Ace merasa ada yang menyorot matanya, begitu terang dan hangat. Namun, kepalanya tidak terasa pusing seperti sebelumnya. Perlahan dia membuka mata. Rupanya cahaya silau ini berasal dari matahari yang menyusup dari celah dedaunan. Setelah beradaptasi selama beberapa menit, Ace memilih duduk. Jemarinya menyentuh rerumputan hijau yang segar dan terasa empuk. Udara sejuk cukup membantu Ace sedikit relaks.
Saat Ace berusaha berdiri. Tangan kanannya tanpa sengaja menyentuh sesuatu. “Tas?”
Alisnya bertaut mendapati tas selempang yang terbuat dari kain usang. Dengan ragu-ragu, Ace mengambil tas itu lalu membuka isinya. Terdapat lima botol tabung kecil mirip tabung uji coba laboratorium semasa sekolah. Masing-masing berwarna biru dan merah, di atasnya bertuliskan potion. Bisa jadi benda inilah hal yang dijelaskan NPC barusan. Di bawah tabung-tabung itu terdapat buku bersampul cokelat usang dengan tulisan kuno. Ace yakin dirinya tidak pernah belajar bahasa kuno, tapi kenapa dia bisa membaca tulisan ini dengan mudah?
Ace menyipitkan mata ketika sinar matahari kemerahan yang menerobos celah dedaunan memantul pada pedang. Dengan hati-hati, Ace menggenggam pedang yang terasa sadist. Ace menelan ludah. Panjangnya sekitar setengah lengan Ace. Mata pedang yang melengkung tajam seperti sanggup menusuk dan mengoyak tubuh monster, sedangkan di pegangan kayunya terdapat ukiran naga. Ace bukan pengguna pedang yang baik. Dia tidak pernah ikut ekskul pedang atau sejenisnya sewaktu sekolah, tapi pedang itu ringan baginya, bahkan lebih ringan daripada pisau lipat di dapur. Dari sulaman huruf A di bagian ujung tali, Ace menebak tas itu miliknya.
Tak ingin menghabiskan waktu sia-sia, Ace memakai tas itu lalu berdiri. Dengan bertopang pada batang-batang pohon, Ace mulai melangkah, menelusuri jalan setapak. Ketidaktahuannya tentang tempat ini sungguh menyesakkan. Sewaktu kecil menelusuri jalan setapak di hutan pinus memang menjadi kebiasaannya. Dia menikmati aroma pinus, memperhatikan daun-daun yang berguguran sambil menikmati udara segar. Terlepas dari ketidaksiapannya di Erfheim, hutan ini berhasil menenangkan pikiran Ace yang kacau.
[You have entered the Orwelz Forest]
[The Daily Quest has arrived.]
[Main Quest has arrived]
[Daily Quest: Collect Aelio Herb 0/10. Reward: 500 ED, 1000 EXP]
[Main Quest: Quit from Owelz Forest 0/1 Hadiah: 700 ED, 2000 EXP]
[Weekly Quest: Join a Party 0/1 Hadiah: 20000 ED, 10000 EXP]
Suara perempuan terdengar jelas begitu Ace menginjakkan kaki di daerah yang dibatasi oleh garis-garis transparan. Jelas ini bukan kehidupan nyata, bukan Hilfheim. Ace menduga ada seseorang di belakangnya, tapi ternyata hanya ada pohon-pohon tinggi. Ace mencoba memahami kalimat-kalimat yang muncul di kepalanya. Suara ini telah mengingatkannya pada NPC bodoh yang ditemuinya di Ruang Putih. Ini dunia game dan ini sungguh konyol.
Keluar dari hutan? Bergabung dengan party? Mengumpulkan Herb? Ace mengerti istilah-istilah itu, tapi dia tetap tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia tidak lagi berada di dunia nyata. Dia berada di suatu tempat yang tidak Ace mengerti. Siapa pencipta dunia ini? Apakah dia semacam Tuhan?
“Orang gila.” Ace mencelos. Dia telah menentukan panggilan sendiri untuk sosok yang disebut sebagai ‘Creator’.
Semak-semak di balik pohon bergemerisik membuat Ace tersadar dari pikirannya. Naluri membuat Ace mengeluarkan pedang pendek dari tas, lalu mengarahkannya ke sumber suara dengan waswas. Berbagai macam pikiran aneh mulai memenuhi benaknya.
Ace semakin waspada ketika suara itu mendekat. Kurang lima belas langkah dari Ace, seorang lelaki mendekat. Ace menyipit untuk melihat wajah lelaki yang tertutup sebagian rambut dan dikelilingi kabut samar. Pakaiannya merah gelap, seperti jubah yang dikaitkan di dekat bahu dengan baju serbahitam. Sepatu tinggi yang dikenakannya sedikit kotor oleh tanah. Di tangannya yang berbalut sarung tangan hitam, dia memegang scythe berujung runcing. Mirip dengan s*****a yang digunakan malaikat pencabut nyawa. Namun, dari gaya pakaiannya, lelaki itu terlihat seperti tokoh heroine dalam permainan online. Mata merah yang membuat kulitnya terlihat pucat benar-benar tidak normal. Ace merinding. Tanpa sadar, kaki dan tangannya gemetar ketika melihat ekspresi dingin dan datar seperti vampir.
Sebetulnya Ace langsung ingin menikam lelaki itu, tapi bisa saja lelaki itu jauh lebih hebat darinya. Tidak lucu jika mati di tempat awal permainan. Kaki Ace terus melangkah mundur ketika lelaki itu semakin mendekat. Matanya menyelidik, lalu tertuju pada lambang naga pada s*****a lelaki itu.
“Kau siapa?” Ace memberanikan diri bertanya.
Lelaki itu terdiam beberapa saat. Dia melirik pedang panjang yang dipegang Ace, kemudian menarik napas. Di atas kepala lelaki itu muncul sebuah jendela informasi transparan. Di sana tertulis nama, level, dan class lelaki ini. “Niel. Niel Zackween. Itu namaku.”
Mata Ace membulat ketika membaca tulisan di jendela transparan itu. Penyihir tingkat dua, Rank A. Orang ini adalah manusia, sama sepertinya. Dia juga tengah bertarung untuk bertahan hidup. Begitu bukan?
“Kau juga terlempar ke dunia ini?”
Niel mengangguk. “Kita lanjutkan sesi perkenalannya di ibu kota. Ayo.”
“Kenapa? Siapa kau? Kenapa aku harus menuruti orang asing sepertimu?”
Niel mengangkat bahu, lalu menunjuk langit di belakang Ace. Raungan yang memekakkan telinga membuat Ace menengok ke belakang. Sekitar dua ratus meter darinya, sesosok binatang besar—Bluriz— terbang ke arah mereka dengan kecepatan tinggi. Kulitnya yang mengilap seperti baja membuat Ace yakin pedang pendek ini tidak akan menembusnya.
Gerakan sayap yang sangat lebar seperti kelelawar dengan bebas mengempaskan pepohonan pinus. Seakan pohon-pohon itu adalah mainan kecil. Ace merasa tubuhnya melayang ketika cakar-cakar kuning menancap di depannya. Sekejap waktu seakan berhenti.
“Jangan melamun, bodoh!” Ayunan scythe Niel telah membuyarkan lamunan Ace. Kibaran jubah hitam mengganggu pandangan Ace, meski begitu, sesak di dadanya berkurang.
Ace sadar itu bukan naga, tapi besarnya setara dengan menara jam di Hilfheim. Gerakan yang cepat seperti kuda, sayap yang ringan seperti kelelawar, dan wajah garang seperti singa. Binatang itu meraung lagi. Seluruh tanaman mengering dan tanah meretak, seakan kehidupan mereka terenggut. Mungkin Ace akan langsung mati jika Niel tidak menariknya. Entah kenapa, insting Ace mengatakan kalau lelaki itu cukup kuat dan bisa diandalkan.
Ace merasa tanah bergetar. Binatang itu kembali terbang, lalu berhenti di hadapan mereka. Ayunan ekor panjangnya yang terlihat lentur siap melepaskan kepala Ace andaikan Niel tidak menariknya untuk menunduk. Mereka menjadikan batang pohon kering untuk bersembunyi. Sepertinya binatang buas itu tidak akan membiarkan mereka pergi dengan tenang.
Sesaat kemudian, sebuah jendela informasi muncul di depan mata Ace bersamaan dengan suara N-101 dalam kepalanya.