Alena keluar dari lift dan bertemu Caca di lobi, "Kenapa kau masih disini? Bukankah tuan muda sudah memecatmu..?"
"Itu... aku sudah menemuinya.. dan dia akan mempertimbangkan ku untuk bekerja disini...” Jawabnya dengan gugup.
"Mempertimbangkan?!" mata jeli Caca tak dapat Alena hindari. Caca menyibak rambut Alena yang menutupi sebagian dadanya, "Oh.. jadi ini yang kau maksud dengan mempertimbangkan? wah.. besar sekali nyalimu..!" imbuhnya dengan nada menghina.
Segera Alena menutupi bagian d**a itu dengan rambut panjangnya, "Bu.. bukan begitu.. tolong jangan salah faham padaku.."
"Hahahaha... licik sekali, kau kira berapa banyak wanita silih berganti yang ingin tidur dengan tuan muda? tak kusangka ternyata kau adalah orang yang sepicik itu.." tatapan Caca semakin menyeleneh memandangnya dengan penuh kehinaan.
"Wanita mana yang kau maksud?!" Suara Jimmy mengejutkan Caca dan membuatnya merinding.
"Aaa... tuan muda.. sakit.. tolong lepaskan.."
Jambakan rambut itu semakin kuat, jika saja jambakannya tidak kuat sudah pasti akan membuat Caca jatuh tersungkur kelantai.
sorot mata tajam itu menatap Alena, "Bukankah aku menyuruhmu untuk menunggu?! kau ingin bermain-main denganku?" melepas jambakan rambut Caca dan mendorongnya kesisi kiri hingga jatuh tersungkur.
melihat perilaku kejamnya membuat Alena takut dan mundur 1 langkah kebelakang, "Bu.. bukan begitu tuan.. tadi dokter menelfon dan memintaku untuk segera datang.." Alena memaksakan diri menatap Jimmy, "Sungguh tuan.. aku tidak berbohong.."
Jimmy berbalik badan dan menoleh kearahnya sebentar, "Tunggu apa lagi? bukankah kau ingin pergi kerumah sakit..? aku yang akan mengantarmu kesana.."
***
Rumah Sakit...
Jimmy memarkirkan mobil itu di area parkir rumah sakit, menatap sebentar kepada Alena "Pergilah.. aku akan menunggu disini.."
Alena menangguk, "Emh.. baiklah.. aku tidak akan lama.."
Ruang rawat..
"Ibu... bagaimana keadaanmu?"
"Ibu baik-baik saja.."
"ibu aku sudah mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit.."
setelah berbincang-bincang, Alena berpamitam pulang, "Ibu jangan memikirkan masalah uang lagi.. aku sudah bekerja dan gajiku cukup untuk membiayai hidup kita berdua.."
di area parkir tak sengaja Alena bertemu teman prianya, "Riko..!" senyumnya melebar membuat Jimmy yang melihat mereka dari dalam mobil merasa geram.
"Alena.. apa kabar..?"
satu hal yang mengganggu Jimmy ialah melihat mereka berdua berpelukan.
Hey.. ayolah Jimmy Xing William putra Rendra, mereka hanyalah teman yang lama tak bertemu..
melihat pemandangan yang menyakitkan mata apalagi jika bukan mengganggu reuni mereka berdua, membunyikan klakson mobil selama mungkin.
"Riko maaf.. aku buru-buru.. sampai jumpa.." lambaian tangan Alena padanya semakin membuat Jimmy resah.
saat masuk ke dalam mobil yang Alena lihat hanyalah raut wajah tak suka dari tuan mudanya itu, "Maaf.. aku agak lama.. soalnya ibuku.."
"Apakah dia juga ibumu?!" Imbuhnya menyela omongan Alena dengan sangat ketus yang kemudian menancap gas mengemudikan mobil dengan laju dan membuat Alena ketakutan.
"Tuan.. hati-hati.." suaranya bergetar ketakutan.
namun si pemilik mobil itu enggan mendengarkannya, tepat disebuah tikungan mobil mereka hampir bertabrakan dengan sebuah truk pertamina, "Tuan awas...!" teriaknya dengan terkejut.
Brak!!!
Mobil mereka menabrak pembatas tebing, masih dengan keegoisannya Jimmy mencium dengan kasar bibir lembut itu dan sekali lagi mencumbunya di dalam mobil, tuan.. aah..
Usai b******a Jimmy kembali fokus menyetir, "Sekali lagi aku melihatmu dengan pria lain.. awas saja.. akan kupastikan kau mengganti rugi semua yang telah kuberikan padamu..!"