Chapter 10

1546 Kata
Ace terkesiap ketika serangan datang. Jika Ace tidak dengan cepat memiringkan tubuhnya ke kanan, cakar-cakar yang saat ini menusuk tanah di belakang Ace akan menembus dadanya. Stat agility Ace tidak bagus, tapi Ace melompat setinggi yang dia bisa ketika ekor naga kembali mengayun. Kini, dia telah berhadapan langsung dengan naga itu. Sekejap, Ace merasa seolah semua di sekitarnya berhenti. Saat ini dia harus berkonsentrasi, mengabaikan teriakan orang-orang bodoh yang ketakutan. Jika dia melakukan kesalahan sekecil apa pun, nyawanya akan melayang. Ini adalah kekuatan dari system. Dia bisa melompat setinggi ini karena system. Untuk itu, dia harus bertahan dengan memanfaatkan segalanya sebaik mungkin. Ketika tatapan naga berhadapan dengan Ace, seketika tubuhnya merinding. Dan di saat yang sama, dia merasakan pusing. Keringat menetes dari dahinya, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal sepele. Tangan kanannya yang memegang magic sword kembali mengayun, mengenai kaki naga tapi serangannya sama sekali tidak berpengaruh. Seperti menusuk batu keras, magic sword-nya akan terpantul kembali. Kekuatannya saat ini masih tidak begitu tinggi untuk menembus sisik naga. Naga itu terbang kembali. Cahaya biru yang keluar dari mulut naga melewati tempat Ace berada sebelumnya. Dengan mengerahkan stamina yang cukup besar, Ace bergegas menuju salah satu pilar bangunan yang runtuh, bersembunyi sejenak sampai serangan itu berakhir. Ace mendongak. Naga itu terbang sangat tinggi melewati bangunan-bangunan bertingkat dua. Dengan ketinggian ini, bagaimana bisa dia mengejarnya? Saat melihat ke sekeliling, Ace mendapati Niel tengah berlari mendekat. “Ace!” Niel berseru seraya mengulurkan scythe-nya. Rantai-rantai hitam kemerahan muncul di sekitar Ace. Seketika, dia teringat pertarungan dengan bluriz, tepat saat Niel menjadikan rantainya sebagai lontaran. Ketika Ace berhasil meraih rantai itu, Niel melontarkannya ke atas. “Naiklah!” Ace melayang di udara. Matanya dan mata naga itu saling bertatapan. Saat itu, Ace bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika naga ini menyerangnya di udara? Mati. Dan kemudian tubuhnya akan pecah menjadi kepingan cahaya, persis seperti yang terjadi pada player lain. Dia tersentak melihat tangan besar naga berusaha meraihnya. Namun, sebelum tangan itu berhasil, Ace mendaratkan diri tepat di atas, lalu berlari ke bagian leher naga. Pola serangan naga ternyata lumayan sederhana daripada yang Ace pikirkan. Mencari titik lemah adalah dasar dari semua aturan dasar dalam mengalahkan monster dalam game. Jadi, Ace memutuskan untuk bersembunyi di titik yang tidak bisa dijangkau oleh naga itu sendiri. Ketika memperhatikan dari posisi ini, ukuran naga memang sangat tidak tertandingi oleh manusia. Bahkan sisik-sisiknya pun setinggi pinggang Ace. Sekejap, Ace terkagum-kagum pada sisik naga yang keras, dingin, dan bercahaya. Ace mencelos. Kenapa dia malah mengagumi musuhnya sekarang? Di antara semua itu, dia harus mencari titik lemah naga ini secepat mungkin. Bagian lehernya ditutupi sisik berbentuk kristal es yang keras. Serangan dari magic sword ini bahkan tidak mampu menggores kristal. Serangan itu seolah-olah terasa seperti gigitan nyamuk pada seekor naga. Pastinya ini adalah pemandangan konyol bagi orang-orang melihat Ace. Seorang lelaki yang memakai hoodie biru gelap tengah bergelantungan di sisik naga. Ace mencoba menghiraukan komentar-komentar player lain yang terdengar seperti dengung lalat. Apa yang mesti kulakukan sekarang? Bagaimana bisa aku membunuh naga ini dengan sebilah pedang tipis? Kesadaran Ace langsung terkumpul saat naga itu terbang semakin cepat. Apakah semua ini karena Ace berada di atasnya? Benar. Itu adalah alasannya. Ace mempererat genggamannya pada magic sword saat naga itu sengaja menabrakkan diri ke puing-puing bangunan untuk menjatuhkan Ace. Sekejap, jantung Ace berdegup kencang. Keadaan telah sepenuhnya berubah. Naga ini tidak peduli lagi dengan player lain yang berusaha menyerangnya. Tapi sebaliknya, naga ini benar-benar berniat menjatuhkan Ace. Ace harus cepat melakukan sesuatu jika tidak ingin mati konyol. Lupakan keinginan untuk terus bersembunyi di balik penyihir tingkat pertama, tingkat kedua, rank S, atau apalah itu. Jika dia lengah dan terjatuh, bisa dipastikan dia mati karena jatuh menghantam jalanan atau dimakan hidup-hidup. Saat ini dia harus membunuh naga, mendapatkan Obsidiant Stone, menjadi Dragon Slayer, lalu mengalahkan Apostologia. Ketika dia melihat lebih dekat, ada sebuah kristal di dekat dua sulur yang memancarkan cahaya biru. Ace berusaha meraih bagian kepala naga yang tak berpelindung. Bagian itu berwarna biru cerah, sedikit lembek, tapi sangat dingin. Darah Ace serasa membeku ketika melangkah semakin dekat, ditambah udara yang makin dingin ketika naga itu membawanya terbang semakin menjauhi tanah. [Remaining Time: 5 minute 32 seconds] Lelaki itu sekuat mungkin menahan kakinya tetap menapak, melawan angin yang terus menerpa. Ketika merasa cukup dekat dengan titik lemah itu, Ace menggunakan sisa kekuatannya untuk mendekat. [HP: 352/1223] [HP: 322/1223] Fakta bahwa HP-nya terus berkurang membuat Ace harus bergerak cepat. 10 poin HP berarti 1% HP telah hilang per lima detik. Dia masih punya waktu dua menit lebih. Jika HP-nya habis, itu artinya Ace akan mati. Naga itu mengayunkan kepalanya ke depan dan ke belakang, seolah-olah mengusir nyamuk di lehernya. Dia merasa terancam. Jika seorang manusia bisa bertahan di atas kepala naga terlalu lama, harga diri naga itu akan tercoreng. Karena bagi naga, manusia hanyalah makhluk hidup paling lemah yang bertahan hidup dari kekuatan para naga. [HP: 302/1223] [HP: 262/1223] Naga berputar-putar makin cepat. Ace merasa tubuhnya akan jatuh sebentar lagi sementara pedangnya tak mampu menembus sisik naga yang mengeras. Darahnya membeku karena suhu dingin yang kian meningkat. Mereka menembus awan, bergelung di balik kabut es, dan Ace tetap berpegang pada sulur naga. Suara benturan yang mengerikan terdengar menggema di langit. Ace merasa terhuyung-huyung, berusaha mempertahankan keseimbangannya dengan menjadikan sisik naga sebagai penahan tubuh. [HP: 232/1223] [HP: 202/1223] Kecepatan naga semakin meningkat lalu menurun dengan cepat. Lama-kelamaan, Ace merasa kepalanya pusing. Tapi dia tidak ingin menyerah. Dia tetap melangkahkan kaki hingga akhirnya bisa berpegangan pada tepian titik lemah naga. Tidak mau berlama-lama, setelah menentukan sudut yang pas, Ace menusukkan magic sword pada kristal dengan seluruh kekuatannya. Dia menuangkan seluruh kekuatannya ke satu tempat sebelum naga itu melesat kembali ke langit. [HP: 182/1223] [HP: 152/1223] Rasa sakit yang Ace rasakan saat kulitnya perlahan membeku hampir tidak tertahankan. Ditambah gerakan kepala naga yang makin menggila dan membuat Ace hampir terempas. Tapi, Ace tidak bisa berhenti. Tidak sekarang. Sekali saja dia melepaskan pegangan, semuanya akan berakhir. Naga itu menjerit, lalu es-es tajam mengarah pada Ace. Ace berlindung di balik sisik-sisik tebal sambil tetap mencoba menembus kristal itu. [HP: 132/1223] [HP: 102/1223] “Manusia s****n!” Naga itu bersuara, terdengar dingin dan arogan. “Bagaimana bisa seorang manusia menduduki kepala naga seperti ini! Awas kalau kau terjatuh, akan langsung kulahap dan kuhancurkan tulang-tulangmu!” “Coba saja, dasar naga jelek!” Dengan bodohnya, Ace malah memprovokasi. “Apa katamu?!” [HP: 82/1223] [HP: 62/1223] Naga itu makin terbang dengan kecepatan tinggi. Dinginnya sekitar dan tekanan udara mengikis bar HP Ace. Meski begitu, Ace tidak bisa berhenti sekarang. Dadanya menjadi sesak sampai terasa sakit. Dia sudah berusaha semampunya. Setelah ini, saatnya Ace beradu dengan kekuatan mental. Antara Ace yang mati lebih dulu ataukah naga ini. Hanya salah satu dari mereka yang bisa tetap hidup. [HP: 42/1223] [HP: 22/1223] Jantung Ace yang tenang mulai membara seperti orang gila. Napasnya bergemuruh dan jari-jarinya bergetar hebat. Pegangan Ace pada pedang semakin erat, mendorong pedang hingga akhirnya kristal itu pecah layaknya kaca warna-warni. [HP: 2/1223] Mata Ace yang melihat semua itu membesar. Apa ini? Naga ini mati? Ace tidak percaya telah menyaksikan tubuh naga itu menjadi kepingan cahaya biru. Sebelum naga itu benar-benar menghilang, Ace mendengar ucapan terakhir. Bukan seperti wasiat, tapi terdengar seperti pujian. Lucu. Naga yang hampir menjadikan Dawn Grimmer menjadi dataran es kini berbicara pada Ace dengan nada lembut. “Seumur hidup, aku baru satu kali melihat seorang manusia menunggangi naga seperti ini. Dan mungkin, inilah saat terakhir aku melihatnya.” Seolah-olah seseorang telah menekan tombol slow motion, naga yang menghilang sangat perlahan di udara. Tidak. Itu tidak benar. Semua hanya keterkaguman Ace saat melihat seekor naga hingga akhirnya dia berpikir begitu. Ace menarik napas. DIa bisa mendengar detak jantungnya yang menggila. Dia melihat naga itu benar-benar menghilang di depan mata. Senyuman terukir di wajah Ace. Dia berhasil melakukannya. Es-es yang menyelimuti Dawn Grimmer lenyap. [You leveled up! Lv. 4> Lv. 15] [You’ve reached Level 15. New Abilty and Skill Tree avaible!] [You have Received 10000 EXP] [OBSIDIANT STONE has been Obtained] [The Special Quest will end now] [You have obtained the Obsidiant Stone to become a Dragon Slayer. Will you accept it?] Dragon Slayer? Benar. Dia mengalahkan naga ini untuk mendapatkan Obsidiant Stone. Tapi, apakah semua ini adalah keputusan tepat? Setelah ini, dia harus bertarung di garis depan. Mungkin saja dia akan menjadi tank atau apa pun dengan posisi yang berbahaya. Apa yang terjadi jika Ace mengabaikan Obsidiant Stone? Ketika Ace ragu-ragu dan tidak menjawab, suara di kepalanya bertanya lagi seolah mendesak. [There is no time left. The Obsidiant Stone will be disappear in ten seconds. Will you accept it?] Ace tidak bisa mengatakan apakah ini hanyalah halusinasi atau tidak. Namun, Ace telah menentukan pilihan setelah dia bergabung ke dalam game ini. Dia akhirnya mendapat kesempatan untuk memperjuangkan hidup. Sekarang hal seperti ini seolah-olah memberikan cara Ace untuk bertahan hidup. Tanpa mengatakan apa pun, Ace hanya memikirkan jawabannya di kepala, kemudian suara N-101 kembali muncul. Kabut es menghilang ketika kristal biru safir menjadi bola. Kilatan cahaya yang menyilaukan tiba-tiba melilit tubuh Ace bola kristal itu tertanam dalam tubuh Dia merasa tubuhnya dialiri sesuatu yang sangat kuat, dan terasa amat menyakitkan. Dia mengerang di udara, tubuhnya seakan membeku. Seketika wajah player-player yang telah kehilangan nyawanya muncul di benak Ace sebelum kehilangan kesadaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN