Bagas keluar dari kamar. Di ruang tengah, Dinda duduk di sofa dengan tangan bersedekap. Tak kurang dari dua puluh menit Dinda menunggunya di tempat itu. Bagas duduk pada sofa di sebelah Dinda. Entah mengapa ekspresi Dinda malam ini membuat nyali Bagas tiba-tiba menciut. Keadaan terasa hening untuk beberapa saat. "Mengapa Kamu melakukan hal itu, Mas? Mencium seseorang tanpa sepengetahuan orang saja sudah sangat tidak sopan, dan ini di depan seorang anak?? Ck! Ck! Ck!" Dinda menggelengkan kepala dengan wajah sangat kesal. "Aku bukan mencium, Din.. aku hanya--mengecup kening Kamu--" "Apa bedanya, Mas?! bibir mas Bagas jelas-jelas menyentuh kulitku!" sergah Dinda berapi-api. "Iya! Iya! Aku minta maaf. Aku sudah berlaku tak sopan sama Kamu," ucap Bagas pasrah. Dinda mendengus kesal. Ia

