Perbedaan Kasta.

575 Kata
Aku yakin, Tuhan membuatkan garis takdir seperti ini bukan tanpa alasan. Sehingga aku merasa dikucilkan dari awal menjadi bagian anggota keluarga 'Dias'. Bahkan adik angkatku pun menggaris kastakan aku. Katanya aku ini anak pungut yang diadopsi oleh orangtuanya untuk dijadikan babu oleh mereka. Maka dari itu, aku tidak satu level dengannya. Dialah Rea Anastasya yang sudah lahir saat aku diadopsi oleh kedua orangtua kandungnya. Ketika itu, ia sendiri berusia delapan tahun. Dan belum mengerti apa itu anak adopsi. Usia kami terpaut hanya dua tahun. Waktu itu aku sangat bahagia saat Rea menjadi adik angkatku. "Ibu enggak sayang sama Rea! Ibu lebih sayang Ka Jingga dari pada denganku anak kandung ibu!" sungut Rea saat itu. Di mana itulah awal ia memberi batasan kasta padaku. "Ibu sayang kalian berdua, Nak. Ibu tidak membedakan siapa pun. Baik kakakmu, Jingga dan anak kandung ibu yaitu kamu, Rea." Ibu yang kala itu terlihat sendu, tengah merayu anak semata wayangnya yang merajuk karena melihat kedekatanku yang hangat dengan ibu. "Dia, 'kan, cuma anak pungut, Bu. Anak adopsi dari panti asuhan. Ngapain coba ibu membela dia terus!" ketusnya. Inilah awal keretakan yang terjadi antara aku dan Rea.. "Hei, jaga ucapan kamu, Rea! Ibu tidak pernah mengajarkan kamu untuk tidak sopan kepada orang yang lebih tua. Dia kakakmu, meski ia kakak angkat, kamu harus menghormatinya!" ucap ibu bernada tegas. Aku hanya tertunduk menahan air mata kesedihan dalam hati. "Bodo amat! Mulai hari ini, aku anggap dia bukan kakakku, kok, Bu." Mendengar ucapan Rea, ibu menjadi geram. Dan akhirnya, satu tamparan tepat mengenai sasaran empuk di mana dia mendarat tepat di pipi kanan Rea. Rea mendapati pipinya yang perih akibat tamparan dari tangan ibunya. Apa yang terjadi pada ibu? Ia langsung terkejut saat tangan lembutnya itu telah menampar wajah anak semata wayangnya. "Ibu!" pekikku, menahan amarah ibu. Memeluk ibu dengan air mata bercucuran. "Sekarang terlihat jelas bukan? Antara anak kandung dan anak pungut, siapa yang masih di beri kasih sayang? Aku benci ibu! Untuk kamu, Jingga--." Rea menatap tajam diriku. Aku mencoba memahami sifat barunya. Entah setan apa yang mencoba mempengaruhi hatinya sehingga bersikap kurang ajar begini. "Kamu itu harusnya tahu diri! Kamu hanya anak pungut. Harusnya setelah kamu dewasa, kamu bisa angkat kaki dari sini! Rumah ini sudah tidak cukup lagi menampung orang asing!" Sambungnya kemudian. Dengan tangan yang terlipat di d**a. "Rea, cukup! Kamu mulai tidak sopan!" bentak Ibu. Kulihat amarah dan kesedihannya bercampur jadi satu. Rea tidak dapat berkata apa-apa lagi setelah itu. Ia lalu pergi meninggalkan aku dan ibunya yang duduk di ruang keluarga dengan linangan air mata. "Ibu harap kamu tidak membenci adikmu ya, Jingga," pinta ibu. Aku hanya menjadi pendengar setianya. "Kamu anak yang berbakti, Nak. Kamu selalu bersikap rendah hati. Tak pernah berbangga diri, meski kamu anak yang cerdas dan juga gadis yang paling cantik," ucap ibu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ia membelai kedua pipiku, lalu tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumnya. "Jingga hanya ingat satu pesan ibu panti, Bu. Pesannya begini, 'Jika kamu sudah tidak lagi tinggal di panti, ibu harap kamu terus menjadi orang yang rendah hati, ya? Jangan sombong apa lagi congkak. Ibu yakin di sana nanti kamu akan bahagia'. Begitu, Bu," ujarku menjelaskan pada Ibu. Tahu apa yang dilakukan ibu? Ia makin tersenyum manis, lalu mendekapku erat. "Ibu makin sayang sama kamu, Jingga." Itulah kata-kata penyemangat untukku. Aku juga makin sayang sama ibu angkatku. Terima kasih bu, engkau telah merawatku dan menerimaku layaknya sebagai anak kandung, bukan anak adopsi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN