Perjalanan panjang ini aku tempuh dengan mengendarai motor milik Romi. Motor besar yang terkenal di jamannya. Dengan berbekal sebuah alamat, aku berharap bisa bertemu dengan sahabatku.
"Di mana alamatnya?" tanya Romi, berteriak dengan kencang karena sedang mengendarai motornya.
"Di Kota Sukabumi, Rom. Tepatnya di daerah parung kuda," balasku dengan berteriak juga.
Romi mengangguk. Mungkin ia hapal daerah parung kuda. Maklum, Romi ini anak buah geng motor. Jadi, ia hapal betul seluk-beluk kota Sukabumi. Sempat turing ke pelabuhan ratu soalnya.
Setelah menempuh jarak bermil-mil kilometer. Akhirnya, kami sampai juga di daerah parung kuda. Aku pun segera menanyakan alamat rumah yang tertulis di secarik kertas kepada warga yang kebetulan lewat di jalan.
Aku dan Romi segera mencari rumah yang diinformasikan oleh salah satu warga yang kebetulan tahu di mana tempatnya.
"Dari sini lurus, terus belok kiri. Di perempatan jalan belok kanan. Rumahnya masuk gang kecil. Cukuplah buat motor sebesar ini masuk. Ingat rumah bercat hijau muda, itu rumahnya."
Romi mengingat-ingat arahan dari warga. Ia lajukan motornya mengarah pada tujuan alamat yang di arahkan tadi. Ia harus fokus pada arah jalan. Belok kiri, belok kanan, lalu masuk gang kecil. Hem, mudah sekali.
Setelah lima belas menit melakukan pencarian. Sampailah kami di depan rumah bercat hijau muda. Sebuah rumah klasik dengan gerbang yang tidak terlalu menjulang tinggi. Di mana di halaman rumahnya terdapat hamparan bunga-bunga yang cantik sekali. Ada bunga mawar merah, bunga anggrek, bunga dahlia, bunga melati putih pun ada. Membuat mata ini teduh saat melihatnya.
Bahagia rasanya hatiku bisa bertemu lagi dengan Rengganis. Rasanya delapan tahun berpisah darinya, membuat hati ini berdegup kencang. Membayangkan sosok Rengganis yang berubah dewasa dan tampan.
"Permisi, apakah ada orang di dalam?" sapaku di gerbang rumah milik Rengganis. Tak lama kemudian, keluarlah seseorang wanita yang usianya sudah tua. Mungkin ini ibu angkatnya Rengganis.
"Maaf ya, kalian siapa?" tanya wanita paruh baya itu. Sikapnya sungguh ramah sekali. Dia juga tidak sombong.
"Maaf, Bu. Saya mau bertemu sama Rengganis. Rengganisnya ada?" jawabku kemudian bertanya.
"Rengganis? Siapa Rengganis? Di sini tidak ada yang namanya Rengganis," ujarnya bingung.
Aku pun sama bingungnya dengan wanita itu. Tidak mungkin aku salah alamat. Jelas-jelas alamat yang ditulis ibu panti ini benar.
"Maaf Bu, apakah ini rumah bapak Adi Gunawan?" tanyaku lagi seramah mungkin.
"Bukan. Ini rumah milik suami saya yang dibelinya delapan tahun lalu dari penjual rumah," jawabnya.
"Mungkin dulunya rumah ini milik Pak Adi Gunawan. Saya tidak hapal pemiliknya. Kebetulan ini rumah kami beli lewat perantara. Kalau tidak salah namanya Pak Wawan. Rumahnya di ujung jalan gang bercat warna biru muda." lanjutnya lagi sambil menjelaskan.
Sungguh kecewa hatiku ketika mendengar Rengganis dan keluarganya pindah. Hancur sudah harapanku untuk bertemu dengan sahabatku.
"Terima kasih Bu, sudah memberitahu secara detail pada kami. Maaf karena saya sudah bertandang ke rumah ibu. Kalau begitu, saya pamit dulu ya, Bu," pamitku seraya mengangkat tangan lalu bersalaman dengan wanita paruh baya itu. Kemudian menghampiri Romi.
"Kenapa? Alamatnya salah?" tanya Romi begitu ia melihat kekecewaan dari raut wajahku.
"Hem," jawabku singkat.
"Coba sini aku lihat alamatnya!" Romi menarik secarik kertas yang aku sodorkan padanya. Ia pun membacanya.
Keningnya berkerut setelah membaca alamat yang ditulis ibu panti. Di sana tertulis jelas pemilik dari alamat tersebut. Pak Adi Gunawan itu bukannya kepala sekolah Bina Nusantara? Sedangkan alamat rumahnya saja berada di Kota Cianjur. Di perumahan Kota Baru di kecamatan Cilaku. Saking terkejutnya, ia tak sadar menutup mulutnya dengan tangan kirinya.
"Kamu kenapa, Rom?" tanyaku menyelidik. Melihat raut wajah Romi yang seperti itu, kuyakin ini ada yang tidak beres.
"Kamu yakin nama pemilik rumah ini bernama Pak Adi Gunawan?" tanyanya tak percaya.
Aku mengangguk pelan. Menatap perubahan Romi yang terlihat kisut seperti itu.
"Siapa nama temanmu yang mau kamu temui?" tanyanya lagi.
"Rengganis." singkat padat dan jelas aku menjawab pertanyaan Romi
"Rengganis itu laki-laki atau perempuan? Karena setahu aku, pak Adi Gunawan enggak punya anak perempuan yang usianya sama seperti kamu. Kecuali ...." Romi menjeda ucapannya itu. Ia menarik napasnya lalu menghembuskan dengan kasar.
"Kecuali apa, Romi?" tanyaku penasaran. Kali ini aku yang penasaran bukan Romi.
"Kecuali ada satu anaknya yang usianya sama dengan kamu. Dia adalah Alvian Gunawan." Bak petir di siang bolong. Aku benar-benar terkejut mendengar penuturan Romi. Jika memang Romi mengenal sosok Pak Adi Gunawan, berarti ia pun tidak akan salah mengenal Rengganis. Jika memang betul Alvian itu adalah Rengganis. Maka pertama kali yang aku lakukan adalah mencari tahu kebenarannya. Dengan cara berbicara langsung dengan Pak Adi Gunawan. Kepala sekolah di sekolahku menuntut ilmu.
Bagaimana dengan Romi? Ia begitu sangat terkejut dengan kenyataan ini. Tentunya ia harus bersaing dengan Alvin yang notabenenya aku pasti lebih memilih Alvian dibandingkan dengan dirinya. Malang benar nasibmu, Romi.
***