Surat Tanpa Nama Pagi itu, Reyhan sedang menyiram tanaman kecil di halaman belakang saat Iksan menyerahkan sepucuk surat padanya. > “Nih. Ada yang titip lewat kurir tadi. Gak ada nama pengirimnya.” Reyhan mengernyit. Kertas amplopnya usang, seperti disimpan lama dalam laci lembap. Tapi begitu membuka dan membaca isinya, jantung Reyhan seperti disiram es. Tulisan tangan itu... Tak asing. --- “Reyhan. Aku tahu aku bukan orang yang berhak menghubungimu. Tapi ada seseorang dalam hidupku yang tak bisa kuselamatkan sendiri. Dan satu-satunya orang yang mungkin bisa... adalah kamu. Kalau kamu masih ingat Pantai Setigi, datanglah malam minggu ini. Aku akan menunggu di tempat biasa. —K.” --- Reyhan duduk perlahan di bangku taman. Huruf “K”. Dan Pantai Setigi. Itu adalah kombinasi d

