Alvian Wijaya.

750 Kata
"Sudah aku bilang, bawa anjing herder ke sekolah. Di sini banyak buaya daratnya. Kamu enggak akan kuat." Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang dipikiranku. Alvian, salah satu siswa kebanggaan di Sekolah Bina Nusantara. Idolanya para siswi di sana. Ia juga termasuk siswa yang cerdas. Wajar saja jika aku mengidolakan Alvian. Jujur saja saat melihat Alvian, entah mengapa aku jadi teringat dengan teman masa kecilku yang bernama Rengganis saat masa di panti asuhan tujuh tahun yang lalu. Ketika melihat bola matanya yang berwarna jingga, di sanalah letak kerinduanku memuncak. Rindu pada sosok sahabatku yang baik dan penuh perhatian. *** "Melamun terus. Melamunkan siapa, sih, Jingga?" seru Nadia teman sekelasku. Ia anak yang ramah. Sekarang menjadi teman akrabku. "Enggak lagi melamun, kok. Kamu salah, kali, Nad," ujarku, mengulum senyum. "Aku tahu kamu lagi melamun, loh. Jangan bohong deh. Kalau bohong, nanti dicium Romi," sela Nadia. Ia meledekku dengan menyebut nama Romi. "Apaan, sih, kamu enggak jelas, Nad. Aku sama Romi enggak ada hubungan apa-apa," kataku sambil mencubit kecil pinggang Nadia. Ia menggeliat geli saat aku mencubit pinggangnya. "Yey, ketahuan ya kamu lagi mikirin Romi, hahaha," cibir Nadia. Membuatku sedikit marah. Lalu aku pun berpura-pura marah padanya. Aku tahu ini salah, tetapi, aku tidak mau jika Nadia menyebut nama Romi lagi. Jika tiga serangkai itu mendengarnya, bisa-bisa aku dihujat lagi oleh ketiganya. Aku tidak suka itu terjadi. "Jingga, kamu marah ya?" Tanya Nadia. Ketika melihatku diam. Tidak ada tanggapan sama sekali dariku. "Jingga, kok, enggak jawab, sih?" Tanyanya kembali. "Apa?" Aku balik bertanya. "Kamu marah?" "Tidak," jawabku singkat. "Lalu?" "Tak ada." Kusunggingkan senyuman padanya. Lalu berpura-pura membaca buku pelajaran yang kebetulan tergeletak di meja. Sebenarnya aku ingin sekali tertawa. Namun, aku sedikit kesal pada Nadia. Ia terus saja menyebut nama Romi. Sesekali bolehlah aku mengerjainya. Akhirnya, kupasang wajah cemberut padanya. Melihat aku memasang wajah cemberut, Nadia segera merayu diriku. Ia mencubit pinggangku. Bahkan menggelitiki pinggangku. Tentu saja aku merasa kegelian, sehingga aku menyerah juga. Lalu tertawa terbahak-bahak. "Geli tahu, Nad," kataku. Yang masih tertawa menahan geli. "Biar aja, biar kamunya tertawa lagi. Enggak marah lagi," jawabnya. "Lagian, kamu bibirnya enggak bisa direm. Nyerocos aja seperti kereta api listrik, wusss ...!" "Baru tahu ya kalau aku ini begitu? Haha." Nadia tertawa lagi. Alvian memasuki kelas tiga bahasa. Ia mengerlingkan kedua matanya. Dengan sikap yang sok keren dan bersikap cuek, ia terus melenggang ke arah tempat duduknya di kelas. Melihat Alvian memasuki kelas, tiba-tiba saja sifat Nadia berubah menjadi anggun. Sambil membetulkan letak duduknya, ia berbisik, "Ada pangeran tampan." Aku hanya menganga karena mendengar penuturannya itu. Meski berbisik, aku masih mendengar kata-katanya tadi. "Dasar centil," ujarku berbisik. Kemudian mencubit kecil pinggangnya lagi. "Aaaaw! Sakit tahu," ringisnya sambil mengelus pinggang yang kucubit tadi. Aku hanya tersenyum puas mendengar ringisannya. Biarlah ia menahan sakit. Lagi pula suruh siapa genit? Huh menyebalkan. *** Nadia melirik ke arah Alvian. Aku tahu jika ada Alvian, ia pasti bertingkah yang aneh. Selalu merapihkan rambutnya menggunakan jemarinya. Centil sekali Nadia. Rasanya ingin sekali aku mencubit pipinya yang tembem seperti bakpau itu. Suasana hening seketika. Nadia berubah menjadi wanita alim yang penuh keanggunan. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya yang seperti itu. "Lain kali jangan dekat-dekat Romi, ya?" Alvian berkata. Entah berkata pada siapa, aku tidak tahu. Baik aku dan juga Nadia sama-sama tidak paham apa yang Alvian katakan baru saja. Merasa tidak ada tanggapan, ia pun kembali berkata. "Jingga, kamu dengar tidak?" Alvian bertanya kali ini dengan nada ketus. "Eh, kamu bicara padaku, ya? Aku kira kamu lagi bicara sama Nadia, hehe." Kugaruk rambutku yang tidak terasa gatal itu. Serba salah jadinya sama Nadia. Ia langsung memasang wajah cemberut saat Alvian menyebut namaku. 'Maafkan aku ya, Nad?' gumamku membatin. "Romi itu orang yang tidak baik. Ia lagi ngadain taruhan untuk mendapatkan kamu. Hati-hati dengannya!" sambungnya. Aku hanya tersenyum padanya. Mencerna apa yang dikatakannya. Alvian beranjak dari tempat duduknya. Ia mendekatiku yang tengah duduk di tempat dudukku. Kemudian duduk di kursi yang berada di depanku. "Aku akan menjadi anjing herdermu, ya? Suka enggak suka, aku akan menjagamu, layaknya anjing penjaga yang menjaga tuannya," ucapnya setengah berbisik. Aku dan Nadia hanya bisa diam mendengar ucapan Alvian. Aku tidak mengira jika Alvian bersedia menjadi anjing herderku. Setelah berbicara seperti itu, ia pun bergegas keluar ruangan meninggalkanku dan Nadia di kelas. Kami berdua saling berpandangan. "Kamu tahu maksudnya Alvian tadi?" tanya Nadia mengernyitkan keningnya. Aku menggeleng cepat, "Enggak," jawabku singkat. Biarlah aku berbohong sedikit pada Nadia. Aku harus bisa menjaga perasaannya. Jangan sampai kami bertengkar gara-gara Alvian. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN