Pernah suatu ketika orang tua Ace membacakan kisah tentang perang penyihir dan naga jutaan tahun lalu. Ace tidak terlalu ingat detailnya, tapi dalam kisah itu menyebutkan kalau planet ini terbagi menjadi beberapa benua yang dihuni berbagai macam ras. Salah satu benua telah dikuasai oleh naga dan empat ras sihir lainnya. Tapi, karena kerakusan manusia, mereka mengadakan peperangan dengan naga hingga akhirnya berhasil menguasai daratan itu sepenuhnya. Seiring waktu berjalan, kristal sihir yang menjadi sumber kekuatan telah melemah dan mengubur benua itu.
Awalnya, Ace tidak pernah percaya dengan khayalan-khayalan yang disuguhkan dalam kisah itu. Kisah yang seakan membuat s**u yang diminumnya tersembur dan dia terbatuk-batuk selama beberapa saat. Khayalan yang bagus, tapi di dunia ini, dia telah melihat segalanya dengan mata sendiri.
Naga. Sihir. Skill tree. Quest. Dan sekarang Dragon Slayer. Semua itu nyata. Terdengar langsung oleh telinganya, diucapkan lelaki berambut merah berwajah menyebalkan. Jika saja logikanya masih menyimpan alasan untuk membantah, Ace mungkin sudah menonjok Demian. Tapi, nyatanya dia tidak sanggup membantah.
“Kenapa kau sampai terkejut begitu? Jangan-jangan kau tidak pernah mendengar kisah naga dan penyihir?” Demian mendekatkan wajah seraya menyodorkan air putihnya.
Ace menggeleng. Dia menenggak air sampai sesak di tenggorokannya mereda.
“Jadi, kau sungguh-sungguh tidak pernah mendengar kisah naga?”
“Aku tidak pernah percaya itu. Dulu.”
Hening. Lalu Demian tertawa sangat keras hingga Lucas memukul kepalanya kuat-kuat hingga bar HP Demian berkurang 1%. Ace melongok. Ternyata pukulan sesama player juga bisa menyebabkan bar HP berkurang?
“Diam, Landak Merah Bodoh! Kau ini benar-benar mengganggu, ya!”
“Maaf, maaf.” Demian berusaha menahan tawanya. “Kalau kau memukulku seperti itu sampai seratus kali, aku benar-benar bisa mati, loh.”
Hal ini membuat Ace bertanya-tanya, selucu itukah? Menjadikan kematian sebagai bahan lelucon? Meski tubuh mereka saat ini hanyalah kumpulan data yang tidak berarti, tapi mereka tetap merasakan sakit saat terkena pukulan. Bar HP itu bukan sekadar angka digital. Apa mungkin orang-orang ini percaya pada sihir?
“Jika bisa membunuh naga menggunakan sihir dasar, berarti sihir itu bisa digunakan bertarung?” Ace mengalihkan pembicaraan konyol itu. Dia perlu memperlajari dunia ini secepatnya untuk bertahan hidup.
“Benar.” Lelaki bertubuh besar yang duduk di hadapan Niel angkat bicara.
Ace memperhatikan wajah sangar lelaki itu. Terdapat luka memanjang di atas hidung dan garis rahang yang tegas membuat Ace yakin lelaki itu seperti penjahat di dunia nyata. Bisa saja dia dilempar ke dunia ini karena kejahatannya.
“Tapi, tidak semua sihir berguna untuk melawan Apostologia. Bahkan sihir Dragon Slayer pun ada yang tidak berguna melawan Apostologia,” katanya lagi seraya meletakkan gelas airnya di meja, lalu menopang dagu dengan kedua tangann. “Tingkat sihir di dunia ini terbagi menjadi enam bagian. Tingkat pertama yang paling tinggi hanya dimiliki satu persen dari keseluruhan pendatang. Aku tidak tahu siapa pemilik sihir tingkat pertama itu, tapi pemilik sihir tingkat kedua ada di sini.”
Lelaki itu berhenti sejenak, membuat Ace semakin penasaran. Tingkat kedua. Itu artinya yang terkuat, dan dia berada di sini, satu meja dengannya. Dan mungkin, Ace bisa mengandalkannya untuk keluar dari tempat ini.
“Siapa?” Ace mendesak.
“Bukannya kau sudah tahu? Dia orang yang telah menyelamatkanmu hari ini.” Lucas menjawab lebih dulu, membuat lelaki bertubuh besar itu menggebrak meja dan melempar tatapan kesal pada Lucas.
“Kau selalu mencuri jatah bicaraku!”
“Kau terlalu lama! Apa gunanya membuat anak kecil ini berdebar-debar seperti orang yang jatuh cinta? Ah, konyol.”
“Nah, sekarang kau membuatnya hampir meneteskan liur. Coba lihat!” Demian memegang bahu Ace yang mematung.
Darah Ace seakan membeku, tidak percaya dengan semua ini. Setelah mengetahui sihir Niel, dia memang merasa lelaki itu kuat dan bisa diandalkan. Tapi, dia tidak menyangka kalau Niel sangat kuat. Ah, tidak. Harusnya dia bisa menyadari hal itu saat pertama bertemu Niel. Cursor di atas kepala dan jendela informasi telah menunjukkan perbedaan level mereka. Awalnya Ace ragu-ragu, tapi pemikirannya tentang rank ternyata memang benar.
Sihir tingkat kedua. Meski dia belum mengenal baik dunia sihir, dia sudah mendengar dari mereka. Mereka tentu lebih berpengalaman dan tidak mungkin berbohong. Apalagi lelaki beriris merah dan berwajah dingin itu tidak mengelak sama sekali. Jadi, itu kenyataan, kan? Dan mereka satu kelompok? Ah, Ace merasa lega sekarang, seperti memiliki harapan untuk pulang. Harapan untuk menyelesaikan hari-harinya di tempat ini secepat mungkin.
“Berisik.” Niel berkata ketus. “Bermimpilah sesuatu yang tidak akan pernah terjadi.”
Apa? Ace terkesiap. Tidakkah dia salah mendengar? Sesuatu yang tidak pernah terjadi? Bahkan Ace belum mengatakan apa-apa.
“Kau ingat Bluriz tadi? Dia jauh lebih lemah dibanding naga, tapi lihatlah. Kau bahkan tidak sanggup melukainya sedikit pun.”
Mungkinkah Niel benar-benar bisa membaca pikiran Ace sehingga mengatakan kalimat itu? Entah kenapa, Ace merasa lelaki itu menolaknya. Lebih tepat jika dibilang menolak untuk bekerja sama keluar dari tempat ini. Tunggu, memangnya apa tujuan mereka di sini? Pasti mereka berharap bebas, kan? Ace meyakini itu dalam hati, tapi ketika mengedarkan pandang pada mereka, dia tidak mendapat jawabannya.
Lelaki berambut putih dan lelaki berambut merah itu diam saja, padahal mereka sangat berisik sebelum Niel mengatakan kalimat barusan. Lelaki bertubuh besar itu juga diam. Kenapa Ace merasa mereka tidak memiliki tujuan yang sama dengannya?
Tepukan pelan di bahu Ace membuatnya menoleh. Dia mendapati Hilla yang tersenyum. Ah, mungkin perempuan ini memiliki tujuan yang sama dengannya. Kembali ke dunia nyata. Pasti begitu. Akan tetapi, beberapa saat dia menunggu, kalimat yang diucapkan malah berbeda.
“Tidak ada yang bisa kembali ke dunia nyata, meski mereka memiliki sihir tingkat pertama sekalipun.”
Ace menelan ludah dan matanya melebar. Apakah ini kenyataan? Ace hendak mempertanyakan itu setelah mendengar pernyataan Hilla, tapi lidahnya tidak bisa berkata apa pun. Wajahnya pucat pasi. Ace tersenyum pahit pada dirinya sendiri karena telah merasa frustasi. Apakah system dalam permainan bisa membuat player-nya merasakan rasa takut dan segala hal?
Tidak ada yang bisa kembali katanya? Tunggu, bukankah mereka memiliki penyihir tingkat pertama? Jika Niel melatih dirinya lebih giat dan jika mereka bergabung dengan penyihir lain, mengalahkan Apostologia adalah hal mudah, bukan? Tidak mungkin Creator itu menciptakan permainan yang tidak bisa dilalui player. Tunggu. Bagaimana jika ternyata Creator tidak berniat mengeluarkan mereka dari sini? Bagaimana kalau ternyata, mereka hanya dipermainkan?
[Niel Zackween has invited you into his guild . Will you accept it?]
Sebuah pesan masuk membuyarkan lamunan Ace. Dia terdiam cukup lama, sedikit terkejut melihat nama guild yang terkesan konyol dan bodoh. Ini bukan pertama kalinya Ace memainkan game MMORPG. Biasanya orang-orang akan menamai guild mereka dengan nama yang keren, tapi apa ini? Sleepy Bunny Bunch? Hampir saja Ace tertawa terbahak-bahak melihat namanya, tapi suara dingin Niel menahannya.
“Kau bisa menolaknya jika ingin jadi solo player.”
“Jangan jahat begitu, Niel.” Seorang perempuan dengan rambut panjang yang dikepang satu menyikut Niel sambil membawa beberapa mangkuk makanan. Di mata Ace, perempuan itu terlihat seperti seorang ibu dibanding player, dengan mata cokelat bulat yang tampak seperti kelinci. “Kalau dia adalah dirimu, aku tidak akan cemas. Tapi, jika kita melepas pemain baru menjadi solo player, dia akan mati.”
Ace jadi semakin tidak mengerti situasi ini. Dia akan mati jika menjadi solo player? Benar, itu kemungkinan yang paling logis. Sejauh yang Ace tahu solo player adalah sebutan bagi player yang tidak terikat dengan guild atau party mana pun dan menyelesaikan segalanya sendiri. Tapi, hal itu tidak mudah dilakukan oleh player level kecil.
Ace sejenak berpikir tentang bergabung dengan guild. Ini hari pertamanya dan dia belum memiliki informasi apa pun yang lebih detail. Tapi, fakta bahwa Niel yang menyelamatkannya tidak akan berubah. Insting Ace mengatakan dia bisa memercayai Niel. Setidaknya untuk saat ini Ace membutuhkan seseorang yang berkenang mengajarinya tentang dunia baru. Dan lagi, dia tidak mungkin bisa mengalahkan bluriz sendirian.
“Kau tidak perlu takut.”
Sebuah tepukan pelan di bahu Ace membuatnya tersadar. Itu adalah perempuan berambut kepang yang tengah tersenyum manis kepadanya. Entah kenapa, saat melihat senyum itu, Ace jadi teringat pada seorang perempuan. Teman sekaligus orang yang dicintainya—Allura.
“Mungkin guild ini kecil dengan nama yang konyol, tapi orang-orang ini benar-benar hebat. Kau akan melihat kemampuan mereka suatu saat nanti. Dan lagi, kami tidak berniat mati begitu saja dalam permainan. Maukah kau bergabung dengan kami?”
Bukan itu yang sedang Ace pikirkan, tapi dia tidak mungkin mengatakannya, bukan? Meski begitu, Ace tetap tersenyum saat orang-orang itu memandangnya. Mungkin ini keputusan yang terlalu terburu-buru, tapi tidak ada alasan untuk menunda lebih lama lagi. Ace membuka kembali jendela pesan undangan. Kini di hadapannya tampil dua pilihan.
[Accept] atau [Decline]
Tanpa ragu-ragu, Ace memilih pilihan [Accept]. Kemudian, sebuah pesan kembali memenuhi kepalanya, dengan gemuruh yang meriah seperti menyambut perayaan. Sementara itu, perempuan berambut kepang itu bertepuk tangan kegirangan.
“Selamat datang!”
Pesan ini terasa berisik. Itulah pikiran pertama yang memasuki benak Ace karena kesal suara N-101 terus begema dalam kepala. Namun, saat ini dia berusaha mengabaikan hal itu. Tidak ada jalan lain bukan? Dia harus cepat-cepat menaikan level dan menyelesaikan permainan ini.
Saat ini, mungkin saja di dunia nyata tubuhnya terbaring di rumah sakit menuju kematian. Dan semoga saja dia tidak menyesal telah bergabung dengan guild berisi tujuh orang dengan nama yang konyol.