“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Lutut Ace gemetar. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain berpasrah pada Niel. Walaupun Ace berusaha lari, binatang itu akan mengempasnya kembali.
“Kabur. Bluriz tidak mudah dikalahkan.” Niel menjawab singkat, tapi Ace tidak mengerti maksud lelaki itu.
Kabur katanya? Kabur dari binatang yang besarnya seratus lipat dari ukuran tubuh mereka? Itu konyol! Apalagi dia tidak memiliki kekuatan apa pun. Pedang pendek ini tidak akan mungkin menembus sisik tebal itu. Jangankan menembus, menggoresnya saja Ace yakin pedang ini akan patah terlebih dahulu. Satu-satunya cara untuk kabur adalah menghadapi binatang ini sambil mencari celah.
“Bagaimana dengan Quest-nya?”
“Itu bukan sesuatu yang harus kau pikirkan sekarang. Jika kita mementingkan Special Quest, levelmu yang tidak sebanding akan membawa kematian.”
Bagaimana bisa Niel tenang saat binatang buas itu menoleh pada mereka? Apa gunanya scythe Niel sebenarnya? Atau jangan-jangan Niel hanya pemain pemula sepertinya? Ace merinding membayangkan kemungkinan terburuk. Dari cara binatang itu terbang dan meraung, kemungkinan menggunakan kekuatan alam. Ace menyadari ketika binatang itu merenggut kehidupan pohon, lalu mengubahnya menjadi kekuatan besar.
Bluriz kembali melebarkan sayap. Entah apa yang terjadi, ketika binatang itu menyerang dengan kepakan sayap, tanah bergetar hebat. Ada sesuatu di bawah tanah yang meledak-ledak keluar diiringi suara rantai. “Tetaplah di sini.” Niel berucap lirih sebelum berhambur keluar.
Wajah Ace memucat ketika Niel berdiri di hadapan Bluriz yang kembali melebarkan sayap. Mata ruby Niel bertatapan dengan mata zamrud berbintik kuning binatang itu. Gerakan Bluriz begitu cepat sehingga Ace tidak dapat melihatnya.
Niel melompat mundur dengan lincah. Sambil menggumamkan sesuatu, dia mengangkat scythe dengan tangan kanannya. Ace terpukau ketika lelaki kurus itu meluncur dari atas, memanfaatkan pepohonan yang tumbang untuk memompa kekuatan. Dalam sekejap, Niel berhasil menghindari kepakan sayap, lalu mendarat di atasnya. Dia menggumamkan kalimat panjang. Lalu tanah bergetar hebat, seakan ada yang meronta-ronta di bawahnya.
Rantai-rantai hitam dengan aura merah muncul dari tanah, mengekang kaki-kaki kuda bercakar singa. Tubuh Bluriz meronta hebat hingga rantai itu gagal menahannya. Terdengar bunyi hantaman sangat keras ketika Niel terpental ke pepohonan. Serangan itu telah menghabiskan hampir seperempat dari HP bar Niel.
Ace tidak tahu apa yang dipikirkannya barusan, tapi tiba-tiba saja pedang pendeknya telah digenggam. Tangannya yang gemetar nyaris membuat Ace tidak mampu memegang gagang pisau. Ace menatap mata zamrud itu dengan tajam. Meski Niel terlihat kuat, Ace tidak ingin bergantung pada lelaki itu. Dia tidak ingin terlibat utang budi yang bisa menjeratnya pada kemudian hari. Saat ini, Ace tahu mereka tidak punya peluang melarikan diri, tapi pasti ada jalan lain.
Ace mengamati seluruh tubuh binatang itu. Kepalanya mungkin sulit diraih karena ketinggian mereka berbeda jauh, dan Ace tidak bisa melompat setinggi Niel. Lagi pula, sisik-sisiknya yang berkilau terlihat licin akibat cairan aneh yang keluar terus-menerus.
Sayap itu juga sama. Melihat Niel diempas dengan sayap membuat Ace merinding. Menyerang kaki bercakar dengan sisik juga ide yang buruk. Taring-taring kekuningan berujung runcing itu bisa menancap di kepala atau tubuhnya dengan mudah. Sekilas, bluriz ini tidak memiliki kelemahan. Jangan lupakan insting binatang buas yang bisa merasakan hawa keberadaan.
Ace memberanikan diri berlari secepat mungkin. Dengan teriakan kecil, dia melompat. Posisi kepala Bluriz yang tinggi membuat lehernya yang tidak bersisik menjadi sasaran mudah. Dengan cepat dan sekuat mungkin, Ace melempar pedang pendeknya.
Namun, insting binatang buas memang tidak bisa ditipu. Binatang itu membalas dengan raungan. Pedang pendek Ace terpental sebelum berhasil menembus leher, sementara ekornya siap mengempas tubuh Ace. Lelaki itu terpental, hampir menimpa Niel yang baru saja bangkit.
“Ah, s****n!” Ace merutuk menyadari bar HP-nya berkurang hampir 75%, tersisa 25% mendekati kematian. Meski garis yang berkurang hanyalah sekumpulan angka yang menunjukkan sisa hidup Ace. Kenyataannya, dia tengah bertaruh nyawa. Tidak lebih, tidak kurang. Sekujur tubuhnya terasa sakit sampai tulang-tulangnya seakan bergeser. Dia tidak menyangka Niel masih hidup dan terlihat baik-baik saja. Padahal Ace yakin Niel terempas dari ketinggian dan menghantam batang pohon. Jika di dunia nyata, Ace yakin lelaki itu sudah mati. Bahkan bar HP-nya hanya berkurang sedikit. Sebesar itukah perbedaan kekuatan mereka?
Pertarungan yang sedang berlangsung saat ini sangatlah tidak adil. Musuh di depan mereka adalah monster spesial dengan level 100. Mereka bukanlah manusia yang bertaruh nyawa, tapi sekumpulan data digital yang akan terus muncul berapa kali pun dibunuh. Di balik data itu, mungkin sebuah AI telah mengendalikan monster-monster ini, memperbaiki respon seiring waktu berjalan. Tapi, saat dihancurkan, data tentang pertarungannya hilang dan tidak diturunkan ke monster lain yang sejenis.
Bagi Ace ini mengerikan. Monster-monster itu terlihat seperti manusia yang memiliki pikiran masing-masing.
Tatapan binatang itu tertuju pada mereka sambil berdesis, menunjukkan taring tajam dari rahangnya. Niel bergegas mengambil scythe-nya kembali, lalu memutarnya beberapa kali. Bagi Ace, ini kali pertama dia melihat pertarungan monster dan manusia. Dia seperti melihat tokoh utama permainan bertempur dengan begitu keren dan mengalahkan musuhnya. Entah kenapa, setelah melihat pertarungan singkat barusan, Ace merasa dia memiliki sedikit harapan pada Niel.
Haruskah dia membantu Niel? Sepertinya tidak. Bar HP-nya hanya tersisa seperempat. Ace menyadari perbedaan kekuatan antara dirinya dan Bluriz. Satu serangan kecil bisa benar-benar membunuhnya kali ini.
Ini adalah kenyataan. Semua yang ada di dalam dunia ini adalah nyata. Bukan lagi permainan atau sejenisnya.
Tantangan berikutnya tiba. Sebelum binatang buas itu menyerbu, rantai-rantai hitam beraura merah kembali muncul. Namun, rantai-rantai itu tidak menahan pergerakan seperti sebelumnya. Ujung-ujung rantai yang tajam seperti ekor iblis menancap di beberapa bagian tubuh. Raungan memekakkan kembali terdengar. Sebuah tangan bercakar mengayun ke arah Niel, tapi lelaki itu telah siap. Dia mengayunkan scythe sambil menggumamkan mantra.
Cahaya kemerahan yang menyilaukan menyala dari ayunan scythe tersebut. Sebuah skill kelas atas [Cross Roller] yang dapat menciptakan serangan sejauh empat meter dalam waktu tiga detik telah diaktifkan.
Ace tidak tahu insting bertarung Niel memang baik atau lelaki itu telah terjebak di sini cukup lama. Tapi Niel berhasil menghalau serangan. Perisau berbentuk aura merah tua mengelilingi tubuh Niel dan membuat tempatnya berpijak menghitam. Ketika tangan kanan Niel terangkat, rantai-rantai itu kembali bergerak bebas. Darah hitam menyembur ketika ujung rantai menembus sisik tebal Bluriz. Binatang buas itu kembali meraung. Kulitnya berubah.
Kini terlihat seperti kulit baja kokoh yang dikelilingi aura hitam. Luka-luka akibat serangan Niel perlahan menghilang, bahkan darah-darah di kulitnya ikut lenyap. Sayapnya yang masih ditusuk rantai digerakkan kuat-kuat hingga keduanya membentang. Begitu besar dan membuat Ace terbelalak.
[Level musuh terlalu tinggi untuk diserang]
Sebuah pesan muncul di kepala Ace. Dia menyaksikannya sendiri. Rantai-rantai itu meleleh. Kulitnya mengeluarkan uap panas yang terlihat melelehkan apa pun yang disentuh atau menyentuhnya. Di saat Ace masih takjub sekaligus ngeri dengan pemandangan di hadapannya, Niel menghampiri lelaki itu.
“Kau membuatnya marah!” Ace berjengit ketika dua mata binatang itu mendapati mereka.
“Bagus.” Niel merapat ke batang pohon dan mengangkat scythe dengan tangan kanan.
“Apa yang akan kita lakukan? Seranganmu gagal.”
“Aku memang tidak berniat menyerang.”
“Lalu?”
“Mencari kesempatan untuk kabur. Seranganku tidak berpengaruh pada Bluriz yang juga memiliki sihir gelap.”
Binatang itu terbang. Udara panas menerpa mereka, membuat bar HP mereka perlahan berkurang. Suara raungan terdengar memekikkan telinga. Ace menutup kedua telinganya, sementara Niel diam memperhatikan gerakkan Bluriz. Jika Ace lupa kalau lelaki itu menyelamatkan nyawanya, mungkin dia sudah menancapkan pedangnya pada Niel.
“Nah, berpeganglah padaku dengan erat.”
“Apa?” Ace mengernyit.
“Berpeganglah dengan erat.” Niel mengulangi ucapan seraya memperhatikan gerakan Bluriz yang semakin mendekat.
“Apa yang akan kaulakukan?”
“Kabur.”
“Dengan cara?”
“Berpeganglah yang kuat padaku. Atau kau akan mati.” Niel menyodorkan rantai di ujung scythe-nya.
“Baiklah.” Ace mengalah. Dia memegang erat ujung rantai scythe, seolah-olah memasrahkan nyawanya pada sosok yang baru dikenalnya itu.
Ya, dia tidak punya pilihan. Nyawanya bergantung apakah rencana gila Niel yang tidak diketahuinya sama sekali akan berhasil atau tidak. Toh bertahan di tempat ini bukan ide bagus. Dia tidak bisa membiarkan udara panas itu mengikis bar HP-nya terus-menerus.
“Kau siap?”
“Tidak—Ah, iy–tidak—ah! Baiklah. Aku siap! Entah mati atau tidak, yang penting aku siap.” Ace menggeleng berkali-kali. Genggamannya pada rantai diperkuat.
Lalu dalam hitungan detik, Niel mengayunkan scythe itu ke kepala Bluriz. Binatang itu meronta lebih kuat ketika scythe tertancap sempurna, tertahan sisik-sisik tebal dan keras. Tubuh mereka tertarik, bergelayut dengan rantai yang terombang-ambing. Sayap kelelawar Bluriz membuat mereka terbang semakin tinggi. Ace merinding ketika melihat ke bawah. Jika pegangannya pada rantai terlepas, tubuhnya pasti menghantam tanah dengan kuat.
Seluruh tubuhnya mendingin dan membuat genggamannya pada rantai mengendur. Namun, seolah mengetahui kesulitan Ace, Niel melepaskan scythe-nya dari kepala Bluriz, lalu melilit tubuh mereka dengan rantai agar tidak terjun bebas.
Dia kembali mengaktifkan sebuah skill, lalu rantai-rantai itu berubah menjadi bayangan hitam yang membawa mereka menjauh.
Samar-samar, Ace bisa melihat binatang itu menggila. Ada yang aneh, pikir Ace. Binatang itu seperti mengamuk sendirian, meninggalkan pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya tentang lelaki yang membawanya keluar hutan.