Bab 96

1143 Kata

Malam Pengakuan Rumah Lia tak pernah benar-benar sunyi. Bahkan di malam-malam hening, ada tawa kecil, suara sendok di dapur, atau langkah ringan anak-anak di lorong. Tapi malam ini... sunyi itu terasa mencekam. Reyhan berdiri di tengah aula utama, bersama semua relawan dan anak-anak yang cukup besar untuk memahami pembicaraan. Di belakangnya berdiri Saras, Iksan, dan Kinan—yang memegang Nayaka erat dalam gendongan. Andre duduk di barisan depan. Wajahnya tak menyimpan amarah, hanya ekspresi “kita berhak tahu kebenaran”. Reyhan memandang seluruh wajah di depannya. > “Malam ini aku akan cerita sesuatu yang... mungkin akan mengubah cara kalian melihatku.” Suara Reyhan dalam, tenang. Tapi setiap kata yang ia ucapkan seperti memukul satu dinding kepercayaan yang sudah ia bangun selama b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN