Bab 1: Halte dan Hujan Pertama
Langit Kota Langkasari sore itu berwarna kelabu. Awan menggantung berat, seperti menahan tangis yang tak lama lagi akan pecah. Iqbal berdiri di bawah atap halte kampus, menatap jalanan basah yang baru saja diguyur gerimis.
Tangannya menggenggam sketchbook kumal, penuh coretan desain bangunan yang belum selesai. Hari itu seharusnya ia pulang lebih awal, tapi dosennya mendadak meminta revisi.
Ia menarik napas panjang. Hujan memang selalu datang di waktu yang tidak bisa ditebak. Seperti kenangan.
"Maaf, masih kosong, kan?" suara lembut menyentak lamunannya.
Iqbal menoleh cepat. Seorang gadis berambut sebahu berdiri di sampingnya. Hujan menetes di ujung poninya. Ia tersenyum, sederhana, tapi cukup hangat untuk mengusir dingin.
"Silakan," jawab Iqbal singkat, bergeser sedikit memberi ruang.
Gadis itu duduk di bangku halte, membuka novel dari tasnya yang sedikit basah. Sampulnya menunjukkan judul yang familiar bagi Iqbal: Perempuan yang Menyimpan Hujan.
Lucu. Gadis itu membaca tentang hujan, saat hujan sendiri sedang jatuh di luar sana.
Iqbal melirik sekali lagi. Dia tampak begitu tenang. Matanya bergerak mengikuti baris demi baris, sesekali tersenyum sendiri. Sesuatu tentangnya terasa... kontras dengan dirinya. Hangat di tengah udara yang basah dan dingin.
“Kalau hujan terus begini, bisa-bisa nunggu sampai malam,” gumam gadis itu, tanpa menoleh.
Iqbal tak langsung menjawab.
"Kadang, hujan memang datang biar kita berhenti sebentar," katanya, pelan.
Gadis itu menoleh. Matanya membulat sedikit, seolah tidak menyangka ada jawaban filosofis dari seseorang yang tadi hanya menjawab satu kata.
"Indah," katanya, menyodorkan tangan sambil tersenyum. "Indah Permata Sari."
Iqbal menatap tangan itu sejenak, lalu menjabat perlahan. Tangannya dingin, tapi genggamannya hangat.
"Iqbal."
“Nama kamu kayak orang yang suka mikir berat, ya.”
Iqbal mengangkat alis. “Emang kedengeran berat?”
“Bukan. Lebih ke... dalam. Iqbal. Kayak orang yang lebih suka diam daripada ngomong, tapi sekali ngomong, bikin mikir semalaman.”
Iqbal mengerjap. Jarang ada orang yang bisa menebaknya secepat itu. Biasanya, orang mengira dia dingin atau sombong. Tapi gadis ini… beda.
Mereka terdiam sejenak. Hujan di luar semakin deras. Mobil-mobil melintas perlahan, menyisakan percikan air yang mengenai sepatu mereka.
“Kadang, aku nunggu hujan kayak gini,” ucap Indah tiba-tiba. “Soalnya, waktu hujan, orang-orang berhenti buru-buru. Mereka duduk, nunggu, dan... bisa ketemu orang asing yang tiba-tiba bikin sore lebih hangat.”
Iqbal menatapnya. “Kamu sering ngobrol sama orang asing di halte?”
“Enggak. Baru kali ini.”
Iqbal tidak tahu harus membalas apa. Tapi untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa nyaman di dekat seseorang yang baru dikenal.
Dan saat itulah, ia menyadari sesuatu.
Barangkali, hujan memang sengaja turun agar ia bisa bertemu Indah.