Devan meneguk air yang ada di dalam gelas yang sudah disediakan Melisa untuknya. Nyatanya, sejak tadi Melisa tidak lepas memperhatikan Devan yang makan sudah seperti orang yang kelaparan. Padahal, tadi Devan mengatakan kalau dirinya belum lapar dan belum mau makan. Tetapi, dia makan sudah seperti kesetanan. Devan meletakkan gelasnya di atas meja seraya melap mulutnya dengan tissu. Matanya melirik Melisa yang menatapnya dengan tersenyum-senyum sendiri. Devan mendengu sebal. “Ada apa? Kenapa senyum-senyum seperti itu?” Melisa lalu cepat-cepat memalingkan wajahnya menyembunyikan senyumnya seraya menggeleng. “Tidak! Tidak ada, Mas.” Kening Devan mengerut, tapi tidak memedulikan Melisa. Karena perutnya sudah kenyang. Bahkan sangat penuh. Devan lalu beranjak berdiri hendak ke kamarnya. N

