Dinda menyandarkan punggungnya pada kursi. Lebih dari satu jam ia duduk untuk merekap seluruh pendapatan dan pengeluaran selama dua minggu sejak kafenya beroperasi. Hari ini seharusnya ia datang ke rumah Inggrit bersama dengan Bagas untuk menjelaskan tentang hubungan mereka. Namun, Dinda terpaksa menunda hal tersebut karena hari ini bertepatan dengan akhir bulan. Bukan hanya Dinda, Bagas pun pasti disibukkan dengan urusannya di kantor. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, satu jam lagi kafe Dinda tutup. Meski masih ada lima atau enam pelanggan, tetapi beberapa karyawan sudah mulai membersihkan dapur. Dinda masih fokus dengan layar komputernya ketika merasa ada seseorang mendekat di depan meja kasirnya. "Silah--kan.." Baru saja Dinda tersenyum ramah, tiba-tiba senyum itu memudar

