Tangisan yang mengerang dari lubuk hati paling dalam menggema di sebuah ruangan seluas 20 meter persegi ini. Perempuan itu melenguh pilu sembari memegang dadanya yang masih sangat amat sakit ini. Meski ini sudah berlangsung sehari kemudian. Dia juga melewati malam penuh air mata. “Nenek … aku mau pulang saja. Aku ingin pulang,” rengek Gisel dengan kepalanya yang bersandar di paha Rose. Matanya sudah sangat sembab menahan rasa pahit cinta ini. Rose mengelus rambut Gisel. Rasanya sangat sedih juga melihat Gisel seperti ini. Berkali-kali ia membujuk Gisel agar menunggu kabar Luke dan agar tidak pulang ke Indonesia. “Nggak mau, Neeek. Gisel mau pulang aja,” ucapnya lagi dengan yakin. Mengelus pipinya sendiri akibat tangisan. Dia menegakkan badannya sambil bicara. “Aku mau pulang.” Kalimat

