Chapter 1
Sudah dua tahun Ace tidak melihat pemakaman atau kremasi di Hilfheim. Kematian menjadi sesuatu yang langka di negara serbacanggih. Pakaian serbahitam yang biasa mereka gunakan saat berkunjung ke makam tergantung di lemari tak tersentuh. Kesibukan di musim panas pun berkurang. Biasanya sang ibu akan sibuk mempersiapkan upcara Hari Roh bersama ayahnya, lalu mereka berangkat ke makam kakek dan neneknya di Kota Barl. Namun, sejak kecelakaan aneh yang merenggut ayahnya, keluarga kecil Ace jadi kacau.
Tidak ada upacara Hari Roh.
Tidak ada makan malam bersama.
Tidak ada perbincangan hangat di sore hari.
Sejak saat itu, Ace merasa kehilangan kehidupannya yang tenang. Setiap kali melihat berita tentang kecelakaan atau bertanya kepada polisi, dia tidak mendapat jawaban pasti tentang jasad ayahnya.
Sementara itu, ibunya masih menunggu keajaiban, tapi tidak ada satu pun kabar yang datang. Ace melihat kegilaan yang dialami ibunya ketika menyadari ayahnya tidak bisa kembali. Ibunya jadi sering menangis dan kadang meraung-raung, mengatakan bahwa ibunya telah mengutuk dunia ini. Tentu saja, kutukan itu tidak akan berpengaruh sedikit pun pada negeri supercanggih Hilfheim.
Ace mengerti perasaan ibunya. Apa pun yang Ace lakukan dan berikan tidak pernah berarti bagi ibunya. Karena sejak awal, ibunya hanya mencintai ayahnya. Ace hanyalah pengikat mereka berdua yang bisa dihilangkan kapan saja. Mungkin, dalam hidup sang ibu, Ace hanya penggangu dan tidak seharusnya lahir.
Sejak saat itu, Ace menyewa apartemen kecil untuk tinggal sendirian, sedangkan sang ibu kembali ke rumah orang tuanya di Hale. Setiap Minggu atau libur kuliah seperti hari ini, Ace menyempatkan diri untuk menjenguk sang ibu yang sudah seperti boneka hidup. Adakalanya, saat melihat wanita itu, Ace jadi membencinya. Ace berharap ibunya kembali dan mereka bisa hidup berdua dengan damai, walau itu tampak mustahil.
Ace menghela napas. Bayangan tentang impian-impian kadang terasa sangat manis. Dia harusnya sadar kalau keluarga kecilnya yang damai tidak akan pernah kembali lagi. Tanpa ayahnya, ibunya tidak akan kembali.
Ace memandangi foto orang tuanya yang tergantung di dinding apartemen. Foto yang diyakini Ace sebagai foto pernikahan. Sosok perempuan cantik bergaun putih yang membalut tubuh rampingnya bersama seorang lelaki bertuksedo hitam yang tersenyum lebar di sampingnya. Satu-satunya foto yang terlihat indah di mata Ace, sekaligus kenangan terakhir yang Ace miliki selain rumah orang tuanya. Tanpa Ace sadari, dia tersenyum. Meski terasa indah, kenangan ini membuatnya tidak bisa tinggal di rumah ini.
"Sampai jumpa lagi."
Ace beranjak meninggalkan lukisan, lalu mematikan televisi yang terus menayangkan film-film konyol. Televisi telah dibisukan dari berita-berita bencana alam, kecelakaan, dan pembunuhan tanpa alasan yang jelas. Bahkan kematian ayahnya pun terdengar sangat konyol, seperti kisah-kisah dongeng dari masa lalu. Gara-gara acara televisi yang bungkam, banyak orang mengaitkan keanehan ini dengan perjanjian iblis.
Ace mendengkus tiap kali mengingat pemikiran konyol itu. Entah sudah berapa kali Ace mendengar orang-orang membicarakannya, baik di subway, stasiun, maupun kampusnya sendiri. Orang-orang serbacanggih yang hidup pada tahun 2031 terdengar bodoh saat memercayai hal itu. Bagi Ace, iblis, malaikat, peri, penyihir, atau apa pun yang berkaitan dengan sihir hanyalah dongeng. Layaknya game online yang pasaran. Tidak ada hal seperti itu di dunia nyata.
Ace mempercepat langkah, berbaur dengan orang-orang Hilfheim yang berjalan santai di akhir pekan. Saat berada di tengah-tengah mereka, Ace merasa tidak nyaman. Orang-orang ini hidup dengan damai tanpa memikirkan fenomena yang merenggut banyak nyawa. Seolah-olah mereka adalah boneka hidup yang menjalankan perintah tanpa bantahan. Tepatnya, tidak bisa membantah. Mereka hidup di masa yang tenang dan damai. Sehingga tidak ada yang perlu dirisaukan, kecuali sesuatu yang tidak dipercayai secara logika.
Bunyi lonceng menara jam kota membuyarkan lamunan Ace. Menara jam yang telah berusia ratusan tahun menjadi penanda waktu Kota Arc, ibu kota Hilfheim. Tiap satu jam sekali, loncengnya akan berdentang. Orang-orang akan menghentikan aktivitas, lalu merapalkan doa. Persis seperti orang bodoh yang meminta sesuatu dari jam kuno. Seperti orang masa lampau yang berdoa pada bintang jatuh. Namun, bagi Ace, menara itu tidak lebih sebagai simbol, kenangan lama yang bisa dilupakan kapan saja, seperti ayahnya.
Tanpa memedulikan orang-orang yang berdiam diri untuk berdoa, Ace melanjutkan langkah. Jarak dari apartemen menuju subway tidak terlalu jauh, hanya sekitar sepuluh menit. Seperti biasa, dia akan mampir ke minimarket di samping subway untuk membeli sup daging instan kesukaan ibunya. Ace berharap makanan ini bisa membuat ibunya membaik atau setidaknya mengalihkan pikiran sejenak dari ayahnya.
Akan tetapi, sebelum sampai minimarket, Ace merasakan ada sesuatu yang aneh. Tepat di lorong kecil samping minimarket, dia mendengar rintihan yang diredam suara lonceng. Rasa penasaran menuntun Ace mendekat perlahan, mengintai dari balik dinding lorong.
Kurang tiga puluh langkah darinya, seorang lelaki bertubuh besar ambruk ke tanah. Erangan beratnya masih terdengar, kedua kaki serta tangannya masih menyenta-nyentak tanda kesakitan. Namun, tidak ada tanda-tanda k*******n yang dilakukan segerombolan orang jika memang lelaki itu dikeroyok. Tidak, bahkan tidak ada orang di sana kecuali Ace. Apakah lelaki itu keracunan?
Haruskah Ace menolongnya? Jika dia menolong lelaki itu dan membawanya ke rumah sakit, kemungkinan dia akan tertinggal kereta supercepat yang mahal dan sulit didapat, juga terlambat mengunjungi ibunya. Dia harus menunggu sampai esok hari, mengantre di loket online, lalu membuang uang yang cukup untuk makan sehari.
Ace menggeleng. Ini bukan urusannya. Sejak kematian sang ayah, Ace sudah bertekad untuk tidak ikut campur kehidupan orang. Toh tidak ada gunanya sama sekali. Ace terus mengulangi kalimat itu, tapi keganjalan dalam benaknya tidak mau hilang. Saat Ace beranjak, muncul cahaya biru kekuningan seperti partikel yang amat terang menguasai tubuh lelaki itu.
Dada Ace yang tadi terasa longgar kini menjadi sesak, sampai terasa sakit ketika lelaki itu lenyap. Hanya tersisa serpihan cahaya yang perlahan menghilang. Tak sampai tiga detik. Bahkan Ace yakin lonceng menara jam yang biasa dibunyikan selama tiga menit masih berlangsung. Karena ragu, Ace menampar wajahnya, berharap ini cuma mimpi buruk. Namun, sakit di wajahnya membuat Ace langsung sadar bahwa ini bukan mimpi. Akan tetapi, apa mungkin tubuh seseorang bisa lenyap secepat itu?
Meski bodoh dalam pelajaran sains, Ace tetap yakin tubuh manusia tidak bisa lenyap seperti itu. Pasti ada sesuatu. Tetapi apa? Alasan apa yang membuat kejadian barusan terdengar logis?
Ace terdiam. Keringat dingin mendadak membanjiri tubuhnya meski masih pagi. Dia melirik jam besar yang ada di tengah kota. Bunyi lonceng telah berakhir. Orang-orang yang tadi berdoa kini kembali bergerak, beraktivitas seperti biasa seolah-olah tidak terjadi apa pun barusan.
Apakah tidak ada orang yang melihat kejadian itu selain dirinya? Bisa Ace rasakan dengan jelas kakinya gemetar ketakutan. Dia tidak bisa berkata apa-apa.
Cahaya kuning kebiruan, tubuh yang menghilang, tidak adanya kremasi dan pemakaman. Otaknya telah mengaitkan semua itu tanpa izin. Mana mungkin hal seperti itu ada, kan? Ace tidak berani mengatakan apa pun atau melapor ke petugas keamanan kota terdekat. Tidak. Dia hanya butuh melupakan kejadian itu, lalu bersikap seperti biasa. Dia harus segera membeli sup instan, pergi naik kereta supercepat yang didambakannya, lalu bertemu sang ibu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Keesokan hari semua pasti baik-baik saja. Itu pasti ilusi. Sihir, perjanian iblis, atau apa pun itu tidak ada.
Namun, sekuat apa pun Ace berusaha mengabaikan, keanehan lelaki itu terus membayangi benaknya. Rasa mengganjal menuntun Ace memasuki lorong tadi. Sempit dan sedikit kotor. Ace berusaha merekayasa ulang kejadian. Dia berdiri di tempat lelaki itu terbaring, sedikit membungkuk. Lalu apa yang akan dilakukannya sekarang?
Dia tidak punya persiapan apa pun.
“Gila, kenapa aku harus percaya pada perjanjian iblis dan penyihir? Benar, ini tahun 2031. Tidak ada hal seperti itu. Tidak ada. Tidak ada.”Ace menggeleng berkali-kali seraya meyakinkan diri. Dia berpikir lebih baik bergegas ke subway sebelum terlambat.
Langkah Ace terhenti karena keadaan sekitarnya terasa aneh. Desau angin membuat Ace merinding. Semua layaknya halusinasi. Namun, dia merasa perasaan asing dan panggilan-panggilan itu terasa nyata. Dia merasa semuanya bergerak lambat. Jam besar kota juga mobil-mobil listrik. Pandangannya berkunang-kunang karena berkas cahaya yang begitu terang hingga perlahan memutih seutuhnya.
Setelah dipikir-pikir, dia memang menganggap remeh kabar angin yang tengah ramai dibicarakan. Dia merasa naïf. Dia berpikir hal ini tidak akan pernah ada. Entah sihir atau perjanjian dengan iblis. Sedetik pun Ace tidak pernah percaya harapan yang selama ini dia dambakan akan ikut menghilang.
Ace merasa tubuhnya seringan bulu dan kepalanya berdenyut-denyut. Lalu semuanya menjadi putih. Seluruh tubuh Ace mulai gemetar hebat dan mati rasa sebelum pecah menjadi ribuan keping cahaya. Suara langkah kaki perlahan berganti menjadi dengung mesin. Ace tersentak bangun. Pelan-pelan, dia membuka mata lalu mengerjap. Napasnya terengah-engah. Dia spontan menyentuh tubuh dengan tangannya sendiri. Tubuhnya masih utuh. Tidak ada luka apa pun.
Setelah menghabiskan sedikit waktu untuk menyesuaikan penglihatan dengan silaunya cahaya, dia duduk. Namun, pening yang luar biasa hebat menghantam kepalanya. Dia menunggu beberapa menit sampai peningnya mereda lalu mulai beradaptasi dengan keadaan sekitar. Ace mengabaikan pandangannya yang masih berkunang-kunang dan tetap mengamati tempatnya berada.
Namun, dia ada di mana? Apa yang terjadi?
Ruangan ini serbaputih. Dia sendirian.
Dengan kebingungan yang menyelimuti, Ace berdiri. Tidak ada lantai, dinding, atau apa pun. Apa dia melayang? Tidak, dia masih bisa merasakan kakinya bergerak, menapak pada sesuatu yang tak terlihat. Dia tidak mendengar juga mencium aroma apa pun, hanya merasakan udara dingin menusuk kulitnya yang tertutup jaket.
Untuk kali ini, firasatnya benar-benar sangat buruk. :