Gede hanya tertawa kecil saat mendengar pertanyaan dengan nada serius Diani. Matanya kini ikut menatap Diani yang juga lekat memandangnya. “Lo jangan mikir aneh-aneh pake otak lo yang mungil itu. Cukup lo pake buat mikir gimana caranya bikin bangunan masterpiece lainnya karya Diani,” ucap Gede dengan senyuman manisnya. Gede menggelang tak percaya dengan ide Diani. “De, kalo lo suka sama gue. Kenapa lo gak nembak gue dari dulu?” “Emangnya bakalan diterima? Lo aja ketusnya minta ampun,” ucap Gede sambil menyeruput minuman di hadapannya. “De, gue serius!” “Gue juga serius. Mana mungkin gue saingan sama Samudera Adnan. Gila kali. Gue masih pengen hidup. Pak Frans nih, dia walaupun tua, badannya keker banget, masih kalah. Nah gue?” “Yah, katanya lo suka sama gue. Gitu aja nyerah. Cemen

