"Dokter Ryan?" Aku berseru pelan. "Dunia ini terlalu sempit ya sampai harus ketemu kamu lagi," tuturnya membuatku menautkan alis. "Kamu pikir aku sengaja ngikutin Dokter sampai ke sini? Dokter kepedean," kilahku mencebik kesal padanya tidak mau kalah. "Lalu ngapain kamu ke sini?" Netranya menatapku dari bawah ke atas. Seperti sedang menguliti penampilanku. "Nggak mungkin 'kan kamu sholat," imbuhnya lagi mematahkan keberadaanku di sini. Apa sesempit itu pemikirannya tentangku? Apa orang kayak aku mudah ditebak tingkat ibadahnya? Hingga dari penampilan saja dia bisa menilainya. "Kenapa diam? Benar 'kan?" Tudingnya lagi tanpa rasa bersalah. Entah kenapa ada rasa sesak saat komentar itu keluar dari mulutnya. Bibirku terkatup rapat. Tenggorokan rasa tercekat. Ingin membantah tapi itu semu

