Senja di sore ini begitu pekat. Warna jingga keemasan. Ditambah dengan warna langit yang berubah menjadi warna hitam pertanda malam akan tiba. Aku dan Romi pulang dengan membawa perasaan hati yang berkecamuk dalam hati masing-masing. Aku yang memikirkan sosok Rengganis yang berubah wujud menjadi sosok Alvian Gunawan. Sedangkan Romi, entah apa yang ia pikirkan saat ini.
Tak ada ucapan satu kata pun keluar dari bibir kami berdua. Hening menerjang pekatnya senja yang berubah menjadi malam yang gelap. Hanya sorot lampu sepeda motor milik Romi yang mampu menyinari gelapnya malam.
Setibanya di rumahku, Romi menghentikan laju kendaraannya tepat di gerbang rumah. Aku pun turun dari motor milik Romi yang aku tumpangi.
Aku mendekati Romi. Menyerahkan helmet yang kupakai kepada Romi ketika melakukan perjalanan mencari alamat Rengganis.
"Terima kasih, ya? Kamu sudah mau mengantarkan aku mencari rumah sahabatku, Rengganis," ucapku dengan nada lembut. Aku tidak menyangka Romi begitu baik. Hanya saja sikapnya itu rada menyebalkan sekali buatku.
"Sama-sama. Besok kita tanyakan langsung sama Pak Adi. Apakah benar Alvian itu teman masa kecilmu," jawabnya. Sambil menerima helmet dariku.
Aku mengangguk pelan. Kemudian tersenyum padanya. Ia pun membalas senyumanku. Aku tidak menyangka jika senyumannya itu manis sekali.
"Oh iya, Rengganis itu teman masa kecil kamu, kan? Waktu kalian tinggal di mana?" tanya Alvian.
Aku tertegun. Tidak bisa menjawab pertanyaannya. Yang Romi tahu aku ini anak kandung dari keluarga Dias. Aku tidak bisa mengatakan hal ini kepadanya. Terlebih lagi jika memang Alvian adalah Rengganis. Maka tidak salah lagi, mungkin ia tidak mengenaliku karena hilang ingatan. Persis yang dikatakan ibu panti.
"Rengganis kecelakaan dan ia hilang ingatan." begitulah yang aku ingat perkataan dari ibu panti.
"Kamu tidak perlu tahu itu, Rom. Biarlah ini menjadi rahasia kami," jawabku lugas, "Aku pamit dulu ya, Rom? Aku capek, ingin beristirahat. Oh iya, sekali lagi aku ucapkan terima kasih banyak ya? Kamu sudah mau membantu aku mencari alamat rumah temanku. Kamu ternyata pria yang baik."
Setelah aku berpamitan, aku pun langsung memasuki rumah keluarga Dias. Dari kejauhan Romi hanya bisa memandangku. Saat ini hatinya bimbang ditambah lagi jika mengingat Alvian adalah teman masa kecilku. Pupus sudah harapan Romi untuk bisa meraih hatiku lalu menyandingkan hatinya dengan hatiku.
"Semoga ada keajaiban cinta dari Tuhan untukku," ucapnya lirih, kemudian pergi menjauh dari rumah mewah yang kutinggali bersama Ayah Dias, ibu Mira dan juga Rea Anastasya.
***
Kenyataan pahit yang aku alami ini membuatku berpikir panjang. Aku tidak akan mungkin mencintai seseorang yang telah dicintai oleh sahabatku sendiri. Meski pria itu adalah teman dekatku di masa kecil. Jika aku berani mencintai Alvian, itu artinya aku harus berani mengambil resiko dihujat satu sekolah. Akibatnya kejadian di tiga sekolahku yang dulu terulang lagi. Aku tidak mau itu terjadi.
"Gimana, sudah ketemu alamatnya?" Ayah Dias menyapaku saat aku sedang menyendiri di kolam renang. Sambil menatap jernihnya langit gelap bertabur bintang malam ini.
"Sudah, Pah. Tapi," jawabku. Tidak aku lanjutkan kata-kataku. Sungguh ini kesesakkan yang hakiki untukku.
"Tapi, apa?" tanya Ayah Dias. Ia lalu duduk di kursi yang berada di sampingku.
"Temanku itu sudah pindah alamat, Pah. Aku tidak tahu lagi di mana ia sekarang," desahku. Dengan kesedihan yang mendalam.
"Ya, sudah enggak apa-apa. Berarti ia bukan jodoh yang Tuhan kirimkan untuk anak papa yang cantik ini," sahutnya sambil menggodaku.
"Jingga yakin, loh, Pah. Rengganis itu adalah jodoh yang Tuhan takdirkan hanya untuk Jingga. Tapi, akan ada rintangan yang menghadang di depan," belaku.
"Sabar. Jika memang ia jodoh yang Tuhan takdirkan untuk kamu, berdoalah terus pada-Nya. Suatu saat Tuhan mengabulkan doamu," ucap Pak Dias. Ia memberikan nasihat yang baik untukku.
Aku terharu saat mendengar nasihat dari ayah. Begitu sayangnya ia padaku. Pantas saja Rea membenci diriku. Rupanya Ayah Dias amat sayang padaku.
"Terima kasih, Pah. Aku akan mengingat semua nasehatmu," gumamku.
Pak Dias, ayah angkatku tersenyum bahagia mendengar perkataanku. Ia tersenyum sambil membelai lembut pucuk rambutku. Lalu di tengah keheningan malam, kami berusaha menikmati indahnya langit di atas sana. Ditambah dengan perasaan masing-masing yang melalang-buana ke negeri antah berantah.
***