“Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu padamu, Don. Lupakan,” seru Rama setelah menyesali semua perbuatannya. Doni sebagai orang yang sudah lama mengenalnya pun tak bisa berkata-kata selain bersabar. Jangankan untuk membalas perbuatannya, sekadar menjawab saja tidak Doni lakukan. Bukan karena merasa takut dengan jabatannya Rama, sebagai sahabat yang sudah seperti keluarga lah alasan utamanya, Doni tidak mau memperkeruh suasana. “Kalau begitu aku ke luar, jangan lupa minum kopi nya, kurang baik sebenarnya kalau terus-menerus begadang dan bekerja keras dalam waktu yang singkat, jaga kesehatanmu, Ram.” Doni menepuk pundaknya Rama lalu melenggang ke luar dari ruangan itu. Rama sendiri sangatlah bersyukur memiliki sahabat sekaligus sekretaris sebaik Doni, meskipun terkadang dia sering mencur

