Hari yang membingungkan.

702 Kata
Aku tidak paham yang dilakukan Alvian. Ia berkata akan menjadi anjing herder buatku. Tunggu, aku benar-benar tidak serius mengatakan hal itu padanya saat Romi menggodaku. Aku hanya ingin membuatnya bungkam itu saja. Namun, rasanya saat ia menawarkan diri untuk menjagaku, ada perasaan aneh yang berdesir di dalam raga ini. Perasaan itu tumbuh di hatiku. Ah, aku takut ini semua semu. Andai saja jika Alvian itu ternyata Rengganis, bagaimana? Apa aku harus bahagia? Tentu saja! Aku telah menunggunya di sini. Di dalam hati ini untuk diisi oleh cintanya. Kurasa itu akan menjadi momen yang berharga. Kuharap semua itu tidak akan menjadi semu. Semoga saja impianku bertemu dengan teman masa laluku terkabul. 'Semoga saja, Tuhan!' rintihku dalam doa di sepertiga malam. *** Seperti biasanya, aku berangkat ke sekolah. Diantar oleh supir pribadi yang sudah bekerja selama tiga puluh tahun di keluarga 'Dias'. "Non, nanti mamang jemput jam berapa? Apa jemput di jam biasa non pulang?" Mang Rendi supir pribadi bertanya. Ia membukakan pintu mobil di mana aku dan Rea keluar dari mobil yang kami tumpangi. "Jemput seperti biasa saja, Mang. Aku lagi enggak ada tugas mendadak di sekolah, kok. Enggak tahu deh kalau, Jingga," sahut Rea ketus. Melirik dengan enggan padaku. Aku balas dengan senyum manis di pagi hari. Senyum khas berlesung pipit andalanku. Dibalas oleh Mang Rendi, yang tersenyum manis dengan kumis tebal penuh eksotis, wadidaw! "Jemput saja seperti biasa, Mang. Aku pun tidak ada kegiatan di sekolah. Lagi pula aku mau cepat-cepat pulang. Soalnya hari ini Ayah Dias akan pulang dari Kota Bandung, Mang," balasku ramah. Mang Rendi menepuk keningnya. Ia lupa jika hari ini tuannya akan pulang ke rumah. Sudah Satu pekan ayah berada di Kota Bandung karena ada urusan pekerjaan yang mengharuskannya pergi ke Bandung. "Mamang lupa, Non. Hatur nuhunnya sudah dikasih tahu jadwal kepulangan Bapak Dias," serunya. Kemudian ia pun segera pamit untuk pergi dari sekolah itu. Melihat tingkah Mang Rendi yang lucu karena lupa, aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Hem, mamang masih belum berubah," gumamku dalam hati. Sambil kulangkahkan kedua kaki, berpijak pada bumi yang kusinggahi. *** Saat sedang berjalan melewati gerbang sekolah seperti biasa, Romi mulai melancarkan aksinya lagi. Ia dengan sengaja berdiri di lapangan basket. Dengan membawa seikat bunga mawar merah dan sekotak cokelat dengan merk terkenal yang ia tenteng di tangan kanannya. Hiasan bola warna warni menghiasi lapangan basket pagi ini. Seluruh siswa siswi yang kebetulan sudah berada di sekolah, mereka berkumpul jadi satu. Meski tidak padat, tetapi, malunya itu aku tidak kuat, loh. Rupanya ia pun nekat membuat tulisan besar berisikan kata-kata cinta untukku. 'PILIH COKELAT ATAU BUNGA, JINGGA'. Itu kata-katanya yang pertama. Yang ia tulis di kertas karton berukuran besar. 'JINGGA, AKU MENCINTAIMU! MAUKAH KAMU MENJADI KEKASIHKU'. Itu kata-kata kedua yang ia tulis di kertas karton berwarna senada dengan bunga mawar, yaitu merah. Langkahku terhenti saat ia mencoba memanggil namaku menggunakan alat 'toa'. Tahukan kalian toa? Nah, itu yang digunakannya agar suaranya terdengar sampai ke telingaku. Amazing bukan tingkah laku Romi? "Jingga." Romi memanggil. Suaranya terdengar lantang. Duh, malu rasanya. Aku mematung. Melihat ke arahnya yang berdiri tegak di lapangan basket. Memalukan banget kamu Romi. Perlahan Romi mendekatiku. Ia segera berlutut saat dirinya berada dihadapanku. Kedua matanya menatap lekat ke arahku. Sit! Dia tidak main-main rupanya. Mampus aku! Aku butuh seseorang. Aku malu. "Maukah kamu menerima cintaku, Jingga?" Ia bertanya sambil menunjukkan wajah innocent padaku. Aku tidak boleh melihat wajahnya. Ia pasti akan membuatku luluh dan tidak berani menolak dengan mengatakan kata, "Tidak!" "Apa-apaan kamu, Rom? Sungguh bodoh kamu sampai bertekuk lutut pada Jingga. Norak kamu!" sungut Alinea. Teman yang menganggapku musuh baginya. Romi tidak mempedulikan ucapan Alinea yang terdengar konyol itu. Bahkan kata-katanya itu menusuk hatiku sekali. "Jingga, ayolah terima cintaku," Romi memohon. Tatapan matanya sayu. Berharap aku menerima cintanya. "Apa, sih, Romi ...? Kamu malu-maluin banget. Jiga teu aya awewe deui!" hardik Alinea. Ia menarik lengan Romi. Berusaha agar Romi tidak menurunkan harga dirinya berlutut dihadapanku. Memohon cintaku. "Cicing atuh! Aku lagi mengatakan cinta sama si Jingga. Indit sia!" Usir Romi. Alinea marah besar. Ia ingin sekali memberi pelajaran padaku. Namun, ia urungkan. Ia tidak mau membuat keributan pagi hari. "Ah, lieur maneh, mah," sungut Alinea. Kemudian pergi dari hadapanku dengan wajah kesal. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN