bc

Jingga di Ujung Senja.

book_age18+
155
IKUTI
1K
BACA
others
others
goodgirl
sensitive
confident
CEO
others
suger daddy
victorian
Writing Academy
like
intro-logo
Uraian

Menjadi anak yatim piatu bukanlah suatu pilihan untukku saat ini. Di mana aku harus berada dalam satu rumah di panti asuhan 'Ibu Pertiwi'.

Kehidupanku berubah ketika aku diadopsi oleh kedua orangtua angkatku. Mereka butuh seseorang untuk menjaga anak kandung kesayangannya. Tentulah aku mesti berbaik sangka terhadap mereka.

Hingga aku besar dan bersekolah di sekolah internasional, aku lalui dengan perasaan campur aduk. Antara bahagia dan sedih.

Ternyata saudari angkatku, anak kandung dari kedua orangtua angkatku menggaris kastakan aku. Sehingga aku berada di dunia asing, menyendiri.

Sanggupkah aku berlaku baik terhadapnya? Sanggupkah aku menjalani kehidupanku yang serba wah ini?

Ikuti perjalananku,

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog.
Aku Jingga, kata orang aku ini anak yang cerdas. Anak yang berbakat dan mempunyai segudang talenta. Entah apa yang dilihat oleh kacamata mereka. Dari sisi baik mana aku ini anak yang super seperti itu? Aku Jingga, aku diasuh serta dibesarkan oleh orangtua angkat yang mengadopsiku sejak aku berusia sepuluh tahun. Dengan kata lain, aku ini anak yatim piatu. Sengaja dititipkan karena memang aku tidak punya orangtua asuh. Paman dan bibiku pun tak sanggup untuk merawat dan membiayai kebutuhanku. Aku tahu rasanya jadi anak adopsi itu berat loh. Perjuangan meniti hidup harus benar-benar berhati baja. Karena, nanti status sosialitas diriku dipertanyakan. Terlebih lagi jika mereka orangtua angkatku itu orang berada. Aku pergi dari panti asuhan 'Ibu Pertiwi' dengan membawa sebuah luka kesedihan. Dari sanalah aku belajar mengenal diriku, mengenal teman-temanku dan mengenal takdirku. Hingga ada salah satu dari temanku, bernama Rengganis bersedih. Dia tidak rela jika aku pergi. "Kenapa harus pergi, sih?" sungut Rengganis kala senja itu, di jembatan senja. Mengurung kedua netra indahnya. "Maaf, aku harus pergi," ucapku lirih. Tertunduk ke tanah berumput. "Bisakah kita berjumpa lagi, Jingga?" tanyanya kemudian. "Hem, tentu saja bisa. Aku yakin, kita akan bertemu kembali. Jika aku lupa akan dirimu, ingatkan aku ya?" sahutku dengan semangat. Kuseka cepat air mataku. "Yakin? Jika aku yang lupa, bagaimana?" tanyanya lagi. Menatap awan yang berubah menjadi jingga, sejingga hati kami berdua. "Aku yang akan mengetuk pintu hati kamu," jawabku bulat. Mengulum senyum. "Dengan apa?" tanyanya lagi, berapi-api. "Dengan cinta. C-I-N-T-A." Hari itu hari terakhir perpisahanku dengan Rengganis. Seorang teman berjenis kelamin laki-laki. Yang aku ingat adalah, warna bola mata Rengganis berwarna 'jingga', sesuai dengan namaku, Jingga. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

His Secret : LTP S3

read
665.3K
bc

Sweet Sinner 21+

read
920.4K
bc

FINDING THE ONE

read
34.9K
bc

f****d Marriage (Indonesia)

read
7.1M
bc

Nikah Kontrak dengan Cinta Pertama (Indonesia)

read
466.0K
bc

UN Perfect Wedding [Indonesia]

read
80.4K
bc

BRAVE HEART (Indonesia)

read
92.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook