Napas Ace berembus dengan kasar. Bayang-bayang kota yang hancur dan penyihir naga telah hilang.
Apakah dia selamat? Jangan-jangan salah satu dari teman guild konyol itu telah menyelamatkan tubuh Ace yang meluncur dari atas? Rasa dingin yang menusuk-nusuk kulitnya telah hilang. Bukan hanya itu, tapi seluruh tubuhnya terasa ringan dan lapang. Seolah-olah dia baru bangun dari tidur panjang.
Apakah dia selamat? Jangan-jangan salah satu dari teman guild konyol itu telah menyelamatkan tubuh Ace yang meluncur dari atas?
Apakah dia bermimpi?
Semakin kesadarannya pulih, Ace merasakan sentuhan seorang perempuan. Mungkinkah Hilla? Sepertinya bukan. Sentuhan itu lebih lembut, terasa begitu dekat dengannya. Bukan seperti sentuhan yang dikenalnya beberapa waktu lalu. Lalu, entah apa yang dilakukan perempuan itu, ada energi asing yang mengaliri tubuhnya. Rasa sakit di sekujur tubuhnya perlahan memudar. Selang beberapa menit kemudian, pandangannya kembali normal. Guratan cahaya membutakan itu berganti menjadi sorot matahari yang mengenai wajahnya.
“Ace, kau sudah sadar?” Suara yang familier dan hangat menyapa.
“Sepertinya kau sudah sadar.”
“Jadi, dia sadar juga? Kukira dia beneran mati.”
“Jaga bicaramu. Memangnya kau tidak pernah mengalami hal ini, huh?”
“Wah-wah, coba lihat. Dulu aku tak sadarkan diri selama tiga hari, sedangkan bocah ini hampir seminggu. Benar-benar kelewatan.”
“Berisik.”
Suara-suara itu muncul, satu per satu, saling susul memenuhi benak Ace.
“Ace, kau bisa mendengarku?”
Di mana dirinya sekarang? Kalau dilihat-lihat dari warna langit-langit dan suasana sekitar, mungkin dia berada di salah satu bangunan Dawn Gimmer. Saat membuka mata, dia melihat langit-langit cokelat dan merasakan sensasi empuk di punggungnya.
Dia mengerjap beberapa kali, memperhatikan wajah anggota guild [Sleepy Bunny Bunch] yang tampak gelisah. Wajah Hilla adalah yang pertama kali disusul wajah Edgar, sementara Lucas dan Niel tampak acuh di ujung ruangan. Tubuh Ace sudah terbujur kaku dalam waktu yang lama dan otot-ototnya hampir tidak bekerja sesuai keinginannya.
“Kalian … baik-baik saja?”
“Tentu! Semua telah kembali normal ketika quest selesai!”
Ah, begitu rupanya. Inilah alasanku bisa berada di sini. Ace bergumam.
Seorang perempuan segera menahan Ace yang mencoba untuk bangkit. “Ace! Sudah cukup. Kau belum pulih sepenuhnya.”
Ace kira dia telah kembali ke dunianya setelah mendengar suara yang sangat dikenalnya itu. Lalu, dia berharap perempuan ini mengatakan bahwa semua hanya mimpi. Namun, ketika Ace menoleh ke samping, dia melihat perempuan itu memakai jubah panjang berwarna putih tanpa lengan. Jelas itu bukan pakaian dari Hilfheim.
Allura.
Dia ada di sini. Di Erfheim.
“Allura? Kau—” Ace mengernyit, memastikan bahwa otaknya ini masih waras setelah melihat Allura sedang berdiri di sisinya. “Bagaimana kau bisa berada di sini?”
Bukan Allura yang menjawab, tapi Hilla. Perempuan itu memandang Ace dan Allura bergantian dengan wajah terkejut. “Kalian saling mengenal?”
Allura menggaruk pelipis dengan canggung sambil menghindari pandangan Hilla. Di posisi ini, Ace yang harusnya merasa kebingungan. Bagaimana bisa Allura berada di sini? Sejak kapan Allura terlempar di Erfheim? Apa yang terjadi padanya? Apakah orang-orang ini mengenal Allura?
Sebelum Ace menanyakan pertanyaan itu kepada Allura, dia teringat sesuatu. Saat bergabung dengan guild [Sleepy Bunny Bunch], dia mendapati ada enam anggota. Tetapi, saat pertemuan pertama mereka, dia hanya melihat lima anggota. Apakah Allura adalah salah satu anggota?
“Kami berasal dari dunia yang sama.” Ace menjawab pada akhirnya. Dia tidak yakin Allura bisa menjelaskan hal ini kepada mereka. Dia adalah perempuan pemalu yang bahkan selalu gugup saat berada di tengah-tengah banyak orang.
Lima orang anggota tampaknya benar-benar sangat terkejut dengan jawaban Ace. “Apa?”
Ace terperangah dengan respons mereka. Kenapa sampai seheran itu mendengar bahwa dia dan Allura berasal dari dunia yang sama? Toh, mereka juga berasal dari dunia yang sama meski tempat tinggal mereka berbeda. Bukan begitu? Tapi, sepertinya semua tidak sesederhana yang Ace pikirkan.
“Tidak ada satu pun dari kami yang berasal dari dunia yang sama, Ace.”
“Bahkan beberapa dari kami berasal dari dunia yang jauh dari kata canggih sepertimu.”
Perlahan mata Ace terbelalak. Dia memandang teman-temannya secara bergantian seakan tidak percaya. Tunggu, apa maksudnya ini? Mereka berasal dari dunia yang berbeda? Dunia parallel? Apakah mungkin ada dunia lain selain tempat tinggalnya?
Keringat dingin mulai menjalari tubuh Ace. Dia tidak pernah membayangkan ada hal seperti ini seumur hidupnya. Tentu saja dia tidak pernah menduga bahwa dunia lain itu benar-benar ada. Malah saat ini, Ace semakin tidak percaya ada teknologi yang menghubungkan beberapa dunia sekaligus. Itu semakin tidak masuk akal!
Ketegangan pun mulai terasa menguasai ruangan. Ini bukan waktu yang tepat untuk membuat otak Ace bekerja di luar kapasitas, tapi rasa penasaran sekaligus tidak percaya terus menggerogoti dirinya untuk bicara.
Jika mereka berasal dari dunia yang berbeda, kenapa dirinya dan Allura berasal dari dunia yang sama? Sebelumnya, Ace mengalami kondisi yang tidak biasa. Dia terlempar ke dunia ini meskipun tidak dalam keadaan sekarat atau kritis karena melanggar aturan. Jika dia mengalami kondisi yang berbeda, mungkinkah Allura juga mengalaminya?
Mungkinkah—
“Allura, bagaimana bisa kau berada di sini?” Pandangan Ace tertuju kepada Allura yang berdiri di sisinya dengan kepala tertunduk dan kedua tangan tertaut.
Allura masih tampak ragu-ragu menjawab. “A-ah. Sewaktu aku hendak menemuimu, aku melihat fenomena itu terjadi. Seorang anak kecil yang tertabrak kereta tanpa seorang pun yang melihatnya kecuali aku.”
“Apakah kau menghampirinya?” Ace mendesak Allura tak sabaran.
Hilla sampai terkejut saat mendengar penjelasan lanjutan dari Allura. “Ya, aku menghampirinya tanpa pikir panjang dan berniat untuk menolongnya, tapi ….”
Tanpa perlu mendengar lanjutan dari Allura, Ace sudah paham dengan melihat raut wajah dan gestur tubuhnya. Saat ini, perempuan berambut pendek itu tengah menunduk dengan raut wajah suram dan kedua tangan gemetar.
“Dia menghilang sebelum aku berhasil mendekatinya.”
Darah Ace seketika membeku. Persis ketika dia berhadapan dengan N-101 dan mendengar segala omong kosong tentang Erfheim Rebirth. Ini jelas bukan permainan. Tentu saja. Dan semua kejadian yang Ace alami juga bukan mimpi. Perasaan ngeri ketika mengetahui Allura juga terjebak sama sepertinya tidak bisa ditepis begitu saja. Di tempat ini. Di dalam permainan hidup dan mati tanpa mengetahui siapa orang gila yang menciptakannya.
“Lalu?” Ace memberanikan diri bertanya lebih lanjut. Dia memperhatikan raut wajah Allura yang semakin suram dibanding sebelumnya.
“Setelah anak itu menghilang, aku menjadi panik. Aku berusaha menghubungimu, tapi tidak ada sinyal. Benar-benar tidak ada. Bahkan ponselku mati beberapa saat dengan kondisi baterai energinya masih penuh. Saat itu aku mulai merasakan keanehan. Udara di sekitarku menjadi dingin dan aku merasa tidak ada energy listrik apa pun. Tempat itu kosong walau pemandangannya tetap sama. Karena takut, aku mulai melarikan diri meninggalkan tempat itu. Namun ….” Tangan Allura gemetaran tanpa henti dan matanya terpejam saat melanjutkan. “Sorot cahaya yang begitu terang membuat kesadaranku lenyap. Saat terbangun aku tidak memiliki ingatan apa pun lagi tentang tempat itu.”
Darah dalam nadi Ace serasa membeku ketika mendengar penjelasan terakhir Allura. Tidak ada penjelasan apa pun yang dapat menangkal bahwa Allura dan Ace mengalami kejadian yang sama: melanggar aturan Creator. Ya, mereka telah melanggar aturan yang diciptakan secara sepihak, tanpa adanya persetujuan apa pun. Bahkan jika dipikir-pikir, semua pemain terjebak tanpa sepengetahuan mereka.
Apakah itu alasan yang cukup untuk menjawab lelucon ini? Bahwa ada dua orang dari dunia yang sama terlempar dengan kasus yang sama? Apakah semua ini memiliki maksud tertentu?
“Tunggu, kau menghilang saat hendak menemuiku makan siang?”
Allura mengangguk. “Malam sebelumnya kau menghubungiku untuk makan siang di restoran biasa dekat stasiun. Aku—”
“Tunggu!” Ace memotong. “Sejak kapan kau ada di sini?”
Allura berpikir sejenak. “Hampir dua minggu yang lalu. Kenapa?”
“Aku menghilang saat naga es itu muncul menyerang Dawn Grimmer. Itu artinya kau terlempar ke sini lebih cepat dariku, tapi kenapa aku menghilang lebih cepat darimu? Aku menghilang pada akhir minggu kedua bulan sebelas. Lebih cepat dua hari sebelum janji makan siang di restoran dekat stasiun. Bahkan aku belum mengirimkan pesannya padamu.”
“Apa?”
Ace berpikir sejenak, mencoba menyatukan semua kejanggalan yang terjadi. Hari menghilangnya Allura dan dirinya jelas berbeda, tapi kenapa Allura muncul di Erfheim lebih dulu darinya?
“Allura, kau sudah mendapatkan sihir?”
“Ah? Ya, sudah.”
“Kapan?”
“Sehari setelah aku berada di tempat ini.”
Apakah artinya ini? Kenapa ... garis waktunya dengan Allura berbeda? Bagaimana jika ternyata mereka semua berasal dari dunia yang sama tapi berbeda garis waktu? Bagaimana jika ... mereka semua adalah orang-orang yang dikumpulkan dalam waktu tertentu?