Kepulangan Ayah.

403 Kata
Bel sekolah berbunyi. Menandakan bahwa pelajaran sekolah sudah selesai. Seluruh siswa dan siswi di Sekolah Bina Nusantara dengan cekatan membereskan seluruh perlengkapan alat tulisnya ke dalam tas sekolah masing-masing. Begitu juga denganku dan sahabatku, Nadia. Kami segera membereskan alat-alat tulis lalu pulang ke rumah masing-masing. Akibat kejadian tadi, Nadia masih menyimpan emosinya padaku. Nadia cemburu melihat tingkah Alvian yang begitu respek padaku. "Hari ini mau ikut enggak?" Tanyaku pada Nadia. Tidak ada respon darinya. Diam seribu satu bahasa. Dengan muka ditekuknya dan bibir dimanyunkan ke depan. Lucu sekali wajahnya Nadia. "Nad, marah ya?" Tanyaku lagi. Berharap Nadia menjawab pertanyaanku. "Iya!" jawabnya ketus. Ketus sekali. Lirikannya itu, loh, sumpah j*****m banget. "Maaf," ucapku. Sambil meraih tangan Nadia. Dengan cepat ia menepis tanganku. "Nad," pekikku agak kesal. Aku kesal padanya. Hanya karena Alvian, ia marah besar padaku. "Pikir sendirilah sama kamu! Kamu itu murid baru, tapi, semua cowok populer di sekolah ini mereka mengejar kamu. Mendapatkan perhatianmu. Kamu itu pakai apa, sih? Pelet atau santet?" Tanya Nadia, ketus. Ia menuduhku memakai ilmu perdukunan. Apa sih kamu, Nad? Kamu enggak jelas. "Ya sudah kalau begitu. Sampai besok lagi, Nad. Sampai di rumah, aku mau instropeksi dulu. Biar tahu letak salahku di mana sama kamu," cetusku lugas. Membuat Nadia makin meradang. "Jingga ...!" pekik Nadia geram. *** Mobil jemputan pun sudah tiba. Rea rupanya sudah menunggu kedatanganku di mobil. Aku pun berjalan cepat agar cepat sampai menuju mobil jemputan. Tiba-tiba, Alvian menarik tanganku lagi. Kali ini ia ingin memastikan jika aku benar-benar akan menghindari Romi. Jika Romi berbuat seperti itu lagi. "Jauhi Romi, ya!" katanya. Berusaha memegang tanganku. "Untuk apa? Toh, aku dan Romi tidak ada hubungan apa pun. Kamu tidak usah khawatir ya, Vian. Aku baik-baik saja, oke?" Kataku. Lalu tersenyum. "Hem," balas Alvian, berdehem. "Oke, aku pergi dulu ya? Sampai ketemu besok pagi lagi, daaaah," pamitku pada Alvian. Melambaikan tanganku padanya. Sebagai penanda aku pamit pergi meninggalkannya. "Ehem, siapa, tuh?" tegur seorang laki-laki yang suaranya sangat aku kenal. Berat tetapi, suara itu yang sangat kurindukan. Aku menoleh ke arah suara. Betapa terkejutnya aku saat melihat sosok ayah dihadapanku. "Ya, Allah ... ayah ...!" Kataku menjerit bahagia. Kemudian memeluk tubuh ayah angkatku yang kebetulan sudah dijemput oleh Mang Rendi tadi siang sekitar jam sebelas tadi siang. "Huh, lebay banget kamu, Kak," cibir Rea. Ternyata ia sudah berada di dalam mobil. Aku melirik ke arahnya, tersenyum lebar lalu kucubit pipi tirusnya itu, "Biarin adek." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN