Dring… Jeana menangis histeris di kamar tidur. Dia menutup seluruh badannya. Bunyi deringan ponselnya membuatnya tidak b*******h untuk mencari ponsel itu. Jeana lupa di mana dia terakhir kali meletakkan ponsel itu. Dengan mengumpulkan segala niat, Jeana meraba ponsel itu dan membuka satu matanya untuk melihat siapa yang menelepon sore ini. “Hallo,” serunya. “Jeana, aku Fentika!” ucap suara itu dengan ketus. “Kamu di mana?” sambungnya. Jeana membuka kedua matanya dan memperhatikan lekat-lekat siapa yang meneleponnya sore ini. “Kak Fentika?” ucapnya. “Hmm,” desah Fentika. “Ya Tuhan, aku tidak menyangka hidupmu seburuk ini di Moskow Jeana!” sahutnya lagi disertai tawa yang menakutkan. “Ada apa?” tanya Jeana tanpa basa-basi. “Aku baru lihat tv hari ini, Leo Vern

