Chapter 7

1033 Kata
Seorang NPC perempuan berambut pirang menuntun Ace ke kamar di lantai dua. Lorong-lorong kayu yang sangat berbeda dengan apartemennya. Kamar tidur yang dipesankan Niel ternyata cukup luas, kira-kira setengah dari apartemennya. Meski terlihat kuno, Ace menyukai karpet lembut merah tua yang menutupi lantai kayu. Tempat tidur yang ditutupi kain polos cukup untuk satu orang. Hanya saja, lampu downlight yang biasa menemani tidurnya kini digantikan dengan lampu minyak. Kamar mandinya pun kecil dan memiliki bak setinggi pinggang. Tidak ada shower, pemanas air, atau penghangat ruangan. Tepat di hadapan tempat tidurnya, terdapat jendela kayu berbentuk persegi panjang. Ace mendekati jendela itu lalu menyibak gorden merah tua. Dari kamar ini dia bisa melihat pemandangan kota yang tenang. Tidak ada lampu-lampu yang menyaingi bintang. Hanya lampu minyak yang menyala temaram pada tiap bangunan. Di luar sana, ada banyak kupu-kupu yang bercahaya indah. Sayangnya semua itu hanyalah efek visual. Jadi, mereka tidak bisa disentuh meski kau mengejarnya. Ace membuka jendela quest. Di sana ada beberapa daily quest dengan bayaran ED lebih tinggi dari sebelumnya. Karena itulah Ace menyimpulkan kalau quest-quest yang diterima akan meningkat seiring levelnya bertambah. Dia jadi membayangkan berapa bayaran yang diterima Niel sekarang? Dia mendesah. Tak disangka, penginapan ini menghabiskan 2000 ED untuk semalam. Dengan jumlah uang yang dimiliki Ace, dia hanya bisa menginap selama sepuluh hari, belum dihitung biaya makan. Itu artinya, dia harus segera memulai kehidupan baru dan menerima kenyataan bahwa dirinya telah meninggalkan Hilfheim. Ketenangan dan keindahan tempat ini tidak mampu membuatnya tertidur. Malam makin larut, tapi Ace hanya memandangi langit-langit kamar yang minimalis. Di Hilfheim, Ace biasanya sudah tertidur setelah menghubungi kakeknya dan menanyakan kabar sang ibu. Dia tidak mengerti bagaimana semua ini bisa terjadi padanya. Kenangan membanjiri ingatan bersama beberapa fakta dan gambaran mengenai dunia nyata. Dia merindukan dunianya, Hilfheim, dan ibunya. d**a Ace sesak mengingat dirinya dirinya telah terlupakan sejak menginjak dunia ini. Mungkin dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan keluarga yang sedang menjalani rutinitas dengan tenang. Kakek dan neneknya tetap merawat ladang, sementara ibunya … menanti kepulangan suaminya. Ace tidak bisa membayangkan hidup sang ibu ketika kakek dan neneknya meninggal. Entah sampai kapan belas kasihan orang bisa menghidupi perempuan yang hidup sebatang kara. Ibunya pasti meminta-minta dengan pandangan kosong, berharap ada orang yang mengasihaninya. Wanita yang kehilangan suami dalam kecelakaan, dan hidup sebatang kara. Kuliahnya jelas kacau. Padahal dia sudah mati-matian belajar untuk mendapat bantuan. Dia merindukan Allura, perempuan bermata bulat yang menjadi temannya sejak kecil. Ace merasa seperti pecundang yang tidak berani menyatakan perasaannya. Jelas-jelas dia menyukai Allura, tapi kondisi keluarganya sangat tidak cocok dengan Allura. Perempuan itu memiliki masa depan cerah, tidak sepertinya. Mungkin inilah takdirnya. Terjebak dalam permainan dan dilupakan orang-orang. Ace memutuskan bergabung dengan enam orang tadi untuk mencari penyihir tingkat pertama dan menyegel Apostologia. Meski penyihir tingkat pertama dianggap mitos, Ace yakin orang itu pasti ada. Mungkin saja orang itu sama seperti mereka yang berkeleana mencari cara menyegel Apostologia untuk kembali ke dunia nyata. Jika itu sungguh terjadi, Ace merasa masih memiliki harapan untuk kembali ke Hilfheim. Pasti begitu. Ace membenamkan wajah di bantal, berharap bisa tidur. Bisa saja ketika tertidur, dirinya akan kembali ke Hilfheim, ke apartemen murahan dan menikmati sup instan. Matanya sama sekali belum mengantuk meski udara begitu dingin. Dia mencoba merapatkan jaket, tapi hal itu tidak membuahkan hasil. Dingin makin menusuk-nusuk kulitnya. Mungkinkah pakaian dunia nyata tidak terlalu berfungsi? Bisa saja, tapi Ace masih merasa risi melihat pakaian teman-temannya. Mereka menggunakan jubah panjang dengan detail-detail aneh. Belum lagi s*****a dan kekuatan mereka. Sihir apa yang didapatnya? Mampukah dia membunuh naga seperti teman-temannya? Ace mengusap wajahnya gusar, berusaha menikmati ketenangan dan suara-suara hewan malam. Dia tertawa sambil mengedipkan mata berulang kali, takut otaknya sudah mulai rusak karena gilanya permainan ini. Sewaktu dia jadi terpikir kata-kata Hilla tentang skill tree. Dia membuka jendela skill tree persis seperti yang ditunjukkan perempuan itu. Di bagian bawah tertulis [Skill Point: 4 SP]. Itu artinya dia punya empat poin untuk diisi ke salah satu skill pasif di sana. Dengan level rendah seperti ini, Ace hanya bisa mengisi skill-skill dasar. Beberapa bagian skill masih tidak bisa dilihat sebelum mencapai level 10. Kenapa bisa ada status semacam ini? Kalau dia tidak bisa melihat skill-skill di bagian bawah dan tidak ada menu reset skill bagaimana bisa dia mengira-ngira skill-nya di masa depan? Ace menimbang-nimbang sejenak sambil membaca satu per satu skill pasif yang ada. Seandainya dia tidak bisa membunuh naga, itu artinya dia harus bertahan hidup dengan skill-skill dasar, terutama yang meningkatkan kekuatan sihir dan defense. Dia bukan player gesit yang mampu menghindari serangan dengan mudah. Bisa saja dia terus memasrahkan diri menerima serangan dan karena itulah, dia butuh defense yang besar. Tidak. Defense yang terlalu besar akan mengurangi dexterity dan power, lalu membuatnya berakhir sebagai tank yang menjadi tumbal dalam setiap pertempuran. Dia hanyalah lelaki pengecut yang tidak berani berada di garis depan dan memilih posisi aman. Saat itulah sebuah pesan terdengar di telinga Ace bersama dengan jendela informasi di depan mata. Jendela informasi tertutup kembali. Kini dia menatap kedua tangan. Apakah tangan-tangan ini benar-benar mengeluarkan sihir nantinya? Tubuh Ace terasa goyah. Tiba-tiba saja terdengar gema yang memekakkan telinga. Ace terlonjak, bergegas bangun untuk mengintip keluar. Dari jendela bulat, dia melihat langit yang dihiasi bintang dan bulan sabit yang indah. Tidak ada apa pun. Apakah ada skenario baru? Atau monster? Atau jangan-jangan naga? Ace menggeleng kuat. Mungkinkah gema tadi hanya halusinasinya saja. Ace bersedekap untuk meredakan rasa dingin yang kian menjalari tubuh. Tak lama, cahaya mulai terlihat dari balik jendela. Degup kecemasan semakin menerpa Ace, seolah jantungnya berontak ingin keluar. Suara gemerincing keras terdengar dari kejauhan. Ace kembali berbalik, lalu mendongak. Segaris sinar biru menyala di tengah kegelapan malam. Suara-suara melengking bermunculan, terdengar aneh saat menggaung. Perasaan Ace mengatakan kalau dirinya bodoh, pasti dirinya sedang bermimpi. Tubuhnya benar-benar lelah. Andaikan yang dilihatnya hanya mimpi, Ace berharap segera bangun. Dia tidak tahu apa yang akan dijumpainya, tapi sosok itu semakin lama semakin jelas. Saat itulah, dunia di sekeliling Ace terasa bergoyang. Belasan detik berlalu sebelum Ace merasa dunia tiba-tiba berhenti. Lalu terdengar sebuah suara. Sebuah jendela kecil muncul di depan mata Ace yang kini hanya menatap kosong. Bersamaan dengan berakhirnya pesan itu, seekor naga biru bercahaya sedang terbang menuju Dawn Grimmer.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN