Prolog.

276 Kata
Aku Jingga, kata orang aku ini anak yang cerdas. Anak yang berbakat dan mempunyai segudang talenta. Entah apa yang dilihat oleh kacamata mereka. Dari sisi baik mana aku ini anak yang super seperti itu? Aku Jingga, aku diasuh serta dibesarkan oleh orangtua angkat yang mengadopsiku sejak aku berusia sepuluh tahun. Dengan kata lain, aku ini anak yatim piatu. Sengaja dititipkan karena memang aku tidak punya orangtua asuh. Paman dan bibiku pun tak sanggup untuk merawat dan membiayai kebutuhanku. Aku tahu rasanya jadi anak adopsi itu berat loh. Perjuangan meniti hidup harus benar-benar berhati baja. Karena, nanti status sosialitas diriku dipertanyakan. Terlebih lagi jika mereka orangtua angkatku itu orang berada. Aku pergi dari panti asuhan 'Ibu Pertiwi' dengan membawa sebuah luka kesedihan. Dari sanalah aku belajar mengenal diriku, mengenal teman-temanku dan mengenal takdirku. Hingga ada salah satu dari temanku, bernama Rengganis bersedih. Dia tidak rela jika aku pergi. "Kenapa harus pergi, sih?" sungut Rengganis kala senja itu, di jembatan senja. Mengurung kedua netra indahnya. "Maaf, aku harus pergi," ucapku lirih. Tertunduk ke tanah berumput. "Bisakah kita berjumpa lagi, Jingga?" tanyanya kemudian. "Hem, tentu saja bisa. Aku yakin, kita akan bertemu kembali. Jika aku lupa akan dirimu, ingatkan aku ya?" sahutku dengan semangat. Kuseka cepat air mataku. "Yakin? Jika aku yang lupa, bagaimana?" tanyanya lagi. Menatap awan yang berubah menjadi jingga, sejingga hati kami berdua. "Aku yang akan mengetuk pintu hati kamu," jawabku bulat. Mengulum senyum. "Dengan apa?" tanyanya lagi, berapi-api. "Dengan cinta. C-I-N-T-A." Hari itu hari terakhir perpisahanku dengan Rengganis. Seorang teman berjenis kelamin laki-laki. Yang aku ingat adalah, warna bola mata Rengganis berwarna 'jingga', sesuai dengan namaku, Jingga. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN