bab 15 Melamar Dahlia

1092 Kata
rencana antara Raka dan Dahlia untuk pergi ke Singapore Aisyah dan Hafiz sudah mendengarnya namun Mereka tidak berikan komentar apapun tentang ini semua bagi Asyiah ini sudah jalan yang seharusnya juga Raka dari dulu pilih tapi Raka juga harus mensyukuri apa yang sudah di miliki sekarang ini dari pihak manapun juga tidak ada yang menghalangi niat Mereka. Di dalam pesawat Raka duduk bersama Dahlia sebentar lagi juga Raka turun di Changi Airport dan Dahlia memberi tahu Raka akan sesuatu yang Raka memang harus dengar. "Rumah saya adalah rumah Aisyah juga karena mama Aisyah kerja di tempat saya", kata Dahlia kemudian "Kamu udah siap untuk itu", ? tanyanya sambil memicingkan mata dan Raka menoleh sejenak dan kemudian dia menghadap ke arah kursi di depannya. "Saya siap", kata Raka kemudian tidak lama kemudian pesawat pada akhirnya mendarat dengan mulus di Changi Airport. Raka dan Dahlia sudah siap - siap untuk turun ke Bandara dan kemudian ketika pesawat sudah mematikan mesinnya barulah Raka melepas seat beltnya dan mulai menyandang ransel di punggungnya dia ikut mengantri untuk masuk ke dalam kabin pesawat dan menunggu pramugari untuk membuka pintunya dan setelah pramugari membuka pintunya. Raka dan Dahlia masuk ke dalam kabin pesawat dan masuk ke dalam Changi Aiport dan setelah itu dia juga mengantri untuk mengambil barang dan ketika sudah selesai mengambil barang Raka menegur Dahlia. "Apa ada yang mau jemput kita", ? tanya Raka "Kita naik MRT saja lagian juga rumah tempat saya tinggal juga yah emang agak jauh dari sini enggak jauh banget juga saya tinggal di Bukit Timah", kata Dahlia dan kemudian dia mengajak Raka masuk ke dalam basement MRT tepat ketika di sana kereta tujuan dalam waktu bersamaan berhenti di depan keduanya yang pada akhirnya keduanya masuk ke dalamny satu hal yang kalut dalam pikiran Raka. Selama di Singapore tidak mungkin rasanya Raka menginap di rumah Dahlia walau hanya 3 hari di sana sudah pasti di hotel atau tempat penginapan apalagi belum menjadi muhrimnya. Raka mengikuti langkah kaki Dahlia menuju ke komplek perumahan dan Dahlia berhenti di depan rumah yang berlantai 2 dan cat temboknya bersih putih. Dia membuka pintu rumah dan menghambur ke pelukan orang tuanya. "Ini mak cik Fatimah mommy saya dan ini Daddy saya ridwan sedangkan ini mak cik Khadijah mommy Aisyah sekarang kamu sudah lihat sendiri semuanya, Aisyah sebenarnya dulu saya sempat berpikir yang pantas untuk kamu karena bisa susah senang bersama sedangkan saya justru saya sudah merasa tercukupi cinta itu karena kekurangan bukan karena kesempurnaan", kata Dahlia. "Tapi kamu adalah orang yang saya selamatkan dari hidup yang enggak di harapkan oleh kamu sendiri Dahlia seperti saya juga yang pada akhirnya sama - sama belajar untuk menerimanya, Aisyah sendiri juga sudah calon dari Hafiz", kata Raka. "Saya enggak mungkin merusak hubungan Mereka yang juga akan nikah", Raka menambahkan kata - katanya. "Saya sudah ikhlas menerimanya saya tetap menjadi melamar kamu Dahlia dan saya mau minta izin dengan semuanya untuk bawa ke kampung saya", Dahlia hanya diam air matanya menetes dan Fatimah mulai angkat bicara dalam hal ini. "Kalau emang itu yang terbaik berangkatlah ke sana kami merestuimu", kata - kata Fatimah membuat Dahlia semakin meneteskan air mata begitu juga dengan Raka sampai dia hanya bisa diam seribu bahasa. Sepulangnya dari rumah Dahlia mereka berjalan - jalan di Orchard Road dan keduanya memasukki Center Point. "Raka kamu sudah yakin akan hidup sama aku", ? pertanyaan Dahlia membuat Raka berdehem sejenak untuk menjawabnya. "Apa yang kamu tanyakan sudah ada jawabannya dari hati kamu sendiri yang kamu rasain ke aku kalau aku benar - benar yakin", kata Raka kemudian. "Oh yah aku antar kamu yah ke tempat penginapan di sini ada hotel murah yah setelah kita refleshing di sini", ajak Dahlia. "Oke", ! seru Raka. akhirnya Raka memilih kaos untuk di rumah di sana dan kemudian sambil berjalan kaki ke hotel Grand Central Raka tiba - tiba saja keluar kata - kata itu dari mulutnya. "Setelah 3 hari di sini kita lanjutkan perjalanan ke Jakarta dan ke Tegal kampung saya karena untuk nikah enggak perlu nunda waktu", kata Raka. Mulut Raka yang begitu saja meluncur ucapan hal itu kepada Dahlia membuat dia diam dan hanya mengangguk dan sejenak membuang wajahnya barulah dia meneteskan air matanya. tepat jam 10 malam Raka masuk ke dalam kamar hotel Grand Central dan menginap di kamar nomor 543 di lantai 5 dan hotel yang dari jendelanya menghadap ke arah bawah dan di sana ada kolam renang membuat Raka yang sejenak membuka kordennya hatinya sedikit lega melihat pemandangan yang tidak membuat perasan ingin terus galau. Sebelum akhirnya dia tertidur dia sholat Isya lebih dulu dan memanjatkan doa pada Allah sambil berlinangan air matanya, barulah Raka menaruh kepala di atas bantalnya. Pagi menjelma di waktu subuh pukul 5 dan Raka terbangun untuk sholat subuh dan setelah selesai sholat subuh dia mendapat pesan w******p dari Dahlia. "Raka nanti siang kita makan siang bareng yah di rumah saya dan setelah itu besok pagi Kita siap - siap ke Jakarta", kata Dahlia. "Yah oke", balas Raka. Raka di pagi ini dia mencari sarapan sendiri dulu dan kebetulan menemukan nasi briyani di pinggir jalan yang sudah buka Raka langsung memesan makanan di sana nasi briyani dengan teh tarik hangat. Baru saja menyeruput teh tarik hangatnya pandangan wajahnya sudah di kejutkan dengan orang yang sudah lama hilang dari pandangan matanya kini dia melotot di depannya sambil duduk jelas sekali Raka mengenalnya. "Rania", guman Raka. dan kemudian dia langsung menghubungi Hafiz saat itu juga dengan terburu - buru. "Halo asalamualaikum Hafiz saya lihat ada Rania di sini tolong hubungi lowyer yah", Nada suara Raka terdengar panik. "oke - oke saya telepon dulu Ayyuz", ! sahut Hafiz dengan nada suara yang ikut panik juga sebelum mengakhiri pembicaraan dengan Raka. Kemuakkan Raka pada Rania atas apa yang di lakukannya dulu membuat Raka ingin menyerang Rania Tapi Rania Malah melarikan diri menghilang dari pandangan mata Raka dan Raka yang sedang mengejarnya dengan terengah - engah dan baru saja ingin berteriak memanggil namanya sentuhan tangan dari belakang yang menyentuh pundaknya membuat Raka ingin menoleh ke belakang. "Dahlia aku lihat ada Rania tadi", adu Raka. "Rania", ? sorot mata Dahlia mencari ke arah segala penjuru namun dia tidak melihat apa - apa di sekitar mereka. "Saya enggak lihat apa - apa Tapi astragfirulloh ya Allah saya jadi takut dia teror keluarga saya juga kalau begitu tapi kamu udah hubungi hafiz", sahut Dahlia dengan Panik. "Sudah dia hubungi Ayyuz lowyer kita dan nanti Ayyuz yang urus semua, yang penting saya Tetap mau lamar kamu besok pagi kita berangkat yah hari ini kita pesan tiket online", kata Raka dan Dahlia menganggukan kepala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN