diketuk tiga kali. Namun, tak ada jawaban dariku yang begitu fokus melihat bintang di langit. "Sayang, anak kesayangan papa sedang apa, nih?" sahut Pak Dias, papa angkatku dari balik pintu. Tak ada sahutan manja dariku. Papa mencoba memasuki kamarku. Mencariku hingga ke setiap sudut ruangan. Akhirnya, kedua netranya menangkap sosok diriku yang tengah berdiri di balkon. Dengan cepat ia menghampiriku lalu berdiri tepat di sampingku saat ini. "Anak papa, kok, melamun? Melamunkan siapa, sih?" tanya Pak Dias. Matanya menatap diriku lekat. "Aku lagi melihat bintang, Pah," jawabku. Dengan posisi masih melihat bintang di langit. "Bintang, kok, dilihat? Kamu tidak rindu sama papa, ya?" sindir Pak Dias. Sambil menyenggol pundakku dengan pundaknya. "Ih, Papa. Kayak anak kecil saja, deh." gerutuku. Mencubit lengannya. Kudengar ia mengaduh, "Aaw, sakit, loh, Sayang." "Hehehe," Aku terkekeh. Melihat Papaku cemberut manja. Lucu sekali saat ia merajuk seperti itu. "Kamu betah sekolah di sana, Sayang?" tanya Pak Dias. Obrolannya terdengar serius. Sesekali ia menghela napasnya. "Betah, Pah. Hanya saja aku---." Aku diam. Tidak melanjutkan kata-kataku yang tersendat ini. Tidak ingin papa menjadi kecewa padaku. "Apa?" tanyanya singkat. Dipandanginya wajahku. "Tempat dudukku di belakang, Pah. Hehe," ujarku tersenyum. "Loh, kok, bisa? Pasti kamu dibuli lagi ya? Apa tidak ada guru yang menegurnya?" Pak Dias bertanya bertubi-tubi. Seperti polisi tengah menginterogasi penjahat. "Enggak, sih, Pah. Mereka baik-baik, kok, sama Jingga. Cuma, di sana, aku banyak yang mengincar," jelasku asal. "Maksudnya? Papa enggak ngerti, loh," tanyanya lagi. Kali ini Papa lemot. "Aku diincar murid laki-laki, Pah. Ada dua orang lagi, huh!" gerutuku sok cantik. Pak Dias terkekeh juga akhirnya. Ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, "Sok cantik kamu. Eh, apa jangan-jangan laki-lakinya itu yang tadi siang mengobrol sama kamu, ya?" "Iya," jawabku. Sambil melebarkan senyuman di bibir. "Hem, gebetan, nih, ceritanya? Eh, tapi, ganteng juga, loh, Sayang." "Masa, Pah?" tanyaku. "Iya, swear deh," sahut papa. Sejenak aku terdiam. Kembali kenangan itu muncul. Kenangan bersama Rengganis di panti asuhan. Papa yang melihatku berubah menjadi sendu, ia mencoba menghiburku. Ia paham jika aku seperti ini, itu tandanya aku sedang rindu seseorang yang berada di panti. "Kamu rindu padanya, Jingga?" tiba-tiba papa bertanya soal itu. Aku tersentak kaget. Kenapa Papa seperti paham apa yang aku pikirkan sekarang. "He'em," jawabku singkat. "Pada Rengganis, bukan?" Aku mengangguk. Lalu kusandarkan kepalaku ke pundak Pak Dias, sambil memandang langit bertabur bintang. "Rindu sekali, Pah. Oh iya, hari minggu nanti bolehkah aku berkunjung ke panti, Pah?" ujarku kemudian bertanya. Aku meminta ijin padanya, berharap ia memberi ijin padaku. Dengan senyuman khasnya, Pak Dias mengijinkanku untuk mengunjungi panti. Betapa senangnya hatiku saat ini. Akhirnya setelah sekian lama aku berpisah, kini aku bisa berjumpa kembali dengan Rengganis. "Hatur nuhun, Pah." Aku memeluk Pak Dias. Sebagai rasa terima kasih karena telah mengijinkan aku mengunjungi Panti Asuhan 'Ibu Pertiwi'. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN