Bab 4: Suara dari Masa Lalu

428 Kata
Mentari pagi menyusup pelan di sela jendela kamar Indah. Aroma melati dari vas kecil di nakasnya menyatu dengan semilir angin pagi. Ia duduk diam di tepi ranjang, masih mengenakan piyama biru langit dengan motif awan kecil. Matanya tertuju pada layar ponsel yang menampilkan satu pesan singkat. "Boleh aku telepon nanti malam?" – Iqbal. Pesan itu sederhana, tapi cukup membuat jantung Indah berdetak tak beraturan sejak tadi malam. Ia tak langsung membalas. Ada perang kecil dalam dirinya, antara rindu yang menggelora dan amarah yang masih membekas. Empat tahun lalu, Iqbal pergi begitu saja. Tanpa penjelasan. Tanpa pamit. Meninggalkan sepotong hati yang patah. --- Di sisi lain kota, Iqbal menatap pantulan wajahnya di cermin kamar kecil di rumah kontrakannya. Rambutnya kini sedikit lebih panjang, dengan janggut tipis yang mempertegas garis rahangnya. Namun di balik perubahan fisik itu, ada kekosongan yang tak pernah bisa diisi selama bertahun-tahun. Ia mengingat semua hal tentang Indah. Senyumnya. Suaranya. Caranya melipat tangan saat marah. Bahkan, cara ia selalu membenarkan posisi bantal sebelum tidur. "Bodoh," gumamnya lirih, memukul ringan dadanya sendiri. "Kenapa baru sekarang?" Iqbal tahu ia pengecut. Waktu itu, ia harus memilih — mengejar mimpi di luar negeri atau tetap tinggal demi cinta yang belum sempat tumbuh utuh. Ia memilih pergi, dengan janji diam-diam: Kalau dia memang untukku, aku akan kembali. Kini, ia kembali. Tapi apakah Indah masih sama? --- Sore harinya, Indah duduk di kafe kecil di pinggir taman kota. Kafe itu dulu tempat favorit mereka. Ia sengaja datang ke sana, entah untuk mencari kenangan atau untuk memastikan dirinya sudah tak lemah. Ia menyesap kopi perlahan. Pandangannya tertuju ke arah bangku kosong di seberang. Tiba-tiba, suara langkah berat mendekat. "Indah?" Ia menoleh. Iqbal berdiri di sana — nyata, tidak lagi hanya dalam kenangan. Ia tampak sedikit gugup, tapi matanya masih menyimpan sorot hangat yang dulu membuatnya jatuh hati. "Hai," jawab Indah singkat. Iqbal duduk pelan, berusaha menyesuaikan diri dengan keheningan yang tiba-tiba menyelimuti mereka. "Aku tahu... aku nggak punya hak untuk duduk di sini. Tapi aku butuh bicara," ucapnya akhirnya. Indah tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus, menunggu. "Aku pergi karena waktu itu aku pikir... meninggalkanmu adalah yang terbaik. Aku nggak mau nyeret kamu ke dalam ketidakpastian," lanjutnya. Indah tersenyum tipis. "Kamu nggak nyeret aku. Kamu ninggalin aku." Kata-kata itu seperti hantaman. Tapi Iqbal menerimanya. "Aku nyesel," ucapnya pelan. Keheningan menggantung. "Apa kamu masih sama seperti dulu, Bal?" tanya Indah. Iqbal mengangguk. "Masih. Tapi sekarang aku juga berani." Mata mereka bertemu. Ada luka yang belum sembuh. Tapi juga ada harapan yang perlahan tumbuh kembali. Hari mulai senja. Langit berubah jingga, seperti kenangan mereka dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN