"Eh, kalian tahu tidak? Ada murid baru di sekolah kita ini, loh," seru Raditya, salah satu siswa di Sekolah Bina Nusantara. Siswa paling tampan dan menggemaskan katanya. Katanya loh, bukan kataku.
"Sudah tahu," jawab Alvian. Siswa yang menolongku jatuh di lantai.
Spontan saja hal ini membuat ketiga temannya mendelik ke arahnya yang sudah mengendus keberadaan makhluk cantik bermata belo itu. Yang tak lain bernama Jingga. Yaitu diriku, cieee.
"Aih, kenapa tidak bilang pada kami? Malah asik disimpan sendiri!" Gerutu Romi. Sambil asik memainkan asap rokok yang mengepul di udara.
"Siapa namanya, Vian? Cepat beritahu kami!" Seru Andra. Kedua tangannya mencengkeram pundak Alvian. Alvian segera menepis tangan milik Andra dari pundaknya.
"Sakit, Bro."
"Ya elah, segitu doang, sih, Vian."
Alvian hanya melirik sekilas ke arah temannya itu. Ia malas kalau harus terus berdebat.
Alvian menghela napasnya, lalu ia bersiap-siap untuk mengatakan sesuatu kepada teman-temannya. Tentangku murid perempuan bernama Jingga.
"Namanya Jingga Khaerunnisa. Ia murid di kelasku. Kami satu kelas, kelas tiga bahasa," jelas Alvian.
Penjelasan Alvian membuat ketiga temannya terpana. Begitu hafal temannya itu mengenai murid baru di sekolah ini. Ya iyalah tahu, kan, Alvian teman sekelasku, bukan teman sekelasmu. Pantas saja ia tahu secara lengkap.
"Namanya indah. Tapi, cantik enggak?" tanya Raditya. Pertanyaan menohok untuk mempertanyakan hal itu. Astaga naga, mereka terang-terangan menghina fisikku.
"Cantik. Ia sangat cantik. Kedua matanya bulat bersih. Bulu matanya lentik cantik sekali. Senyuman di pipinya mengukir lesung pipit kecil, tapi, terlihat begitu sempurna saat Jingga tersenyum," jelas Alvian. Matanya menerawang mengingat paras yang rupawan milikku, Jingga Khaerunnisa.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita taruhan?" usul Romi cepat. Ia tahu jika Alvian, temannya itu mengagumiku.
Eh buset, memangnya aku ini boneka. Seenak jidatnya saja main taruhan segala. Maaf bro, aku bukan barang taruhan.
"Ngapain? Tidak usah. Aku tidak setuju!" Tolak Alvin mentah-mentah. Memandang tajam sahabatnya itu.
"Sabarlah, Vian. Jangan tersulut emosi. Kita, kan, geng," cetus Raditya. Menepuk pundak Alvian.
"Bukan gitu, Dit. Dari awal aku mengenal kalian, selalu saja jika ada murid perempuan ujung-ujungnya dibuat taruhan," sungut Alvian. Matanya tajam, nafasnya turun naik menahan emosi.
"Ya, kalau tidak suka jangan ikutan. Bener enggak, sih?" Sahut Romi dengan santai. Membuat emosi Alvian naik, sehingga ia tidak bisa menahan tangannya untuk memukul Romi.
Bug!
Satu pukulan mendarat di perut Romi. Pukulan yang sangat kencang sekali, sehingga perut Romi terasa panas dan juga sakit.
Romi dan kedua sahabatnya pun terkejut melihat Alvian yang secara kasar memukul perut Romi.
"Gila kamu, Vian! Sahabat sendiri kamu tinju perutnya!" Bentak Andra. Mendorong beberapa senti tubuh Alvian.
"Aku tidak suka bila Romi membuat taruhan enggak guna itu! Jingga bukanlah perempuan yang pantas dijadikan taruhan, kalian harus tahu itu!" Alvian balas membentak. Suaranya yang tegas membuat nyali ketiga temannya menciut. Sedangkan Romi, masih meringis kesakitan.
Melihat tindakan Alvian yang secara reflek memukul Romi, membuat ketiga temannya kebingungan. Bingung karena Alvian menentang taruhan yang dibuat Romi. Padahal sebelum ini, Alvian lempeng-lempeng saja. Kenapa saat Jingga dibuat taruhan, emosinya meledak. Ada apa dengan Alvian?
Kali ini, mereka bertiga tidak bisa melawan lagi. Percuma jika melawan, ujung-ujungnya pasti mereka kalah telak. Alvian itu ketua geng mereka. Ketua geng motor sekaligus pembalap motor yang handal. Satu lagi, Alvian anak kepala Sekolah Bina Nusantara. Jika mereka membalas, artinya mereka harus siap dengan konsekuensinya nanti.
"Tapi, memang benar, sih, yang dikatakan Alvian. Kita tidak boleh membuat taruhan untuk Jingga atau pun murid baru lainnya," timpal Raditya membenarkan apa yang dikatakan Alvian. Saat Alvian sudah pergi meninggalkan ketiga temannya.
"Heleh, bilang saja kamu ciut! Pokoknya aku akan mendekati murid baru itu. Sampai murid baru itu jatuh cinta padaku, lalu setelah itu aku campakkan dia." Keputusan yang Romi ambil, itulah yang harus ia pertanggung jawabkan nantinya kepada Alvian.
Raditya dan Andra hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mereka tidak bisa membuat Romi menghentikan keinginannya mengadakan taruhan untuk mendapatkan diriku.
Sehingga mereka tidak sadar, saat ini aku menguping percakapannya di sudut ruangan tak terpakai.
***