Senja turun pelan di langit Jakarta. Awan jingga menggantung di atas gedung-gedung tinggi yang berjejer, seolah menyaksikan pertemuan dua orang yang tak sengaja dipertemukan kembali oleh waktu.
Indah baru saja keluar dari ruang presentasi kantornya. Kakinya pegal, pikirannya penat. Klien hari ini terlalu banyak bertanya dan sedikit menghargai kerja keras timnya. Dia ingin segera pulang, melepas high heels, dan menenggelamkan diri di playlist galau Spotify-nya.
Namun langkahnya terhenti begitu saja di lobi.
Di antara deretan orang yang berlalu-lalang, ia melihat seseorang. Seseorang yang terlalu akrab, tapi juga terlalu asing setelah bertahun-tahun.
"Iqbal?"
Dia mengucapkannya nyaris tanpa sadar, pelan, nyaris seperti gumaman. Tapi pria itu mendengar. Kepalanya berputar pelan, matanya mengunci tatapan.
Tatapan itu. Tatapan yang dulu pernah jadi tempat pulangnya saat dunia terasa sempit.
Iqbal berdiri tegak di depan mesin kopi kantor. Kemeja putihnya digulung rapi sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan, tapi tidak kehilangan wibawa. Ada senyum kecil di sudut bibirnya, seperti tak yakin harus senang atau bingung.
"Indah..." ucapnya. Nama itu seolah terlepas dari mulutnya dengan hati-hati, seolah takut jika terlalu keras, kenyataan akan pecah.
Beberapa detik hening. Tidak ada pelukan. Tidak ada tawa atau kehangatan. Hanya jeda. Hanya diam dan sejuta pertanyaan.
"Kamu kerja di sini?" tanya Indah lebih dulu, berusaha menguasai detak jantungnya yang tak karuan.
Iqbal mengangguk, lalu berkata pelan, “Baru seminggu. Gabung di divisi hukum perusahaan.”
Indah tertawa kecil, getir. “Dunia ini sempit banget, ya?”
Iqbal menatapnya dalam. “Atau semesta memang punya cara sendiri buat main-main dengan kita.”
Keduanya terdiam. Dulu mereka pernah saling cinta. Tapi cinta itu tidak selesai, hanya menggantung seperti film tanpa ending. Dulu, saat kuliah, mereka dekat. Terlalu dekat untuk disebut teman, tapi tak pernah cukup berani untuk menjadi lebih dari itu.
Sampai akhirnya waktu memisahkan mereka tanpa permisi.
“Kamu berubah,” ujar Indah pelan.
Iqbal mengangkat alis. “Kamu juga. Tapi mata kamu masih sama. Tetap sulit ditebak.”
Kalimat itu menghantam d**a Indah. Dulu, hanya Iqbal yang bisa membaca dirinya tanpa banyak bicara.
“Sibuk?” tanya Iqbal, mencoba memecah suasana.
“Lumayan,” jawab Indah. “Tapi kalau kamu ngajak ngobrol sekarang, aku bisa luangin lima menit.”
Iqbal tersenyum. “Dulu kamu yang sering ngatur waktu aku.”
Indah menyeringai. “Dulu kamu yang selalu ngalah.”
“Dan kamu yang selalu pergi saat aku mulai nyaman,” jawab Iqbal, tenang, tapi kalimat itu seperti belati yang disisipkan lembut.
Indah menunduk. Tak bisa menyangkal itu.
Lalu Iqbal berkata, “Mungkin kita nggak pernah benar-benar selesai.”
Indah mengangkat kepala, menatap pria itu dalam-dalam. Tatapan yang pernah membuatnya ingin tinggal. Tapi juga tatapan yang dulu ia tinggalkan karena takut, karena belum siap.
“Mungkin,” jawabnya. “Tapi sekarang aku bukan aku yang dulu.”
Iqbal tersenyum tipis. “Dan aku pun sudah terlalu banyak berubah untuk kembali ke versi lama.”
Lalu, tanpa mereka sadari, waktu lima menit itu habis. Tapi perasaan-perasaan lama yang terkubur bertahun-tahun, kini menggeliat lagi, pelan-pelan, tidak terburu-buru.
Sebelum berbalik pergi, Iqbal berkata, “Senja belum tentu selalu berakhir gelap, kan?”
Indah mengangguk pelan. “Tapi tetap butuh nyali untuk menunggu pagi.”
Mereka berpisah tanpa janji. Tanpa kepastian. Tapi hati masing-masing tahu, sesuatu baru saja dimulai lagi.
Sesuatu yang belum selesai.