bc

Hujan Setelah Kata Maaf

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
family
arrogant
kickass heroine
single mother
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
city
highschool
small town
childhood crush
enimies to lovers
like
intro-logo
Uraian

Bab 1: Hujan di Hari Pertama

Langit kota tampak kelabu pagi itu. Awan tebal menggantung rendah, dan hujan turun deras, menghantam atap dan jalanan dengan ritme yang konstan. Di depan gerbang SMA Harapan, Destia berdiri sambil memeluk tasnya erat. Rambutnya sedikit basah, meski sudah berusaha berlindung di bawah payung kecil berwarna biru muda.

Hari pertamanya sebagai murid pindahan dimulai dengan basah kuyup dan gugup.

Sambil menatap ke arah sekolah, matanya menangkap sosok cowok berseragam sama berjalan tenang melewati gerbang—tanpa payung, tanpa mantel. Hujan seolah tak memedulikannya. Cowok itu berjalan lurus, menatap ke depan tanpa menoleh ke siapa pun. Wajahnya datar, dingin, tapi ada sesuatu di matanya yang membuat Destia tak bisa berpaling.

“Levi,” gumam seorang siswa di sebelahnya yang juga sedang berteduh. “Anak paling susah didekati di sekolah ini.”

Nama itu langsung menancap di benaknya. Levi.

Di dalam kelas, nasib mempertemukan mereka lagi. Karena tak ada bangku kosong, guru menyuruh Destia duduk di sebelah Levi. Destia menyapanya pelan.

“Hai… aku Destia. Murid baru.”

Levi menoleh sejenak, mengangguk sekali, lalu kembali fokus pada bukunya. Tidak ada senyum, tidak ada balasan sapaan. Hanya dingin yang tertinggal.

Destia tersenyum kikuk. "Yah, mungkin dia cuma butuh waktu."

chap-preview
Pratinjau gratis
Hujan Setelah kata Maaf
Bab 1: Hujan di Hari Pertama Langit kota tampak kelabu pagi itu. Awan tebal menggantung rendah, dan hujan turun deras, menghantam atap dan jalanan dengan ritme yang konstan. Di depan gerbang SMA Harapan, Destia berdiri sambil memeluk tasnya erat. Rambutnya sedikit basah, meski sudah berusaha berlindung di bawah payung kecil berwarna biru muda. Hari pertamanya sebagai murid pindahan dimulai dengan basah kuyup dan gugup. Sambil menatap ke arah sekolah, matanya menangkap sosok cowok berseragam sama berjalan tenang melewati gerbang—tanpa payung, tanpa mantel. Hujan seolah tak memedulikannya. Cowok itu berjalan lurus, menatap ke depan tanpa menoleh ke siapa pun. Wajahnya datar, dingin, tapi ada sesuatu di matanya yang membuat Destia tak bisa berpaling. “Levi,” gumam seorang siswa di sebelahnya yang juga sedang berteduh. “Anak paling susah didekati di sekolah ini.” Nama itu langsung menancap di benaknya. Levi. Di dalam kelas, nasib mempertemukan mereka lagi. Karena tak ada bangku kosong, guru menyuruh Destia duduk di sebelah Levi. Destia menyapanya pelan. “Hai… aku Destia. Murid baru.” Levi menoleh sejenak, mengangguk sekali, lalu kembali fokus pada bukunya. Tidak ada senyum, tidak ada balasan sapaan. Hanya dingin yang tertinggal. Destia tersenyum kikuk. "Yah, mungkin dia cuma butuh waktu."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook