Aku ada di mana?
Kepala Ace berdenyut-denyut ketika berusaha mengingat hal terakhir yang dialaminya. Terakhir kali, dia melihat seorang lelaki menghilang di lorong sempit. Kepanikan kini menguasai Ace ketika kabar angin itu melintasi otaknya.
“Kau sudah sadar?” Suara perempuan terbata-bata dengan nada dingin dan datar menggema di sekitar Ace.
Langkah Ace terhenti. Dia mengedarkan pandangan, tapi tidak menemukan siapa pun. “Siapa kau? Tidak perlu bersembunyi!”
“Kau tidak akan melihatku karena aku memang tidak berwujud.”
“Apa? Jadi kau salah satu penyihir kuno yang menyeretku ke sini?”
“Tidak perlu berburuk sangka terlebih dahulu. Namaku N-101, NPC yang diciptakan Creator. Selamat datang di Erfheim Rebirth.”
“NPC? Erfheim Rebirth?” Ace mengernyit.
“Hanya Creator yang bisa mengendalikan dunia ini. Aku yakin kau pasti menyadari fenomena aneh yang terjadi di masyarakat saat ini.”
Muncul kotak-kotak digital mengelilingi Ace, menunjukkan orang-orang yang sekarat mulai menghilang. Tak hanya ratusan, tapi jutaan. Mereka lenyap seperti yang dialami Ace. Kalau begitu, apakah artinya mereka terlempar ke Erfheim Rebirth? Mereka masih hidup? Tunggu, jika benar orang-orang yang sekarat terlempar ke Erfheim, bagaimana dengan ayahnya? Ace merasa sesak karena mengingat hal itu. Di satu sisi, Ace berharap sang ayah masih hidup, tapi di sisi lain dia tidak percaya. Tidak mungkin ada dunia virtual secanggih Hilfheim.
“Jadi, ini ada kaitannya dengan peniadaan riwayat pemakaman di Hilfheim?”
Hening sesaat. Lalu suara itu kembali terdengar. “Benar. Semua orang yang sekarat, tanpa memandang usia, akan terlempar ke permainan ini.”
“Bagaimana denganku? Aku terlempar ke dunia ini dalam kondisi baik-baik sa—“
“Kau telah melanggar peraturan.”
“Apa?” Tubuh Ace langsung menegang. Melanggar peraturan katanya? Jadi alasan dirinya terjebak ke tempat ini karena melanggar peraturan? Ace menduga ada hubungannya dengan lelaki yang menghilang itu. Jadi, karena ketidaksengajaan konyol, nyawanya terjebak antara hidup dan mati?
“Kau takut aku membocorkan informasi tentang permainan ini? Jika iya, kau tidak perlu khawatir. Sampaikan pada Creator-mu bahwa aku tidak akan mengusik mereka. Jadi, cepat keluarkan aku sekarang. Tidak ada alasan untukku berada di tempat ini.”
“Tidak ada keringanan apa pun. Para Creator tidak menerima negosiasi.”
“Kau kira aku akan percaya begitu saja?” Ace tertawa hambar, lalu mengacak-acak rambut biru tuanya. “Cepat keluarkan aku dari tempat ini sekarang!”
“Itu mustahil. Permainan ini tidak bisa dihentikan. Tubuh dan jiwamu telah terjebak dalam portal Erhfeim Rebirth, yaitu tempat ini. Mustahil untuk melarikan diri. Ingatan orang-orang tentangmu di dunia nyata akan terhapus sampai kau berhasil menyelesaikan permainan ini.”
“Menyelesaikan permainan? Kau pintar mengatakan hal konyol rupanya.”
Suara perempuan berganti dengan deru mesin. Perlahan, ruangan serbaputih berubah menjadi biru muda. Layar-layar tembus hologram muncul dengan menampilkan suatu pegunungan yang dikelilingi awan tanpa kendaraan terbang. Tidak ada bangunan mewah, gedung pencakar langit, jalur lintas udara, atau jalan raya. Ace terpukau melihat danau yang begitu luas dan indah dengan beragam warna.
“Ini adalah Erfheim Rebirth.” Suara perempuan itu muncul seiring tampilan monitor yang berubah.
Ace ternganga ketika hewan besar muncul dari balik pegunungan. Tinggi mereka lebih dari gedung pencakar langit, dengan sayap menyerupai kelelawar. Persis reptil raksasa bersayap yang sering dilihat Ace di buku-buku mitologi. Ace merasa ngeri ketika hewan besar itu menyemburkan api ke sekeliling. Hutan menjadi abu dalam sekejap.
Dengan bodohnya tangan Ace yang gemetaran menyentuh salah satu monitor sebelum semuanya menghilang. Ruangan serbaputih yang dingin itu kembali.
Meski sempat terpaku, Ace memberanikan diri untuk berkata, “Apa yang terjadi jika mereka mati dalam permainan?”
“Jiwa mereka akan terkurung hingga ada pemain berhasil mendapatkan Lubnej, bola naga yang mampu mengabulkan permintaan, termasuk mengembalikan seluruh pemain ke dunia nyata. Lubnej hanya bisa didapat setelah menyelesaikan misi utama, yaitu menyegel Apostologia, naga abadi yang dikendalikan penyihir hitam. Perlu diingat bahwa waktu di dalam permainan sama dengan waktu di dunia nyata. Usiamu di dunia nyata akan terus berkurang sebelum akhirnya mati.”
“Jangan bercanda. Aku harus menjenguk ibuku secepatnya.” Ace menggeleng-geleng tak percaya. Layaknya orang bodoh, Ace meraba-raba ruangan, berharap menemukan pintu atau sesuatu yang bisa mengeluarkannya. Dia harus segera keluar. Namun, NPC itu seakan mengurungnya di ruangan tidak terbatas. Sejauh apa pun Ace melangkah, tidak ada hal yang bisa disentuhnya. Ace memandang kedua tangan, sementara keringat mulai bercucuran membasahi hoodie biru mudanya meski udara di sekitarnya dingin.
“Kau tidak akan bisa keluar dari tempat ini. Hanya Creator-lah yang berhak mengeluarkan pemain. Baiklah. Waktunya sudah hampir habis. Perkenalannya cukup sampai di sini. Kau harus memutuskan dengan cepat.”
Sebuah jam pasir besar melayang di depan Ace. Ragu-ragu Ace mendongak.
“Kuberi waktu lima belas detik. Kau mau bergabung dalam permainan dan berjuang untuk kembali ke dunia nyata, atau tetap diam di sini menunggu ajal?”
Darah Ace semakin terasa membeku. Sempurna sudah semua kegilaan ini. Detak jantungnya bertambah cepat. Mati perlahan di dunia virtual sama sekali tidak bagus. Dia bukan penggemar game online gila yang akan berseru kegirangan, bukan orang yang mendambakan dunia baru, atau apa pun itu. Dia tidak ingin merelakan masa mudanya untuk bertualang di dunia virtual. Tidak ada jaminan dirinya berhasil. Bisa saja dia terjebak selamanya bersama jutaan jiwa dan tidak bisa bertemu ibunya kembali.
Namun, Ace tidak bisa berdiam diri seperti orang bodoh. Dia harus bertemu lagi dengan ibunya. Ace harus bilang kalau dia menyayangi ibunya, berharap ibunya bisa kembali seperti dulu. Lagi pula, mungkin ayahnya terjebak di dunia ini. Jika Ace bisa menemukan sang ayah lalu membawanya kembali, mungkin ibunya akan senang. Mungkin mereka bisa kembali seperti dulu. Mungkin—
“Waktu habis. Tentukan pilihanmu.”
Ace terpejam, menarik napas dalam seakan memantapkan pilihan. Lututnya gemetar. Dia tidak bisa melarikan diri. Tidak akan bisa walaupun dia menjelajahi ruangan ini sejauh apa pun. Setidaknya, Ace masih bisa berharap.
“Aku akan bergabung dalam permainan.” Ace merasa kuburannya telah sempurna setelah kalimat itu terucap.
Beberapa saat kemudian, NPC itu bicara lagi, “Keputusan yang bagus. Aku akan menjelaskan sedikit tentang permainan ini. Anggap saja sebagai bekal perjalananmu nanti.”
Suara bising mesin itu terdengar lagi sebelum akhirnya menghilang. Di sisi kanan Ace muncul tiga tombol putih dengan gambar berbeda.
Tombol paling atas dengan siluet manusia terbuka, menampilkan simbol-simbol dan angka.
“Tombol ini berfungsi untuk mengecek profil, status, dan skill-mu. Kau tidak perlu khawatir. Aku telah mempersiapkan weapon, armor, dan perlengkapan untuk sementara. Ketika berhasil mengalahkan lawan tertentu, kau bisa mendapat pakaian dan weapon yang berfungsi meningkatkan daya tahan dan meningkatkan kekuatan. Tentu peralatan itu bisa kau tingkatkan kemampuannya melalui pandai besi di kota.”
“Apa bisa membunuh pemain lain?”
“Kau hanya bisa melakukannya di area bertarung, bukan wilayah aman. Jika berhasil membunuh pemain lain, kau akan dikenakan penalti dan mudah diserang. Di bagian atas, kau bisa melihat status. Warna hijau berarti kau aman berkeliaran ke mana pun. Warna kuning menandakan kau melanggar suatu aturan, sedangkan warna merah berarti kau kena penalti.”
Ace mengangguk paham. Tidak disangka, ternyata permainan ini memiliki peraturan yang adil bagi orang awam. Namun, jika membayangkan ada pemain gila yang membantai pemain lain, Ace merinding seketika.
Tombol urutan kedua dengan gambar tas terbuka, menampilkan kotak-kotak kecil berderet. Di bagian bawah terdapat persegi panjang yang bertuliskan ED.
“Ini penyimpananmu. Kau bisa menyimpan hasil buruan, weapon, pakaian, dan atribut di sini. Kau juga bisa menjualnya ke NPC kota atau pemain lain. ED adalah mata uang di Erfheim. Setiap menyelesaikan misi, berdagang, dan berburu, ED-mu akan bertambah. Semakin tinggi tingkatanmu, semakin tinggi pula bayarannya.”
Tanpa menunggu balasan Ace, NPC itu membuka tombol terakhir yang berbentuk seperti kerumunan orang. “Terakhir, kau bisa membentuk aliansi dan bergerak dengan kelompok. Kau bisa menambahkan pemain lain ke dalam friend list.”
“Bagaimana dengan hasil perburuan kelompok? Siapa yang akan mendapat hasilnya?”
“Jika hasilnya weapon, armor, atribut, atau barang langka, pemain yang terakhir kali membunuhlah yang berhak mendapatkannya. Lalu di atas kepalamu terdapat kursor.”
Ace mendongak. Terdapat segitiga hijau dengan tiga bar di bawahnya. Bar merah bertuliskan HP, bar biru bertuliskan MP, sementara bar kuning paling tipis bertuliskan Exp.
“HP atau health point adalah status kesehatanmu. Jika health point-mu kosong, karaktermu akan mati. MP atau mana point adalah besaran energi sihir yang bisa kaupakai. Kau bisa mengembalikan HP dan MP melalui potion yang didapat dari misi atau membelinya dari NPC. Exp atau experience adalah tingkatan pengalaman yang kaudapat dari menyelesaikan misi atau membunuh lawan. Semakin tinggi, semakin banyak skill atau kemampuan yang bisa kaudapat.”
Tiga tombol itu ditutup, seiring perasaan Ace yang makin tak keruan. Dia tidak bisa menyembunyikan kaki dan jemarinya yang bergetar ketika jam pasir itu perlahan berbalik. Waktunya habis. Entah keputusan ini benar atau tidak, Ace tidak yakin.
“Baiklah. Panduan pertama sudah selesai. Ini adalah portal permainan yang menghubungkan dunia aslimu dengan Erfheim. Dunia virtual ini mirip seperti papan catur yang terbuka lebar. Akan ada bidak yang kalah dan bidak yang bertahan. Jika mati, ya mati. Jangan pernah ragu dan naif untuk mencapai akhir.”
Ace enggan mengangguk, enggan menyanggupi. Apa pun caranya, dia akan terus bertahan hingga akhir. Mungkin akal sehatnya sudah rusak karena memercayai hal gila seperti ini.
Ketika jam pasir itu berbalik sempurna, Ace merasakan kantuk yang luar biasa. Perlahan matanya terpejam, lalu pikirannya mendadak kosong dan tenang. Hal terakhir yang didengarnya hanya suara NPC.
Dengan ini, kehidupan Ace akan berubah.