
Bab 1: Hujan di Hari Pertama
Langit kota tampak kelabu pagi itu. Awan tebal menggantung rendah, dan hujan turun deras, menghantam atap dan jalanan dengan ritme yang konstan. Di depan gerbang SMA Harapan, Destia berdiri sambil memeluk tasnya erat. Rambutnya sedikit basah, meski sudah berusaha berlindung di bawah payung kecil berwarna biru muda.
Hari pertamanya sebagai murid pindahan dimulai dengan basah kuyup dan gugup.
Sambil menatap ke arah sekolah, matanya menangkap sosok cowok berseragam sama berjalan tenang melewati gerbang—tanpa payung, tanpa mantel. Hujan seolah tak memedulikannya. Cowok itu berjalan lurus, menatap ke depan tanpa menoleh ke siapa pun. Wajahnya datar, dingin, tapi ada sesuatu di matanya yang membuat Destia tak bisa berpaling.
“Levi,” gumam seorang siswa di sebelahnya yang juga sedang berteduh. “Anak paling susah didekati di sekolah ini.”
Nama itu langsung menancap di benaknya. Levi.
Di dalam kelas, nasib mempertemukan mereka lagi. Karena tak ada bangku kosong, guru menyuruh Destia duduk di sebelah Levi. Destia menyapanya pelan.
“Hai… aku Destia. Murid baru.”
Levi menoleh sejenak, mengangguk sekali, lalu kembali fokus pada bukunya. Tidak ada senyum, tidak ada balasan sapaan. Hanya dingin yang tertinggal.
Destia tersenyum kikuk. "Yah, mungkin dia cuma butuh waktu."

