Marah.

444 Kata
Alvian menarik tanganku untuk kedua kalinya. Nadia teman sebangkuku mengikuti dari belakang tanpa berkata sepatah kata pun. Wajahnya tertekuk. Ia marah melihat Alvian menarik tanganku ketika melihat Romi sedang mengeluarkan jurus mautnya padaku. Aku yang tidak mengetahui apa-apa. Hanya bisa diam seribu bahasa. Wajah polosku pun aku tunjukkan padanya. Sungguh aku memang tidak paham apa yang sebenarnya terjadi. Bruk! Suara tas menghentak di meja belajarku. Jelas saja aku terkejut. Nadia benar-benar marah padaku. Terlihat wajahnya sinis tidak bersahabat saat kulirik ia dan kusunggingkan senyumanku. "Sudah aku bilang, Romi itu lagi mengadakan taruhan! Kamu masih saja bandel. Bisa-bisanya kamu terpesona padanya saat bertekuk lutut dihadapanmu tadi," cicit Alvian dengan pedas. Nadia memperhatikan Alvian berbicara padaku. Begitu perhatiannya Alvian padaku. Sumpah baru kali ini, ia melihat Alvian begitu respek pada perempuan. Biasanya tidak pernah. "Alvian," Nadia memanggilnya. Suaranya begitu lirih. Namun, terdengar oleh Alvian juga. "Apa? Kamu mau juga seperti Jingga? Sono, gih, ke lapangan basket!" ujar Alvian marah. Kedua matanya melotot tak beraturan. "Kamu seperti singa, tahu. Aku takut lihat kamu marah," sindir Nadia. Alvian merasa tercekat lehernya. Mengolah perkataan Nadia baru saja menusuk hatinya. Ia sadar, tak perlu semarah ini padaku apa lagi pada Nadia. Alvian diam. Sekilas ia tertunduk, tidak menatap wajahku maupun wajah Nadia, temanku. "Lain kali, kamu harus bisa menjaga teman kamu, Jingga! Jangan sampai Romi berhasil dengan taruhannya, paham?" Lirihnya. Sambil menunjuk ke arahku dan Nadia. Nadia mengangguk, sedangkan aku? Aku hanya diam saja saat melihatnya emosi tadi, waktu ia melihatku berada di lapangan basket bersama Romi. *** Kejadian di lapangan basket. Alinea pergi dengan wajah kesal pada Romi. Menarik tangan kedua sahabatnya itu. Tinggallah aku sendiri, menghadapi Romi yang sedang kerasukan dedemit pagi itu. "Gimana? Mau, 'kan, kamu menerima cintaku?" Romi memohon kembali. Tak lama kemudian, Nadia sahabatku datang. Ia tercengang melihat kenekatan Romi yang memalukan pagi ini. Nadia menggaruk rambutnya yang tidak gatal itu. Mencoba mencerna apa yang dilakukan Romi. "Romi sedang apa itu, Jingga?" Bisik Nadia di telingaku. Aku mengangkat kedua bahuku. Menjawab dengan isyarat melalui tubuhku. "Pilih bunga atau cokelat, Say?" tanyanya lagi. Mungkin karena geram aku tidak menanggapinya, ia langsung memegang tangan kananku. Lalu mengarahkan ke arah seikat bunga mawar merah. Pertanda aku menerima cintanya. Namun, baru saja tanganku menyentuh bunga mawar itu. Tiba-tiba saja lenganku ditarik oleh Alvian. Ia berdiri tepat dihadapanku dan juga Romi. Memandang wajah Romi dengan tajamnya. Ia benar-benar marah pada Romi. Bodohnya aku kenapa mau memegang bunga mawar yang disodorkan oleh Romi. Kemudian, Alvian segera membawaku menjauh dari Romi. Membawaku ke dalam kelas. Tahu tidak, saat ia marah. Bahkan benar-benar marah. Wajahnya itu sangat menakutkan, loh. Nadia saja sampai ketakutan gitu. Mirip singa, katanya. Haha. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN