Bab 3: Kala Kita Masih Mahasiswa

498 Kata
Tiga tahun yang lalu. Suasana kafe di dekat kampus dipenuhi suara tawa mahasiswa. Wangi kopi dan buku yang sudah usang berpadu di udara. Di sudut ruangan, duduk dua anak muda yang sering disangka pasangan, padahal keduanya—katanya—“cuma teman”. Iqbal duduk sambil membuka laptop. Rambutnya acak-acakan, tapi sorot matanya fokus. Di depannya, Indah sedang sibuk mencoret-coret kertas dengan stabilo warna-warni. Mereka mengerjakan tugas hukum perdata yang terkenal membuat mahasiswa tingkat akhir menyerah. “Menurut kamu, pasal 1320 KUHPer itu terlalu kaku nggak sih?” tanya Indah, tanpa menoleh. “Kalau terlalu kaku, hukum nggak akan jadi hukum,” jawab Iqbal santai. “Bisa nggak jawab pakai kalimat yang nggak bikin aku makin stres?” Iqbal tertawa. “Oke, oke. Gini. Syarat sahnya perjanjian itu memang kaku, tapi itu yang bikin kita punya kepastian hukum. Kayak kita, harus jelas statusnya.” Indah mengerutkan dahi, lalu meliriknya. “Status kita?” Iqbal mengangkat bahu, seolah menggoda. “Ya… kalau kita kayak perjanjian, kita belum sah. Nggak ada kesepakatan.” Indah menatapnya lama. Lalu mengalihkan pandangan. “Kalau gitu, jangan ada penawaran juga.” Iqbal terdiam, tapi tersenyum. “Tapi kadang penawaran datang tanpa sadar, Ndah. Kayak aku—aku nggak pernah rencana buat suka sama kamu.” Dan hari itu, untuk pertama kalinya, Indah tidak berani menatap matanya lama-lama. Karena hatinya juga sedang ribut sendiri. --- Hari-hari setelahnya mereka makin dekat. Pulang bareng. Belajar bareng. Bahkan pernah kehujanan bareng di halte kampus, duduk bersisian dalam diam karena lupa bawa payung. Hari itu, Iqbal melepas jaketnya dan menyelimutkan ke bahu Indah. “Kalau besok sakit, kamu nggak bisa presentasi,” katanya. Indah menunduk. “Terus kamu gimana?” Iqbal tersenyum. “Aku lebih bisa handle tugas daripada lihat kamu bersin-bersin.” Kalimat-kalimat kecil itu tak pernah diucapkan dengan niat menembak. Tapi Indah menyimpannya, satu per satu, seperti potongan puzzle yang dia tahu bisa menjadi gambar besar—jika ia berani menyusunnya. Namun ketakutan lebih dulu datang sebelum keberanian. Ketika orangtuanya memintanya fokus ke karier, bukan cinta. Ketika dunia luar lebih banyak menuntut daripada memberi ruang untuk perasaan. Maka Indah menjauh, perlahan. Ia tak pernah bilang pamit, tapi Iqbal tahu, semuanya berubah. Ia menunggu. Sampai akhirnya berhenti juga. Dan sejak itu, mereka tidak pernah benar-benar bertemu lagi. --- Kembali ke masa kini. Indah duduk di tempat tidurnya malam itu, memandangi layar ponsel yang menampilkan foto profil w******p Iqbal. Senyum itu masih sama. Tapi kenangan di balik senyum itu sudah berubah bentuk. Mereka bukan lagi mahasiswa yang sibuk debat pasal sambil menahan perasaan. Kini mereka dua orang dewasa yang sama-sama lelah, sama-sama belajar bertahan, dan mungkin… sama-sama masih menyimpan rasa. Ia menggulirkan pesan chat yang kosong. Jari telunjuknya menari-nari di atas layar, menulis: "Bal, besok makan siang bareng, yuk. Cerita lama belum selesai kayaknya." Tapi belum juga dikirim. Ia hanya menatap kata-kata itu lama. Lalu… dihapus. Bukan karena tak ingin. Tapi karena masih takut—takut kalau harapan kali ini pun hanya jadi perjanjian yang tidak pernah ditandatangani.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN