Aku berjalan gontai saat memasuki gerbang sekolah. Melangkahkan kedua kakiku yang berirama seiring suara gerak langkah sepatu yang kupakai. Dari kejauhan, nampaklah seorang pemuda berbadan tegap, kekar dan juga tampan. Pemuda ini melangkah cepat mendekatiku. Sikapnya yang seperti aktor terkenal, membuatku jijik saat melihatnya.
"Hai," sapanya saat langkahnya berada sejajar dengan langkah kakiku.
Aku melirik sekilas ke arahnya. Kemudian kutundukkan lagi pandanganku. Kedua mataku mengarah pada langkah kakiku.
"Sendirian aja, nih? Boleh enggak kalau aku temani?" Pemuda itu merayu. Merayu bualan khas buaya darat.
"Kalau boleh tahu, nama kamu siapa?" sambungnya lagi, melanjutkan pertanyaan untukku.
Aku menghentikan langkahku. Melirik ke arahnya, lalu tersenyum. Mengeluarkan senyuman khasku. Senyuman maut berlesung pipit padanya.
Ah, salahku tersenyum padanya. Nampaknya pemuda itu terbuai dengan senyuman mautku. Lihat saja, dia seperti ingin terbang ke angkasa, dengan wajah merah merona. Gila!
Kutinggalkan dia dengan kegilaannya. Tetapi, tanganku di tariknya kencang. Membuatku memundurkan langkah kakiku.
"Tolong lepaskan tanganku! Aku ingin pergi ke dalam kelas, Kak!" Aku meminta ijin padanya. Kucoba melepaskan genggaman tangannya, tapi yang ada nihil. Dia terlalu kencang menggenggam pergelangan tangan kiriku.
"Jawab dulu pertanyaanku tadi. Baru kamu boleh pergi," katanya dengan nada ketus. Mungkin dia marah karena aku cuek padanya.
Aku menghela nafasku dengan kasar. Berfikir selanjutnya aku harus berbuat apa? Aku kira tidak mungkin aku harus melakukan beladiri padanya. Aku tidak mau ada masalah lagi di sekolah baruku ini.
Baiklah jika itu maunya, aku akan memperkenalkan diri padanya. Agar ia senang dan segera melepaskan genggaman tangannya.
"Namaku Jingga. Aku anak kelas tiga bahasa, Kak," kataku sambil menjelaskan siapa nama dan kelasku belajar. Tentunya dengan tambahan senyuman manis.
"Oh, jadi kamu ya yang namanya Jingga? Hem, cantik juga kamu, ya?" Pemuda itu mulai merayuku lagi. Tak lupa juga tangan kirinya mencolek dagu lancipku.
"Kakak bisa, kan, lebih sopan sedikit?" Pintaku secara sopan padanya. Masih dengan nada lemah lembut.
"Bisa, tapi, ada tapinya, nih. Kamu mau ya jadi kekasihku?" Dia bertanya seperti orang yang kehilangan akal. Berkali-kali aku mencoba agar emosiku tidak keluar. Pemuda ini malah menguji kesabaranku.
Entah dari mana asalnya aku tidak tahu. Tiba-tiba saja dari arah belakang, ada seseorang yang dengan sengaja meraih tanganku dan melepaskan genggaman tangan pemuda gila yang sedang bersamaku.
"Lepasin tangan kamu, Rom!" Gertaknya. Suara itu begitu familiar sekali di telingaku. Suara lelaki yang aku kenal.
"Kamu lagi, Vian," gerutu pemuda itu yang tak lain adalah Romi.
"Kan, sudah aku bilang, jangan melakukan hal itu sama Jingga! Kenapa kamu melakukannya, hah!" Bentak Alvian. Seraya mencengkeram kerah baju seragam milik Romi.
Nyali Romi menjadi ciut tatkala melihat Alvian marah besar. Terlebih lagi jika Alvian sudah sangat marah seperti itu, yang ada nanti urusan bakalan runyam. Habislah Romi babak belur pagi ini.
"Tenang, Bro. Aku hanya ingin berkenalan dengan Jingga, itu saja, kok. Enggak lebih," ucap Romi. Suaranya tersengal-sengal.
Tentu saja Alvian tidak akan percaya begitu saja. Ia tahu siapa Romi. Semua murid di sekolah ini pun tahu sifat Romi itu seperti apa jika ada murid baru apa lagi perempuan dan sangat cantik. Pasti akan dijadikan barang taruhan lalu dibuang setelah didapatkan. Itulah Romi, dengan segala ketampanan yang dimilikinya.
Seluruh murid di sekolah ini mulai berdatangan. Yang lebih parahnya lagi, suasana menjadi ramai dan penuh sesak karena melihat kejadian di pagi hari ini. Ada yang bersorak sorai mengelukan Alvian, ada juga yang bersorak sorai mengelukan Romi. Parahnya mereka sampai ada yang taruhan Alvian atau Romi yang menang.
Aku berada di tengah-tengah antara Alvian dan Romi. Segera kutarik lengan Alvian yang sedang mencengkeram kerah seragam milik Romi. Menariknya dengan kuat sampai tangannya melepaskan kerah seragam milik Romi.
"Kali ini, aku lepaskan kamu, Rom! Tapi, lain kali lihat saja, babak belur kamu aku hajar!" Gertaknya. Membuat nyali Romi menjadi ciut.
Setelah berbicara seperti itu pada Romi. Ia segera melirik menatapku. Matanya masih menyimpan amarah. Aku pun takut untuk menatapnya balik.
"Aku, kan, sudah bilang sama kamu. Lain kali bawa anjing herder ke sekolah ini! Di sini banyak sekali buaya daratnya. Kamu enggak akan kuat!" Ia membentakku.
"Aku sudah punya anjing herdernya, loh," sungutku. Sambil menarik paksa Alvian dari kerumunan dan juga Romi.
Alvian menepis tanganku. Kedua matanya masih menatap tajam ke arahku, "Mana aku tidak melihatnya?" Tanya Alvian kemudian.
Aku menarik nafasku, lalu menghembuskannya. Memejamkan mataku, kemudian kuberanikan diri menatap matanya, "Kamu. Kamu, kan, anjing herderku, Vian," ujarku polos.
Alvian diam, tak bergeming. Tak lama kemudian ia menepuk keningnya dengan kasar.
"Ya, ampun, Jingga ...!" pekiknya dengan bola matanya yang hampir saja keluar saking terkejutnya mendengar ucapan dariku.
***