"Duduk Sis," pintaku pada Siska membuka obrolan lebih dulu karena tujuanku menyuruhnya masuk ke dalam bukan ingin memberikan pekerjaan. Namun untuk menemaniku agar terhindar berduaan saja dengan Dilan. "Bagaimana kabarmu, Dil?" Aku menyapanya berusaha terlihat biasa saja. Sedatar mungkin bersikap ramah seperti biasanya. "Baik," jawabnya singkat dengan menatapku lekat. Tampak jengah, kutundukkan wajah sebentar mengalihkan pandangan darinya. "Kalau badanmu masih kurang fit, jangan dipaksakan kemari. Aku tidak ingin perusahaan ini terlihat jahat karena memaksa karyawan yang belum sembuh total masuk kerja." Dilan menggeleng. "Saya yakin sudah sembuh, Bu. Terima kasih atas perhatiannya." "Lalu, apa yang membuatmu berada di sini? Apa ada masalah kantor yang ingin dibahas?" tanyaku to the po

