Chapter 11: Ace Clauser

1061 Kata
Darah Ace membeku ketika rasa dingin pelan-pelan merayap. Rangkaian gambar memasuki benak Ace ketika kerlap-kerlip cahaya samar memenuhi pandangan. Dia merasa jiwanya begitu jauh dari permukaan, lalu tenggelam perlahan ke dalam kolam lumpur. Sendirian. “Ace.” Begitu mendengar suara perempuan yang sangat familier, Ace sadar ini adalah mimpi. Perlahan, Ace membuka mata ketika cahaya memudar. Entah bagaimana caranya, Ace berada di sebuah kamar tidur mewah. Kamar tidur ini bahkan dua kali lebih luas dari ukuran rumah orangtua Ace. Dinding-dindingnya biru pucat dengan pola-pola yang terbuat dari kristal. Tempat tidur raksasa berwarna biru tua dengan tirai-tirai yang melambai tertiup angina sepoi dari jendela besar. Sebuah ukiran rumit berbentuk naga di langit-langit ruangan mengingatkan Ace pada symbol di weapon-nya. Di mana ini? Dia tidak pernah melihat tempat ini sebelumnya, tapi semuanya tidak asing seolah-olah dia pernah berada di tempat ini dalam waktu yang lama. Perasaan rindu muncul begitu saja tanpa diketahui penyebabnya. Napas Ace tercekat ketika melihat sosok berambut biru tua yang duduk di tempat tidur bersama seorang lelaki seusia Ace. Darahnya berdesir ketika senyuman tipis tercipta di antara kerutan wajah perempuan itu. Ace terdiam, kakinya enggan melangkah meskipun ingin mendekat. Saat lelaki itu tersenyum, Ace tidak ragu lagi kalau itu memang dirinya. Rambut biru tua dan iris safir yang diwarisi ibunya, sekaligus sisi yang paling dibenci Ace. Saat itu Ace masih terlalu kecil untuk mengingat hal yang membuat sang ibu membencinya. Terlalu banyak aturan yang mengekang. Waktu yang dihabiskan sendirian di kamar sambil menunggu makanan dan tuntutan yang tidak manusiawi. Kau harus seperti ayahmu yang bermartabat dan punya kelas sosial. “Ibu tidak perlu khawatir. Meski kakek sudah meninggal, aku akan melindungi semuanya.” Lelaki berambut biru berkata sambil menggenggam jemari ibunya yang kurus. Meski bentuk fisik lelaki dan perempuan itu sama seperti Ace dan ibunya, Ace meyakini mereka tidaklah sama. Wajah penuh kasih sayang dan kelembutan yang tampak jelas di setiap kerutan wajah perempuan itu saat tersenyum tidak pernah tercipta di wajah ibunya. Bahkan seumur hidup, Ace belum pernah melihat ibunya tersenyum saat melihat anaknya sendiri. Ibunya hanya seorang perempuan yang terus menunduk, menatapi foto ayahnya. Itu bukanlah ingatan yang ingin Ace lihat lagi. Dia bukannya ingin menghapus ingatan itu, tidak sama sekali meski ibunya telah melupakan kehadiran Ace. Ace menggeleng-gelengkan kepalanya sekuat tenaga samapi akhirnya adegan di hadapannya pecah layaknya kaca. Dingin merasuki tubuh Ace ketika adegan lainnya muncul. Dia harus menahan semua ini meski kepalanya terasa mau pecah. Kemungkinan besar, semua adegan yang dilihatnya ini adalah salah satu proses perubahannya menjadi Dragon Slayer. Apakah semua ini adalah ingatan naga yang telah Ace bunuh? Kalau perkiraan Ace benar, apakah semua naga dulunya adalah manusia? Pemandangan berganti menjadi ruangan luas dan mewah yang dibanjiri darah. Jauh di hadapan Ace, lelaki berambut biru menunduk, menatap mayat ibunya dengan penuh kemarahan dan kedua tangan terkepal. Apa yang terjadi? Apakah ini berkaitan dengan ingatan naga lagi? Apakah mungkin kalau lelaki berambut biru itu adalah naga yang baru saja dia bunuh? Sebuah perasaan marah yang kuat membanjiri tubuh Ace. Dia bahkan tidak tahu alasan kakinya mendekati lelaki berambut biru. Namun, sebelum berhasil meraihnya, pemandangan telah berganti. Dirinya seakan disedot sesuatu yang dingin. Kerlap-kerlip cahaya kebiruan memenuhi pelupuk mata. Amarah, kebencian, dan rasa dingin kembali membungkus tubuh Ace. Di antara kerlipan cahaya, dia melihat ratusan naga menghancurkan kota mereka. Kekuatan sihir naga yang kuat telah meratakan kota yang damai. Ace terbelalak. Itu adalah Dawn Grimmer dengan bangunan-bangunan yang sama seperti yang Ace lihat hari ini. Jalan-jalan membeku meski diterpa api yang kuat, seolah es-es itu tidak akan pernah bisa meleleh. Seekor naga hitam kemudian menduduki puncak istana, mendeklarasikan kaumnya sebagai pemenang, seakan naga-naga itu tengah berpesta di antara tumpukan mayat manusia. Di atas kepala naga hitam yang mengilat, seseorang berdiri dengan jubah serbahitam. Ace tersentak ketika sosok itu membuka hoodie-nya. Lelaki itu … kenapa Ace merasa familier dengan wajahnya? Ace sangat yakin tidak pernah melihat wajah itu. Meski Ace ingin mengucapkan nama atau sekadar memaki, suaranya tidak mau keluar. Puing-puing bangunan yang runtuh tak sedikit menjadi kuburan orang yang terjebak. Di salah satu puing-puing, dia melihat anak itu menangis di hadapan setengah tubuh perempuan yang tertimpa bangunan. Ace menggeram. Tanpa alasan yang jelas, ada sesuatu yang menyayat sebagian dirinya. Dadanya sesak seiring amarah yang memuncak. “Senang berjumpa denganmu lagi, Ace Clauser.” Suara yang dingin dan tenang menyapa di dalam kepala Ace. Awalnya, Ace menduga lelaki itu berada di sampingnya, tapi ternyata dia masih ada di sana, di atas reruntuhan bangunan dengan senyum miring. Lagi? Apakah mereka benar-benar pernah berjumpa? Firasat Ace mengatakan bahwa lelaki ini sangat berbahaya. Hasrat kegelapan yang begitu dalam tumbuh besar di dalam tubuhnya, seolah-olah tak berdasar dan tidak memiliki batas. “Kau terlalu lemah untuk melindungi semuanya, Ace Clauser.” Bisikan itu seakan menghantam kesadaran Ace. Semua ingatan menjadi kabur. Sosok itu pun perlahan menghilang ketika Ace berusaha meraihnya. Kemarahan yang memuncak menarik kesadarannya begitu dalam menuju ruang kosong yang dingin dan gelap. “Kita pasti akan bertemu lagi. Tunggu saja kedatanganku selanjutnya.” Ace membuka mata, tapi dia tidak bisa melihat apa-apa. Garis-garis sinar menyilaukan memenuhi pandangannya. Dia tak mampu mengerjap. Seluruh tubuhnya terasa sakit, kulitnya terasa membeku, seperti hendak lepas dari otot dan tulangnya. Dia mencoba berteriak, atau setidaknya bergumam, tapi dia seakan kehilangan kontrol atas fungsi tubuhnya. Suara letupan, ringkihan, serta pekikan aneh memenuhi telinganya. Gumaman yang dalam bergema di telinganya, seakan mengaduk-aduk isi kepalanya. Dia berada di tepi kesadaran, merasakan tubuhnya tergelincir masuk dan keluar ke ruang kosong yang gelap, dalam, dan hendak menelannya. Namun, di sisi lain, jiwanya yang mengenali suara itu. Akan tetapi, saat kegelapan dan rasa dingin itu kian menguasai, Ace merasa kehangatan menjalari tubuhnya. Sesuatu yang sangat nyaman. Ace bisa merasakan kesadarannya kembali pulih. Dia pun menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya, mencoba mengingat-ingat semua fakta yang dia tahu satu per satu untuk memastikan bahwa ini adalah tubuhnya. Apa yang terjadi setelah dia menerima Obsidiant Stone? Dia telah kehilangan kesadaran di atas udara dengan HP yang tinggal setitik. Andai tubuhnya jatuh atau terkena sisa-sisa sihir, Ace akan mati kan? Apakah tubuhnya jatuh menghantam tanah? Apakah Niel dan teman-teman konyol itu menangkap tubuhnya? Apakah mereka selamat? “Ace Clauser.” Benar. Dia adalah Ace Clauser. Dunianya telah berubah. Sebuah game yang tidak dia ketahui akhirnya menjadi nyata. Saat ini, kehidupannya telah dipertaruhkan antara hidup dan mati setelah menerima kekuatan naga. Dragon Slayer. Itulah dirinya sekarang. Ya, sekarang sudah waktunya dia kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN