REGAN memasuki area sekolah dengan wajah datar seperti biasa, tapi terlihat berbeda karena seperti sedang marah. Tanpa menoleh kanan kiri ia terus berjalan melewati semua siswa yang ada di sana. Langkah kakinya berhenti di kelas Aquila. “Kenapa berangkat sekolah dulu? “ tanya Regan dingin. Aquila tak berani menjawab, ia takut dengan Regan yang terlihat marah karena ulahnya. Ia juga takut dengan beberapa siswi yang sangat terobsesi dengan Regan selama ini. Aquila yakin pasti nanti ia akan mendapat perundungan lagi karena berdekatan dengan Regan. “Jawab gue, kenapa nggak nungguin gue jemput? Pokoknya entar pulang sekolah lo ikut gue,” tegas Regan. Aquila seketika menunduk kembali saat merasa siraman jus mengenai wajah dan seragamnya. Regan yang melihat itu terkejut karena kejadiannya ter

