Cerita Oleh Levi Beethoven
author-avatar

Levi Beethoven

bc
Langit Tak pernah Menolak Rindu
Diperbarui pada Jun 14, 2025, 04:17
Langit Tak Pernah Menolak Rindu adalah kisah tentang dua jiwa yang bertemu di tengah hujan, di sebuah kota yang tenang bernama Langkasari.Iqbal, mahasiswa arsitektur yang kaku dan tertutup, percaya bahwa cinta hanyalah gangguan dalam hidup yang penuh rencana. Sementara Indah, mahasiswi sastra yang spontan dan ceria, memandang cinta sebagai puisi yang tak perlu dijelaskan—cukup dirasa.Pertemuan mereka di sebuah halte saat hujan turun menjadi awal dari perjalanan yang tak mereka duga. Dari percakapan kecil, lahir rasa yang perlahan tumbuh. Tapi masa lalu, perbedaan impian, dan ketakutan akan kehilangan membuat hubungan mereka tak pernah mudah.Ini bukan kisah cinta yang melulu manis. Tapi tentang keberanian membuka hati. Tentang menunggu, melepaskan, dan memilih untuk tinggal—meski langit seringkali mendung.Karena pada akhirnya, langit memang tak pernah menolak rindu. Ia hanya menurunkannya perlahan, dalam bentuk hujan.
like
bc
Hujan Setelah Kata Maaf
Diperbarui pada Jun 13, 2025, 11:55
Bab 1: Hujan di Hari Pertama Langit kota tampak kelabu pagi itu. Awan tebal menggantung rendah, dan hujan turun deras, menghantam atap dan jalanan dengan ritme yang konstan. Di depan gerbang SMA Harapan, Destia berdiri sambil memeluk tasnya erat. Rambutnya sedikit basah, meski sudah berusaha berlindung di bawah payung kecil berwarna biru muda. Hari pertamanya sebagai murid pindahan dimulai dengan basah kuyup dan gugup. Sambil menatap ke arah sekolah, matanya menangkap sosok cowok berseragam sama berjalan tenang melewati gerbang—tanpa payung, tanpa mantel. Hujan seolah tak memedulikannya. Cowok itu berjalan lurus, menatap ke depan tanpa menoleh ke siapa pun. Wajahnya datar, dingin, tapi ada sesuatu di matanya yang membuat Destia tak bisa berpaling. “Levi,” gumam seorang siswa di sebelahnya yang juga sedang berteduh. “Anak paling susah didekati di sekolah ini.” Nama itu langsung menancap di benaknya. Levi. Di dalam kelas, nasib mempertemukan mereka lagi. Karena tak ada bangku kosong, guru menyuruh Destia duduk di sebelah Levi. Destia menyapanya pelan. “Hai… aku Destia. Murid baru.” Levi menoleh sejenak, mengangguk sekali, lalu kembali fokus pada bukunya. Tidak ada senyum, tidak ada balasan sapaan. Hanya dingin yang tertinggal. Destia tersenyum kikuk. "Yah, mungkin dia cuma butuh waktu."
like