Sekolah itu.

415 Kata
"Yey, aku menang!" teriakku saat itu juga, setelah mencapai garis finis tepat di gerbang sekolah. Aneh memang, kenapa pula aku harus berlomba dengan bayangan, sedangkan bayangan itu adalah bayanganku sendiri. Banyak mata memandang aku ini gadis yang aneh. Gadis terabsurd dan gadis yang tidak waras. Namun, aku mengacuhkan cercaan dari penduduk di sekolah itu. Namaku Jingga Khaerunnisa. Gadis berambut panjang dengan bola mata bulat menonjol, beralis tebal, dan berbulu mata lentik. Aku mempunyai senyuman manis bila tersenyum lebar. Sayangnya senyumanku tak pernah aku tunjukkan pada siapa pun itu. Terkecuali pada seseorang yang dulu pernah aku rindukan. *** "Woy, ngapain kamu duduk di sini?" tanya Alinea, teman sekelasku dengan nada ketus. Jujur saja aku tidak mempunyai teman di kelas. Meski aku murid baru pindahan, akan tetapi, aku tetap tidak juga mempunyai teman. Baru dua bulan aku pindah sekolah di Sekolah Bina Nusantara. Sekolah internasional dengan kualitas pembelajarannya yang berkompeten. Sengaja aku dipindahkan di sekolah itu, karena di harapkan nantinya diriku bisa bersosialisasi. "Maaf," ucapku lirih. Dengan wajah tertunduk menahan sedih. Alinea yang mendengarnya menjadi risih. Soalnya, diriku hampir saja berucap pelan dan tidak terdengar oleh siapa pun. "Bisa enggak, sih, kamu bicaranya keras sedikit? Jangan seperti orang ngedumel gitu!" ketus Alinea. Aku semakin tertunduk, dengan pelan aku mengangguk. Lalu berpindah tempat duduk. Saat aku hendak duduk di kursi ketiga, lagi-lagi aku diusir oleh temanku yang bernama Milia. "Heh, ini bangku aku. Tempat duduk kamu di bangku paling ujung, noh, di situ!" hardik Milia. Lagi, aku harus menelan pil pahit kehidupan. Rasanya aku tidak ingin berada lama di sekolah baruku ini. Ketika aku hendak melangkah menuju bangku terujung di kelas, sepasang kaki terjulur cepat hingga membuat diriku terjatuh terjerembab di lantai sekolah. Rasa sakit menjalar di tubuhku saat ini. Bukan hanya sakit, tetapi, rasa malu pun bercampur aduk menjadi satu. Jika aku mau, aku bisa membalas perbuatan mereka. Akan tetapi, aku hanyalah murid baru di sini. Maka lebih baik aku urungkan niatku. "Pegang tanganku!" Seorang laki-laki muda, bertubuh kekar tengah berdiri di hadapannya. Mengulurkan tangan kanannya, berharap aku menyambut uluran tangan laki-laki itu. Aku menatap wajah laki-laki itu. Satu detik, dua detik, tiga detik, aku masih memandangnya. "Woy, mau dibantu berdiri enggak, sih?" sergah laki-laki itu lagi. Dengan kesal dia langsung meraih tanganku, menariknya untuk berdiri. "Lain kali kalau ke sekolah bawa anjing herder, ya? Di sini banyak maling teriak malingnya," bisik laki-laki itu. Sambil melirik ke arah Alinea dan Milia. Yang di lirik merasa tersinggung, lalu mereka mengumpat bersama-sama, "Alvian ...!" ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN