bc

Langit Tak pernah Menolak Rindu

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
family
HE
second chance
friends to lovers
kickass heroine
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
campus
city
childhood crush
love at the first sight
like
intro-logo
Uraian

Langit Tak Pernah Menolak Rindu adalah kisah tentang dua jiwa yang bertemu di tengah hujan, di sebuah kota yang tenang bernama Langkasari.Iqbal, mahasiswa arsitektur yang kaku dan tertutup, percaya bahwa cinta hanyalah gangguan dalam hidup yang penuh rencana. Sementara Indah, mahasiswi sastra yang spontan dan ceria, memandang cinta sebagai puisi yang tak perlu dijelaskan—cukup dirasa.Pertemuan mereka di sebuah halte saat hujan turun menjadi awal dari perjalanan yang tak mereka duga. Dari percakapan kecil, lahir rasa yang perlahan tumbuh. Tapi masa lalu, perbedaan impian, dan ketakutan akan kehilangan membuat hubungan mereka tak pernah mudah.Ini bukan kisah cinta yang melulu manis. Tapi tentang keberanian membuka hati. Tentang menunggu, melepaskan, dan memilih untuk tinggal—meski langit seringkali mendung.Karena pada akhirnya, langit memang tak pernah menolak rindu. Ia hanya menurunkannya perlahan, dalam bentuk hujan.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1: Halte dan Hujan Pertama
Langit Kota Langkasari sore itu berwarna kelabu. Awan menggantung berat, seperti menahan tangis yang tak lama lagi akan pecah. Iqbal berdiri di bawah atap halte kampus, menatap jalanan basah yang baru saja diguyur gerimis. Tangannya menggenggam sketchbook kumal, penuh coretan desain bangunan yang belum selesai. Hari itu seharusnya ia pulang lebih awal, tapi dosennya mendadak meminta revisi. Ia menarik napas panjang. Hujan memang selalu datang di waktu yang tidak bisa ditebak. Seperti kenangan. "Maaf, masih kosong, kan?" suara lembut menyentak lamunannya. Iqbal menoleh cepat. Seorang gadis berambut sebahu berdiri di sampingnya. Hujan menetes di ujung poninya. Ia tersenyum, sederhana, tapi cukup hangat untuk mengusir dingin. "Silakan," jawab Iqbal singkat, bergeser sedikit memberi ruang. Gadis itu duduk di bangku halte, membuka novel dari tasnya yang sedikit basah. Sampulnya menunjukkan judul yang familiar bagi Iqbal: Perempuan yang Menyimpan Hujan. Lucu. Gadis itu membaca tentang hujan, saat hujan sendiri sedang jatuh di luar sana. Iqbal melirik sekali lagi. Dia tampak begitu tenang. Matanya bergerak mengikuti baris demi baris, sesekali tersenyum sendiri. Sesuatu tentangnya terasa... kontras dengan dirinya. Hangat di tengah udara yang basah dan dingin. “Kalau hujan terus begini, bisa-bisa nunggu sampai malam,” gumam gadis itu, tanpa menoleh. Iqbal tak langsung menjawab. "Kadang, hujan memang datang biar kita berhenti sebentar," katanya, pelan. Gadis itu menoleh. Matanya membulat sedikit, seolah tidak menyangka ada jawaban filosofis dari seseorang yang tadi hanya menjawab satu kata. "Indah," katanya, menyodorkan tangan sambil tersenyum. "Indah Permata Sari." Iqbal menatap tangan itu sejenak, lalu menjabat perlahan. Tangannya dingin, tapi genggamannya hangat. "Iqbal." “Nama kamu kayak orang yang suka mikir berat, ya.” Iqbal mengangkat alis. “Emang kedengeran berat?” “Bukan. Lebih ke... dalam. Iqbal. Kayak orang yang lebih suka diam daripada ngomong, tapi sekali ngomong, bikin mikir semalaman.” Iqbal mengerjap. Jarang ada orang yang bisa menebaknya secepat itu. Biasanya, orang mengira dia dingin atau sombong. Tapi gadis ini… beda. Mereka terdiam sejenak. Hujan di luar semakin deras. Mobil-mobil melintas perlahan, menyisakan percikan air yang mengenai sepatu mereka. “Kadang, aku nunggu hujan kayak gini,” ucap Indah tiba-tiba. “Soalnya, waktu hujan, orang-orang berhenti buru-buru. Mereka duduk, nunggu, dan... bisa ketemu orang asing yang tiba-tiba bikin sore lebih hangat.” Iqbal menatapnya. “Kamu sering ngobrol sama orang asing di halte?” “Enggak. Baru kali ini.” Iqbal tidak tahu harus membalas apa. Tapi untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa nyaman di dekat seseorang yang baru dikenal. Dan saat itulah, ia menyadari sesuatu. Barangkali, hujan memang sengaja turun agar ia bisa bertemu Indah.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook