Chapter 8

1815 Kata
Tepat setelah pesan itu berakhir, muncul pola heksagon merah transparan yang membentuk lingkaran besar. Di antara heksagon itu, muncul dua kata yang saling bersilangan, yaitu [Warning] dan yang satu lagi adalah [Special Quest]. Langit malam menjadi semakin gelap. Tidak ada matahari, bulan, bintang, atau benda-benda langit malam ini, selain pola heksagon dan kata-kata itu. Ace pernah melihat hal-hal seperti ini sebelumnya. Pola heksagon merah tranpsaran itu tampak seperti barrier yang muncul setiap memulai dungeon dalam game. Tapi, tidak semua dungeon memiliki barrier khusus. Dengan adanya barrier, player tidak bisa keluar-masuk sampai quest selesai. Itu artinya, mereka tidak akan bisa keluar sampai tiga puluh menit ke depan, sampai naga itu terkalahkan, atau sampai semua player di tempat ini mati. Sebagai orang yang tidak terlalu menyukai game, Ace cukup mengetahui hal-hal dasar seperti itu, tapi dia tidak memiliki pencerahan lain. Dia tidak bisa membayangkan mimpi buruk apa yang akan menanti mereka semua selama tiga puluh menit. Ini tidak mungkin nyata. Sampai beberapa saat kemudian, suara dentuman terdengar dengan keras, membuat Ace terlonjak kaget. Jelas sekali itu bukan suara yang dibuat oleh manusia, tapi sesuatu yang hampir seukuran raksasa. Naga biru dengan tubuh yang dipenuhi sisik keras seperti kristal jauh lebih besar daripada gerbang masuk Dawn Grimmer yang baru saja dihancurkan. Cakar-cakar kuningnya yang tajam menapak, mengoyak atap-atap bangunan. Semua menara keamanan diisi prajurit bersenjata dan anak panah beserta tombak telah disiapkan. Tepat ketika gerbang besar Dawn Grimmer runtuh menjadi kepingan es yang sangat dingin, naga itu terbang ke atas bangunan-bangunan kota. Cakar-cakar kuningnya yang tajam menapak, mengoyak atap-atap bangunan. Kedatangannya disambut hujan anak panah, bola panas, dan tombak. Anak-anak panah berdentang, berpatahan ketika berbenturan dengan es-es yang dikeluarkan. Bongkahan es yang besar, tajam, dan dingin menghujam jalan-jalan kota, bangunan, dan tak sedikit mengenai manusia yang tengah berlarian. Anak panah dan tombak terus dilontarkan seiring terompet tanda bahaya yang terus menerus berbunyi. Spontan Ace menutup telinganya saat naga itu memekik. Tulang-tulang tipis menjulur di tepian sayap dengan mudahnya menghancurkan bangunan dan jalanan Dawn Grimmer. Lampu yang mengelilingi jalan besar berbatu telah roboh, hampir menimpa NPC dan beberapa player yang hendak melarikan diri. “Naga ….” Mata Ace membelalak melihat itu. “Ini tidak nyata, kan?” Faktanya, naga itu luar biasa besar. Dia sering mendengar kisah-kisah tentang naga dan melihatnya di game atau film sebelumnya, tapi melihat langsung benar-benar mengejutkan Ace. Apakah dia bermimpi lagi? Ace menutup dan membuka matanya lagi, tapi tidak ada yang berubah. Bahkan sekarang mata biru sedingin es naga itu tertuju padanya, Ace terpaku. Di kepala yang berbentuk segitiga dengan moncong panjang, terdapat dua sulur berwarna biru tua. Tanduk-tanduk kecil berjajar di dekat leher hingga ekornya bercahaya. Energi sihir berkekuatan besar berkumpul, lalu dilepaskan. Sebagian besar Dawn Grimmer membeku berikut tanaman di sekitarnya. Udara dingin kian mencekam. Napas Ace tercekat melihat tubuh-tubuh NPC terkapar di jalan, membeku, dan sebagian lain tertimpa bangunan. Terompet tanda bahaya yang terletak di pos-pos penjaga dibunyikan. Orang-orang yang tersisa berhamburan keluar, berlari cepat mengikuti rombongan prajurit berzirah biru menuju tembok pelindung istana. Pintu kamar Ace dibuka dengan kasar. Pikirannya masih mengelana ketika Demian menarik lengannya. Ace berusaha mengikuti langkah Demian keluar penginapan yang telah hancur sebagian. “Daripada di dalam, lebih baik kau keluar. Jangan sia-siakan kesempatan untuk mendapat sihir Dragon Slayer. Kami akan membantu!” Ace terdiam. Sihir Dragon Slayer. Benar, semua orang menantikan kesempatan untuk mendapatkan sihir Dragon Slayer, kecuali dirinya. Ace tidak yakin sanggup menerima kekuatan sebesar itu. Aura dan tatapan naga itu telah berhasil mengintimidasinya tanpa ampun. Bahkan melihat dari kejauhan seperti ini pun ketakutannya masih terasa. Dirinya berbeda dengan pemain lain yang sudah berada di sini lebih lama. “Apa-apaan ini?!” Ace kesulitan mengikuti Demian yang terpaut beberapa level darinya. Tapi, tidak ada waktunya untuk mengeluhkan hal ini. Jika dia ingin hidup, jika dia ingin kembali ke rumah dan bertemu ibunya, dia harus bertahan hidup. Itulah satu-satunya pikiran yang berputar dalam kepala. Namun, sebelum mereka mencapai pintu keluar penginapan, sinar biru ditembakkan dari mulut naga mengenai salah satu pilar penginapan. Jika saja Demian terlambat menariknya jatuh, kepala mereka akan membeku. Dalam posisi berbaring tertelungkup di tanah, Demian mengembuskan napas lega. Mereka hampir mati saat itu, tapi tetap saja kaki Ace gemetar ketakutan. Mereka merangkak sebelum segera bangkit kembali, berusaha mempelajari sesuatu yang penting mulai sekarang. “Ace! Demian!” Terlihat Edgar berseru dari kejauhan. Mereka bergegas berbaur dengan rombongan prajurit berzirah merah dan pemain lain yang telah siap menanti naga. Ace melihat ke arah kerumunan orang yang berada di sekeliling. Mereka beridiri menyaksikan kehancuran Dawn Grimmer dengan equipment dan weapon yang bevariasi. Tidak salah lagi, mereka adalah player seperti Ace dan teman-temannya. Di atas kepala mereka terdapat kursor hijau dan kotak informasi berisi nama, level, rank, dan guild. Ada sekitar seratus sampai lima ratus player di sini. “Apa katanya? Special Quest telah dimulai?” “Tapi bagaimana caranya melawan naga?” “Mereka gila!” Komentar-komentar yang mewakili perasaan Ace muncul dari waktu ke waktu. Dari respon itu, Ace bisa menebak mereka adalah player baru sepertinya, sementara player yang jauh lebih berpengalaman telah siap menyerang seolah-olah kedatangan naga bukanlah sekali dua kali dialami kota ini. Es disemburkan naga kembali membekukan bangunan dan jalan raya. Naga itu terus berputar-putar menghancurkan segalanya. Di sana-sini, bangunan telah membeku bersama dengan mayat-mayat manusia. Lecutan ekornya tak jarang merobohkan bangunan dalam sekejap. Dan selama itu, tidak ada anak panah yang bisa menahan atau bahkan sekadar menyakiti naga itu. Jasad para prajurit berserakan di jalanan dan pos-pos penjaga. Dawn Grimmer luluh lantak. Tapi, di antara bangunan-bangunan yang telah hancur dan membeku, masih ada orang-orang yang bertahan. Sebagian pemain bersiap di atap-atap bangunan untuk menyerang, sebagian lain bersiap dengan s*****a fisik mereka. Beberapa menit terasa kabur bagi Ace, seperti ada yang memanggilnya dari jauh Entah bagaimana pedang pendek telah tergenggam dan dirinya berdiri di garis depan. “Hilla, alihkan dia dengan panahmu!” Edgar telah bersiap. Kedua kakinya melebar untuk menopang beban pedang setinggi lelaki itu. Tubuhnya dikelilingi aura abu-abu, persis seperti Niel saat bertarung dengan Bluriz waktu itu. “Serahkan padaku!” Di atap bangunan, Hilla telah memasang kuda-kuda, menarik tali busur dengan panah sihir hijau terang. Jika Ace bisa bertemu NPC-101 itu lagi, dia akan memarahinya habis-habisan. Rasanya tidak adil ketika melihat pemain lain menggunakan s*****a berbagai rupa yang lebih berguna dibanding pedang pendeknya ini. Dengan tubuh kurus, Ace terlihat seperti orang d***u yang hendak melawan naga. Bahkan pedang ini tak mampu menggores kulit baja Bluriz. Naga kembali terbang, lebih rendah daripada sebelumnya. Hilla menarik tali busur. Anak panah hijau meluncur, lalu terbelah menjadi puluhan anak panah. Ujungnya gemerlap seperti meteor, mengenai sayap naga yang tertutupi sisik keras. Naga itu jatuh. Tubuhnya yang besar tersungkur di reruntuhan bangunan. Es-es yang membekukan bangunan pecah berhamburan. Saat berikutnya giliran para pemain dengan sihir jarak dekat. Di antara para pemain, Edgar berlari membelah es-es di sekitar naga bersama Ace dengan pedangnya. Edgar menjadikan tanduk-tanduk di sekitar leher naga sebagai pijakan naik ke kepala. Sekeliling pedang yang bergerigi dan runcing berhasil memecahkan sisik pelindung. “Dasar manusia s****n!” Naga itu meronta, perlahan bangkit. Kristal-kristal baru muncul ketika lehernya meregang. Kepalanya mendongak cepat hingga para pemain terjatuh membentur bangunan. Terlihat bar HP di atas kepala para pemain berkurang setengah. Berusaha mengalihkan perhatian, Hilla melesatkan anak panah sihirnya lagi bersama Dragon Slayer lain. Namun, pelindung sihir menampik semua serangan. Naga itu meninggi lalu menukik cepat sebelum Edgar dan pemain lain bersiap. “Edgar!” Bunyi hantaman terdengar keras diselimuti asap. Hilla terkesiap. Perasaan lega timbul ketika pergerakan naga itu dihentikan cakar-cakar api Demian. Seluruh tubuh lelaki itu membara, lalu membentuk bola-bola api besar yang melayang di udara. Dengan cepat, bola-bola itu menyerang naga. Sementara itu, Ace terpaku. Tangan yang memegang pedang pendek gemetaran. Dia benar-benar tidak berguna saat ini. Dia dengan gugup menelan air liur dan perlahan maju. Otaknya terus memikirkan, bagaimana bisa orang-orang ini membunuh naga? Ini gila! Bahkan serangan-serangan mereka tidak terasa sedikit pun. “Harusnya kalian sadar kalau hanya akulah yang bisa melawannya!” Dengan percaya diri, Demian menciptakan cakar-cakar api lain untuk menahan keempat kaki naga. “Diam kau, Landak Merah Bodoh! Karena kebodohanmu itu, kau tidak menyadari kalau ekornya mengarah padamu.” Lucas berseru seraya membentuk dinding listrik pelindung untuk Demian dan pemain lain. Rantai-rantai hitam kemerahan berhasil mendapatkan Demian yang terempas. Api-api Demian seperti ditelan langit. Es-es tajam muncul ketika naga itu melebarkan sayap, mengarahkannya pada mereka. Dengan secepat kilat, Lucas menghalau semua serangan dengan sengatan listrik, sementara Hilla bersiap menarik tali busur. Namun, insting binatang buas tetaplah tajam, seolah mendeklasarikan diri sebagai binatang buas yang tidak bisa dihentikan. Naga itu menghiraukan sengatan listrik Lucas dan menyemburkan es pada Hilla. Atap-atap bangunan membeku. Hilla yang tidak mampu bertahan pun tergelincir. Edgar berseru. Dia melepaskan diri dari perlindungan Lucas menuju Hilla. Begitu pula Niel dan Lucas yang berusaha menjangkau perempuan itu dengan sihir. Tak ingin memberi kesempatan, naga itu menghalau mereka dengan sihir. Tubuh Hilla disambut dinginnya jalan Dawn Grimmer. Bar HP-nya berkurang drastis, menyentuh angka 10%. “Dasar naga s****n!” Edgar murka. Dia berlari dengan pedang besar, menjadikan reruntuhan bangunan untuk menjangkau naga. Ayunan pedang yang brutal membentuk lengkungan tajam yang berusaha menembus sisik naga. Kristal-kristal naga itu kembali menyala semakin terang ketika mengudara semakin tinggi. Es-es tajam menghantam para pemain yang tidak sempat membentuk sihir perlindungan. Mereka ambruk, tanpa ada genangan darah, sementara bar HP mengurang pesat. Jeritan terdengar dari pemain lain yang melihat rekannya pecah, lalu lenyap. “Jangan bertindak sembarangan!” Lucas berseru kesal pada Edgar. “Daripada kau mengamuk seperti orang bodoh, lebih baik kau bawa Hilla ke tempat yang aman untuk healing.” Edgar mendengkus. Nyawanya hampir saja melayang jika Lucas tidak menariknya dengan sihir. Kini mereka tampak seperti pengecut yang berlindung di balik dinding pelindung Niel, menyaksikan pemain lain lenyap tanpa melakukan apa-apa. Ace tidak mendapati naga itu ketika mendongak, seakan tenggelam di tengah kabut es yang menyelimuti Dawn Grimmer. Namun, dia menyadari udara semakin dingin. Bersembunyi di balik kabut es, seorang berpakaian serbahitam memperhatikan mereka. Ace tidak bisa melihat wajahnya yang tertutup tudung jubah, tapi dia yakin orang itulah yang dilihatnya tadi. Ace merasa namanya dipanggil orang itu. Entah kenapa, Ace merasakan sesuatu yang terikat antara mereka. Mungkinkah orang di masa lalunya? Ace memberanikan diri melangkah keluar dinding pelindung sambil memegang erat pedang pendek. Dia menghiraukan teman-temannya yang berusaha mencegah. Mungkin firasat Ace benar. Bisa saja orang itu adalah ayahnya yang terjebak di Erfheim. Atau mungkin penyihir tingkat pertama yang hendak menyelamatkannya. Ace berusaha mengusir keraguan dan terus melangkah. Tapi, ketika jarak mulai terkikis, sosok itu menghilang dalam kabut. Ace berlari, berusaha menjangkau, tapi nihil. Kabut es menipis. Sosok naga yang bersembunyi terlihat jelas. Ace memucat ketika iris safirnya bertatapan dengan iris safir naga itu. Seluruh tubuh Ace gemetar, kedua kakinya enggan bergerak. Bukan takut, tapi Ace merasa ada sesuatu di antara mereka. Iris safir berbinting indigo itu terasa familier baginya. Tanpa Ace sadari, dirinya telah terpaku sementara naga itu memelesat padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN