Ch.4

612 Kata
Lampu diskotik meramaikan malam perayan kemenangan Jimmy bersama sahabat dan pacarnya, mereka saling bersulang The Winston Cocktail, “Cheers...” Tring.. tring.. suara Gelas whiskey mewah mereka yang saling beradu, Kiara duduk diatas pangkuan Jimmy dan mencium bibirnya seolah tak kuasa menahan gairahnya, “Sayang...?!” “Hm...?” “Kapan aku akan menjadi milikmu seutuhnya?” tutur Kiara yang semakin meliarkan ciumannya di leher jenjang pria itu, menikmati setiap jengkal leher putihnya. “Hey.. bukankah kau sudah menjadi pacarnya?” sela Rolan. “Ya.. itu benar, apa lagi yang kau inginkan? Bukankah kalian sudah resmi berpacaran?” imbuh Teo menimpali. Kiara menatap mereka berdua dengan tatapan ketidaksukaannya, “Tentu saja berbeda.. aku ingin menikah dengannya dan menjadi nyonya Jimmy.. apakah aku salah..?” tangan Kiara memain-mainkan dasi panjang Jimmy dan sekali lagi mencium pipi tampan itu. “Oh ya.. kudengar ada pelayan baru disini..” Rolan menoleh kesana kemari hingga ia mendapati seorang pelayan wanita yang membawa beberapa botol The Winston Cocktail, “Hei... kemari..” ia melambaikan tangan dan disambut senyuman serta anggukan dari si pelayan itu. “Tuan.. The Winston Cocktail - ...” kalimatnya terhenti saat ia menatap Jimmy tepat di hadapannya. Raut wajah kesalnya masih tampak terlihat jelas, Jimmy mendengus kesal mengumpat habis-habisan di dalam hatinya, Apa yang kau lakukan disini? Masih belum cukupkah uang yang kuberikan? Sorot mata tajamnya membuat Alena menelan ludah dengan sangat kerasnya, ia tertunduk menahan takut. “Sayang.. ada apa denganmu? Begitu melihatnya kau langsung kesal.. apakah dia membuat masalah denganmu..!” Tatapan mata Jimmy belum beralih dari Alena yang sedari tadi menunduk. “Kemarilah.. temani kami minum..” Teo seketika menarik tangan Alena dan membuatnya terduduk tepat ditengah-tengah antara dirinya dan Rolan. Rolan menuangkan The Winston Cocktail kedalam gelas dan memaksa Alena untuk meminumnya, “Minum ini.. habiskan... sebagai gantinya aku akan membayarmu.. hahaha..” “Maaf tuan..” Alena mendorong pelan tangan Rolan, “Aku tidak minum minuman beralkohol..” “Hais... yang benar saja.. kau bekerja disini tapi kau tidak bisa minum wine? Hahaha.. yang benar saja..” Teo menjambak rambut Alena hingga kepalanya menengadah keatas. Rolan memasukan pil kecil kedalam minumannya dan memaksa Alena untuk meneguk wine itu. “Tidak.. tuan.. ja ..” glek.. glek.. glek.. The Winston Cocktail itu menerobos masuk melalui kerongkongannya, Alena mengernyit dan tersedak, “Uhuk...” tak lama kemudian ia merasa tubuhnya menjadi panas. “Emh....” lenguhannya membuat Teo dan Rolan semakin b*******h. “Lihat itu..” Rolan mengeluarkan hp nya dan membuka kamera. Sedangkan Teo ia merobek pakaian Alena hingga memperlihatkan bagian dadanya. Melihatnya diperlakukan seperti itu, Jimmy mengambil sebuah asbak yang berukuran besar kemudian memukulkannya tepat di kepala Teo hingga berdarah, paaak..! “Aaaaahh..!!!” pekiknya kesakitan, “b******k kau..” Teo terbelalak saat mendapat tatapan mematikan itu. Jimmy berjalan mendekati Alena dan menggendongnya, tentu saja hal itu membuat Kiara dirundung cemburu, “Jimmy, hentikan!” teriaknya. “Hm..?” Jimmy menoleh kearahnya dengan raut wajah tanpa ekspresi. “Jika kau tetap menolongnya.. lebih baik kita putus..” Mendapat ancaman seperti itu lantas sama sekali tak membuatnya takut, “Putus..? terserah..” ia tetap melangkah pergi membawa Alena yang semakin kuat mendesah di dalam pelukannya. Membawa Alena masuk kedalam kamar pribadinya di klub malam itu, saat sampai di depan kamar ia menendang kuat pintu itu dengan kakinya. Brak..!!! Meletakan tubuh Alena dengan perlahan diatas ranjang dan melucuti semua pakaiannya. Membuat tubuh indah itu telanjang tanpa sehelai benang, “Aaah.... Emh..” desahannya semakin menjadi, “Tuan.. aah..” panggilnya dengan lirih. “Hm..?” jimmy mengernyit kemudian tersenyum nakal, “Lihat.. kali ini kau sendiri yang menyerahkan dirimu padaku..” Jemari Alena meremas kuat seprai itu saat merasakan sesuatu yang keras menerobos masuk kedalam kewanitaannya, “Eemmh.... sakit.. pelan-pelan..” “Masih sakit? Bukankah sebelumnya kita sudah 2x melakukannya?” “Aaah..” setiap sentuhan itu membuat Alena mendesah, hentakan yang ia terima semakin kuat dan menjadi-jadi, “Aaah...” lenguhannya membuat Jimmy semakin bermain dengan intens dan mempercepat tempo permainannya. Hingga akhirnya cairan kental dan hangat itu mengalir kedalam kewanitaan Alena.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN