Dari Om Darwin. Pasti sesuatu yang penting. Tidak mungkin dia meneleponku di jam sepagi ini kalau bukan hal mendesak. "Waalaikum salam, Om," jawabku setelah mendengar sapaan salamnya. "Bagaimana? Kamu puas dengan pernyataan Anya?" "Menurut Om?" Aku bertanya balik. Om Darwin terkekeh di seberang sana. "Belum, dia tampak terpaksa meminta maafnya ya? Sebenarnya yang saya khawatirkan itu dia sedang play victim, dan memutar balik fakta seolah ditekan oleh kita dan berpura menjadi korban di sini," jelas Om Darwin dan aku setuju dengan pendapatnya. "Lalu, bagaimana Del?" lanjutnya karena aku diam saja setelah mendengar penjelasannya. "Biarkan saja, Om. Kita lihat kedepannya. Kalau yang sekarang ini malah merugikan saya, maka jalan terakhir, kita serang dia." "Ya, benar, untuk saat ini ki

