Matahari sudah terbenam saat mereka tiba di gerbang besar. Sinar matahari berwarna kemerahan menyinari jalanan. Niel mengeluarkan emblem bergambar scythe saat NPC penjaga menghampiri. Setelah mengecek identitas, penjaga itu mengangkat tangan sebagai isyarat. Pintu kayu bertuliskan ‘Dawn Grimmer’ terbuka.
Sambil mengabaikan pesan-pesan yang memasuki kepalanya, Ace mengikuti Niel menelusuri jalanan besar yang terbuat dari batu. Kota Dawn Grimmer cukup besar. Bangunan-bangunan di tempat ini bertingkat dua dan terbuat dari kayu, membentuk barisan memanjang yang rapi. Dari kejauhan, Ace melihat bayang-bayang istana besar dikelilingi tembok kokoh. Kekaguman Ace sepertinya menutupi ketakutannya beberapa waktu lalu. Meski langit mulai gelap, tempat itu masih beraktivitas.
Ada lumayan banyak toko di sini, mengitari kota-kota yang dikelilingi lampu jalan. Bahkan NPC di sini berjalan berkeliling dengan pakaian yang seragam. tapi menurut Niel tidak ada player-player yang memiliki rumah di sini karena harganya sangat mahal. Sangat mustahil untuk membelinya di level rendah.
Napasnya berhenti sesaat karena kecantikan kota yang disinari oleh cahaya kemerahan. Semua terasa begitu nyata sampai Ace lupa bahwa semua ini hanyalah sekumpulan data yang membentuk 3D. Ace mencium aroma makanan yang mengingatkannya pada sup instan kesukaan sang ibu. Saat ini, Ace berharap mendapat kesempatan merasakan makanan enak. Tunggu, apakah rasa makanan di sini akan sama seperti di dunia nyata?
Niel menarik lengan Ace ketika segerombol perempuan bergaun ruffle mendekat. Mereka bukan NPC karena di atas kepala mereka muncul jendela informasi tentang nama dan level. Ace menebak, perempuan-perempuan itu penggemar Niel. Terlihat dari gelagat mereka yang tersenyum-senyum malu walau Niel tidak menggubris.
Selembar papan kayu lapuk bertuliskan “Penginapan Hazelett, Distrik 14” bergantung di depan pintu masuk penginapan, bangunan kayu yang tingginya melebihi bangunan lain dan dibingkai batu pualam di sisi-sisinya. Halamannya luas, cukup untuk memarkirkan tiga atau empat kereta kuda. Meski terlihat cantik, penginapan itu terlalu banyak warna cokelat hingga terkesan kuno.
“Ayo, masuk.”
Terdengar sorak-sorai dari dalam penginapan ketika Niel membuka pintu. Bagi Ace, tempat ini lebih mirip bar dibanding penginapan. Terdapat beberapa pasang meja yang dipenuhi orang-orang berpakaian seperti Niel. Ace merasakan tatapan orang-orang itu tertuju padanya. Mungkin karena pakaiannya sendiri yang berbeda—mengenakan hoodie biru dan celana jins hitam.
“Oh, ada pendatang baru lagi?” Seorang perempuan berambut merah dengan jubah panjang mendekati Ace, tapi langsung ditahan oleh Niel.
“Ups. Tidak perlu galak begitu. Aku hanya ingin menyapa pendatang baru yang manis ini.”
“Menjijikkan.” Satu kata yang terlontar dari Niel mengundang gelak tawa perempuan itu. Dengan cepat, Niel menarik Ace menuju gerombolan di sudut bar dekat jendela.
“Apa mereka juga sama sepertiku?” tanya Ace sambil mengedar pandang.
“Iya.”
“Guild-ku. Mereka orang-orang yang bisa dipercaya. Kehidupan di sini sama saja seperti memakan atau dimakan. Jadi kau perlu berhati-hati dalam membentuk party atau bergabung dengan guild.”
Jika dalam game sungguhan, guild adalah sekumpulan player yang membentuk komunitas yang dipimpin oleh seorang player dengan level tinggi. Biasanya mereka menaklukan dungeon atau mengerjakan quest bersama untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak. Ace tidak tahu apakah sistemnya sama atau tidak, tapi dia terkejut begitu melihat daftar player dan nama guild itu. Hanya enam orang, tujuh jika Ace bergabung. Tidak seperti yang Ace bayangkan dari sebuah guild yang mampu menampung hingga seratus orang.
“Kau membawa orang asing lagi, huh?” Lelaki bertubuh pendek bicara. Meski rambutnya putih seperti kakek-kakek, wajahnya seperti anak-anak. Mungkin usianya lebih muda daripada Ace. Sekitar enam belas atau tujuh belas tahun. “Jadi, kau sekarat karena apa? Kecelakaan? Ditusuk? Atau apa?”
“Apa?” Ace mengernyit. Dia terkejut bukan karena pertanyaannya, melainkan nadanya yang ketus.
Lelaki pendek itu menghela napas. “Iya, semua orang yang dikirim ke tempat ini dalam kondisi sekarat di dunia nyata. Bagaimana denganmu?”
Ace terdiam lagi. Jika dipikir-pikir, fenomena yang terjadi padanya sedikit berbeda. Dia tidak sekarat. Mendadak Ace kesal mengingat alasannya terlempar ke dunia ini.
“Kasusku agak berbeda.”
“Berbeda?” Lelaki berambut putih itu mendesak lagi. Kemudian dia mendecak kesal dan menyandarkan punggungnya ke tempat duduk. “Ah, membosankan. Padahal aku selalu menantikan cerita mengerikan dari pendatang baru. Si Landak Merah terlempar ke dunia ini setelah ditusuk orang tak dikenal.”
“Diamlah, Lucas. Kau ini berisik sekali. Dia sepertinya masih syok. Ah, jadi kau menemukannya di mana, Niel?” Seorang lelaki berambut merah bicara, tidak memedulikan si rambut putih yang mendelik padanya.
“Di Hutan Orwell.”
“Wow, jarang sekali mereka menurunkan pendatang di sana. Bukankah itu kandang Bluriz? Jadi, siapa namamu?”
Entah kenapa, meski dilanda keterkejutan, Ace tetap menjawab. “Ace. Ace Clauser.”
“Nama yang bagus. Ah, sepertinya kau masih kebingungan, ya? Tidak apa-apa. Jalani saja. Aku Demian Scientia. Aku berada di tempat ini sejak seminggu lalu dan baru mendapatkan sihir beberapa hari lalu.”
“Sihir?” Ace tertegun. Dia benar-benar mendengarnya. Sihir. Sesuatu yang tidak pernah dipercayainya sejak lahir, kini dia dengar sendiri dari orang yang mendapat sihir.
“Ah, kau pasti masih merasa aneh, ya?” Lelaki itu menarik napas, lalu mendekatkan posisi duduk dengan Ace, merangkulnya seakan mereka teman dekat. “Lebih tepatnya, sihir Dragon Slayer. Sihir yang bisa membunuh seekor naga.”
Mata Ace membulat. Sihir yang bisa membunuh seekor naga? Apakah benar-benar ada hal yang seperti itu? Tidak. Ini adalah dunia game dengan misi terakhir menyegel Apostologia. Kemunculan sihir yang bisa membunuh naga adalah sesuatu yang logis.
Demian menatap Hilla yang menatap Ace lembut. “Namanya Hilla. Dia memiliki sihir panah yang hebat. Dan, ya, asal kau tahu, Hilla bisa menciptakan hujan panah dengan kecepatan tinggi meski tanpa pijakan.”
Ace terpukau saat mendengar penjelasan Demian. Dia tidak menyangka perempuan berwajah lembut itu memiliki sihir yang hebat. Rambut cokelat Hilla yang dikelabang mengayun pelan ketika mendekatkan wajah pada Ace.
“Nah, salam kenal ya, Ace. Aku harap kau tidak rajin membuat masalah seperti mereka.”
Ace tertawa canggung. Jarang sekali ada perempuan yang mau mendekatinya seperti Hilla. Apalagi di Erfheim, dirinya terkenal sebagai penyendiri yang bermasalah.
“Dia Edgar.” Demian menunjuk lelaki yang duduk di hadapannya. “Sesuai ukuran tubuhnya, Edgar memiliki sihir memanipulasi pedang besar. Ngomong-ngomong, kau jangan takut pada Edgar hanya karena wajahnya yang menyeramkan. Dia itu baik dan lemah lembut, lho.”
Kesal, Edgar meletakkan gelas dengan kasar. “Jangan asal bicara, Demian.”
“Woah-woah, kau belajar bermulut tajam dari Lucas, ya? Ah, lelaki itu namanya Lucas si Bocah Kerdil. Meski pendek dan kecil, dia bisa bergerak sangat cepat dengan sihir listriknya. Yah, walau tidak terlalu keren, dia cocok untuk umpan.”
“Itu karena kalian gerakannya lambat dan otaknya kecil. Hanya aku yang bisa memikirkan rencana selagi mengalihkan musuh. Dasar Landak Merah Bodoh.”
Ace menatap Lucas lekat-lekat. “Jika di tempatku, sihir Lucas sangat berguna.”
“Dunia moderen ya?” tanya Edgar.
“Iya. Semua aktivitasnya menggunakan listrik, jadi sepertinya Lucas bisa jadi orang terkaya di sana.”
“Huh. Jangan sembarangan. Aku tidak menggunakan kekuatanku untuk hal seperti itu. Tidak keren.”
Ace terkekeh melihat Lucas yang melipat kedua tangan dengan angkuh. Namun, meski mendengar sihir-sihir mereka yang mengagumkan, rasa penasarannya tentang Niel belum pudar. Lelaki berambut hitam panjang itu sejak tadi terlihat begitu tenang. Padahal mereka baru saja selamat dari Bluriz yang mematikan.
“Sihir Niel apa?” tanya Ace sebelum Demian melanjutkan. Pertanyaan Ace membuat empat orang lain menatapnya serius.
“Kau sudah melihatnya sendiri.” Niel menjawab singkat tanpa penjelasan apa pun. “Tidak ada yang istimewa dari kekuatanku.”
“Hei, kau merendah lagi, Bung!” Demian menyenggol Niel dan membuat lelaki itu mendengkus kesal. “Jangan hiraukan Niel. Dia memang begitu, padahal sihirnya cukup kuat. Yaaah, meski dia tidak sekuat sihirku, sih. Kau tahu? Api! Api selalu jadi yang terkuat di permainan apa pun, kan? Nah, kekuatanku itu api.”
Demian mengangkat tangan kanannya lalu tak lama muncul kobaran api kecil. “Lihat, kan? Nah, kau juga bisa memiliki sihir seperti ini dengan batu Obsidiant yang didapat setelah membunuh naga.”
Ace menengang. “Membunuh naga?”
Jadi, orang-orang di hadapannya ini telah membunuh naga? Tapi, bagaimana caranya? Mustahil rasanya membunuh naga tanpa sihir dan hanya mengandalkan s*****a fisik.
“Tidak perlu berpikir keras begitu.” Tangan Hilla yang kecil berbalut sarung tangan hitam menepuk bahu Ace. Kemudian dia menunjukkan jendela informasi yang bertuliskan skill tree dengan barisan kotak-kotak dengan ikon yang berbeda. Masing-masing kotak itu memiliki nama dan level, juga beberapa baris keterangan.
“Ada sihir dasar yang bisa membantumu membunuh naga. Setiap naik level, kau akan membuka slot-slot di skill tree. Kau bisa meningkatkan mereka dengan skill point yang didapat setelah naik level. Dan lagi, kau pasti mendapat buku sihir, kan? Pelajari saja beberapa mantra dasar yang lumayan berguna.”
“Tapi orang-orang yang terdampar di sini tidak semuanya mendapatkan sihir Dragon Slayer meski sudah berhasil membunuh naga.” Lucas melanjutkan. “Dari sekian banyaknya manusia yang terlempar kemari, hanya ada sepuluh persen yang berhasil mendapat sihir Dragon Slayer. Biasanya yang tidak mendapat sihir hanya menetap di kota dan berdagang, sedangkan yang mendapat sihir Dragon Slayer akan membentuk grup untuk mengalahkan Apostologia.”
Ace terenyak. Mendadak sesuatu dalam darahnya berdesir. Tentu saja dia merasa ini tidak adil dan menyebalkan. Bahkan setelah melalui rintangan yang sulit untuk membunuh naga, seorang penyihir belum tentu mendapatkan sihir Dragon Slayer? “Jadi, tidak semuanya mendapat sihir Dragon Slayer?”
Demian mengangguk. “Orang-orang yang mendapat sihir itu disebut Dragon Slayer.”