Chapter 9

1022 Kata
“Ace!” Niel berseru sambil mengarahkan scythe. Sekelebat bayangan muncul dari tanah persis seperti yang Ace lihat sewaktu melarikan diri dari bluriz. Terlambat. Sebelum bayangan itu berhasil meraih Ace, naga itu menutup jarak sekejap mata. Ace bergegaas mengeluarkan dagger dari inventory dan menangkis ekor naga yang mengayun kepadanya. Namun, seketika dagger-nya pecah menjadi kepingan cahaya sebelum berhasil melindungi Ace. Tubuhnya mengudara dengan kecepatan yang menakutkan lalu ekor naga kembali menghantamnya jatuh. Sebagian tembok bangunan runtuh dan jatuh di atas Ace. Beberapa player termasuk teman-teman guild konyolnya membeku melihat Ace yang tidak bergerak satu senti pun dari tempatnya. “Apa-apaan ini!?” Sementara player baru lainnya berseru panik, Ace mendadak meragukan dirinya. Kini, dia bisa melihat dengan jelas nama naga yang ditulis dengan warna merah. Apa artinya sebesar inikah perbedaan kekuatan mereka? Bagaimanapun, special quest ini memiliki tingkat kesulitan Rank S. Jadi sudah bisa dipastikan weapon murahan tidak akan mampu menahan serangan. [HP: 362/1223] Ace melirik bar HP yang menunjukkan angka 30%. Ini bahkan lebih parah daripada yang disebabkan bluriz. Apakah dirinya memang selemah ini? Tidak. Bahkan dia baru tiba di dunia aneh ini hari ini dan langsung menghadapi seekor naga. Jelas ini akan terlalu sulit. Mana mungkin seorang player yang baru beradaptasi langsung disuguhkan special quest? Ada ketakutan yang selalu melekat di benaknya, mulai hari ini dan akan terus berlanjut sampai dia mati. Apa yang terjadi padanya jika dia tidak mendapatkan kekuatan? Apa yang terjadi jika dia tidak berjuang lalu memilih mati di sini? Bahkan dia merasa sulit untuk percaya bahwa semua ini adalah kenyataan. Jika dia tidak menaikkan levelnya dengan segera …. Jika stat kekuatannya tidak begitu tinggi untuk mencapai puncak …. Jika dia tidak tahu langkah selanjutnya yang harus diambil …. Jika tidak bisa membunuh naga ini, artinya dia lemah dan selamanya akan bergantung pada orang lain. Dia pasti mati di sini. Di dunia ini, hanya ada dua pilihan: dibunuh atau membunuh. Dia yakin kejadian-kejadian seperti ini bukanlah kebetulan semata. Bagaimana jika system yang dibuat Creator telah mempersembahkan naga ini untuknya? Agar dia menjadi lebih kuat. Agar dia dapat bertahan hidup. Dan agar dia bisa kembali ke dunianya dengan selamat. Anggap saja, semua ini bukan kebetulan. Saat menyadari bahwa dirinya lemah, dia ingin menjadi lebih kuat. Selama bertahun-tahun, dia telah menjadi Ace Clauser yang pengecut dan tidak punya semangat hidup. Dia selalu berharap untuk berhenti menjalani kehidupan membosankan yang seolah-olah sedang menantikan kematian di ujung tebing. “Baiklah, aku mengerti sekarang.” Ace menggelengkan kepala beberapa kali sebelum bangkit dari reruntuhan. Tubuhnya terasa berat, tapi Ace beruntung tidak kehilangan satu pun anggota tubuh. “Jika system ini menarikku ke dalam permainan, artinya aku tidak punya pilihan selain mengikutinya.” Ace bisa melihat Hilla yang menatapnya cemas dari seberang jalan sana. Perempuan itu memang sedikit mengganggu. Ace tahu Hilla bukan hanya mengkhawatirkannya, tapi juga naga yang tengah menghampirinya dengan santai. Karena naga dengan level yang terpaut jauh darinya sudah ada di depan mata, Ace tidak punya waktu untuk bersantai. Dia melihat pemandangan orang-orang yang telah mati dan perlahan berubah menjadi pecahan kristal. Meski orang-orang itu mati dengan tubuh tertebas, tidak ada bekas darah sedikit pun di tanah. Ace menghela napas lega. Setidaknya dia tidak perlu melihat adegan menjijikan di mana organ dalam manusia berceceran. Beberapa saat yang lalu dia dengan begitu percaya diri mengisi seluruh skill point ke magic power dan sekarang Ace menyesalinya. Dia bahkan tidak tahu atribut dan skill apa yang dia punya. Sekarang yang dibutuhkannya adalah weapon. Jika itu pisau, pedang, atau dagger, setidaknya dia punya bayangan dari game atau film action. Weapon level satu yang diberikan N-101 telah hancur. Dia tidak tahu tempat membeli weapon dan tidak ada waktu. Kemudian, pandangannya tertuju pada sebilah sword berkilau yang tidak jauh dari tempatnya. Kemungkinan besar, sword ini milik player lain. Tapi, jika seorang player mati, barang-barangnya juga akan ikut menghilang. Itu artinya, player pemiliki sword ini masih hidup. “Yah, apa pun itu aku tidak peduli.” Ace bergumam seraya belari secepat mungkin sebelum naga itu menghiraukannya. Dia harus memanfaatkan kesempatan saat player lain mengalihkan perhatian naga itu. Berhasil! Dia mengambil sword itu, lalu sebuah pesan muncul dalam kepala. Mata Ace terbelalak lebar, kemudian memamerkan seringai. Padahal hanya berbeda dua level dari dagger level rendahnya, tapi perbedaan kekuatan mereka sangat jauh. Meski ukurannya jauh lebih besar dan lebih berat, magic sword ini terasa lebih cocok darinya yang mengisi magic power. Kini Ace berdiri menghadap naga yang mulai menyadari keberadaaannya, lalu melesat dengan kecepatan yang mengerikan. Andai saja Ace tidak merunduk serendah mungkin, tubuhnya sudah terlempar lalu HP-nya benar-benar habis. Ekor naga itu mengayun tepat di kepalanya, lalu kemudian cakar kuning mendarat dengan sempurna di depan wajah Ace. Ketika cakarnya menusuk ke jalanan batu, retakan langsung terbentuk. Tentu saja, Ace tidak berniat menyerahkan tubuhnya untuk jatuh di antara retakan. Dia melompat mundur beberapa langkah, selagi anggota guild-nya bersiap-siap menyerang. Didampingi serangan bayangan dari Niel, pedang Ace terayun secara horizontal menuju kaki naga. Hanya satu ayunan dan cakar-cakar itu pecah. Ace yang benar-benar terpana tidak bisa menutup mulut ketika naga itu meronta kesakitan, mengagumi betapa kuatnya ayunan magic sword. Apakah ini hasil dari meningkatkan skill tree-nya? Atau karena magic sword ini? Meski belum terlalu puas dengan hasil, tapi setidaknya Ace tidak akan kesulitan untuk menggores tubuh naga itu dengan magic sword ini. Permukaan pegangannya juga kasar, sehingga tidak akan mudah terlepas dari genggaman. Saat tatapan naga itu perlahan mengisi pandangan Ace, napasnya menjadi berat. Jantungnya mulai berdebar kencang. Ace menarik napas, berusaha mengendalikan napas dan melakukan yang terbaik untuk menenangkan diri. Dia mengingat kembali perasaan yang dia rasakan saat bluriz berdiri di hadapannya. Dari awal, Ace berpikir bahwa boss ini tidak mungkin untuk dikalahkan sendirian, tapi Ace tidak berniat memberikannya kepada player lain. Tidak dengan Obsidiant Stone yang akan membuatnya semakin kuat. “Ace! Menyingkirlah!” Jarak antara Ace dan naga itu perlahan terkikis hingga mereka berada cukup dekat. Dia menghiraukan seruan Hilla, lalu menggunakan magic sword untuk menghalau cakar naga yang menyerangnya. Jelas sekali magic sword ini memiliki jangkauan yang lebih panjang daripada dagger yang digunakan Ace sebelumnya. Jadi, jika ingin memperdalam tusukan, dia perlu memperkuat tusukan. Ini adalah waktunya beraksi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN