Chapter 13: Status dan Skill

1167 Kata
Setelah mendapat satu kebenaran tentang dunia ini, Ace merasa bimbang. Tentu saja benaknya tidak mampu memikirkan cara paling logis tentang system game yang mempersatukan orang-orang dari timeline yang berbeda. Awalnya Ace menebak bahwa Creator adalah seorang game designer dan seorang genius di bidang fisika kuantum, orang yang telah membuat virtual reality. Setidaknya itulah yang Ace ketahui tentang seorang perancang game. Tapi, apakah mungkin seorang manusia yang mengandalkan komputer dan data bisa melakukan hal seperti ini? Bagaimana caranya menghilangkan manusia dalam sekejap layaknya sebuah sihir? Ace memang tidak percaya pada sihir. Tapi, rasanya sebutan itu jauh lebih logis dibandingkan membayangkan Creator sebagai seorang manusia jenius yang mampu menjebak jiwa seseorang. Sebelum ini Ace telah mendengar sebuah teknologi yang bisa menyimpan jiwa, tapi semua masih terasa tidak masuk akal. Saat ini, Erfheim Rebirth tidak lagi terasa seperti sebuah game biasa. Ini adalah dunia nyata yang kedua dengan segala jenis revival tidak akan bekerja. Mereka bisa bertambah kuat dengan membunuh monster, mendapatkan kenaikan class, dan melatih sihir mereka. Tapi, meski sekuat apa pun dirimu, jika HP mencapai angka nol, nyawamu akan menghilang selamanya. Tiba-tiba rasa ingin tertawa menggelitik perut Ace. Dia menahannya. Sebuah garis horizontal panjang bersinar di bagian atas kepala. Ketika Ace memfokuskan pandangan ke sana, informasi karakternya dapat terlihat bersama dengan beberapa pesan yang belum dibaca. [Welcome, Dragon Slayer] [You have unread mail] [Message: You have completed the ‘Special Quest’] [Your rewards for completing the main quest ‘Get a Class’ has arrived. Would you like to accept?] [Reward: Passive Skill [Elemental Affinity]] “Accept.” Ace menutup mata dan membukanya lagi. Beberapa jendela informasi muncul di hadapannya menunjukkan daftar pesan yang tadi tidak sempat Ace baca baik-baik. Di luar dugaan, ada banyak pesan dari N-101 mengenai kenaikan class-nya menjadi [Dragon Slayer] yang muncul setelah percakapannya dengan Allura dan yang lain. Setelah membaca sekilas, Ace merasa pesan-pesan itu hanyalah basa-basi dari system. Tidak ada yang penting selain mengecek informasi status karakternya sekarang. [Status Remaining SP: 11] [Name: Ace Clauser Level: 15] [Usia: 20 tahun HP: 1955] [Class: Dragon Slayer] MP: 200] [Special Skill: Molding Magic] Rank: Uknown [Strength lv. 4 Dexterity lv.4 Magic Power Lv. 8] [Agilty lv. 6 Intelligence lv.4 Vitality Lv. 4] [Passive Skill: Elemental Affinity> easily manage mana and gain additional effects when memorizing] [Active: Perfect Guard> reduce damage by blocking attack with magical skill] Ternyata pesan yang terakhir Ace dengar sebelum kehilangan kesadaran bukanlah mimpi. Sekarang ada beberapa perubahan di jendela informasi statusnya. Bagian class dan special skill telah aktif dan dilihat dari besaran atribut, Ace merupakan tipe magic. Keputusannya untuk mengisi semua skill point ke magic power benar-benar tepat. Sekarang dia memiliki sebelas sisa poin yang didapat dari pertarungan melawan naga. Namun, dia masih kebingungan membagi poin-poin itu sampai sekarang. Dia bukanlah tipe penyerang garis depan seperti Edgar atau Demian, jadi dia tidak perlu meningkatkan strength secara berlebihan. Mungkin dia akan memasukan beberapa poin di bagian dexterity untuk meningkatkan akurasi dan stabilitas serangan, juga intelligence untuk meningkatkan serangan magic. Dalam hal itu, dapat dikatakan bahwa dexterity dan intelligence membentuk ‘set’ yang mendukung tipe magic. Masalahnya, jika dia terlalu kecil memasukan poin di strength, dia akan kesulitan dalam urusan fisik. Dan jika vitality-nya terlalu rendah, kapasitas regenerasi HP dan pertahanan fisik akan mengganggu dalam pertarungan yang serius. Mungkin karena faktor dari special skill, dia mendapatkan pasif skill yang berguna untuk mengatur jumlah mana yang digunakan. Ini akan sangat membantu bagi dirinya yang merupakan tipe magic. Tapi, di sisi lain, dia juga membutuhkan agilty untuk menciptakan gerakan cepat saat menghindari monster atau berpindah tempat. Dia tidak bisa mengandalkan tank atau healer ketika menjalani dungeon atau quest. Magic power Ace sudah cukup tinggi sehingga dia memilih untuk memasukkan satu poin di sana. Dan selebihnya, Ace memasukkan masing-masing dua poin ke status lain. [Status Remaining SP: 0] [Name: Ace Clauser Level: 15] [Usia: 20 tahun HP: 1955] [Class: Dragon Slayer] MP: 200] [Special Skill: Molding Magic] Rank: Uknown [Strength lv. 6 Dexterity lv.6 Magic Power Lv. 9] [Agilty lv. 8 Intelligence lv.6 Vitality Lv. 6] [Passive Skill: Elemental Affinity> easily manage mana and gain additional effects when memorizing] [Active: Perfect Guard> reduce damage by blocking attack with magical skill] Melihat statusnya yang hampir seimbang, Ace tiba-tiba merasa senang pada dirinya sendiri tanpa alasan apa pun. Dia akan menaikan intelligence dan dexterity ketika mendapat poin lebih. Sekarang masalah poin sudah selesai, tapi ada satu yang mengganggu pikiran Ace. Jika dalam permainan yang pernah dia jalani, skill aktif yang digunakan untuk menyerang musuh akan muncul setelah mencapai level tertentu. Tapi, active skill-nya hanya ada satu dan itu pun tidak bisa digunakan untuk menyerang. Dia jadi bertanya-tanya, bagaimana sihir yang dia hasilkan nanti? Dia telah melihat pertempuran Niel dan teman-temannya di special quest. Tapi, dia tidak mengerti bagaimana mereka bisa mengeluarkan sihir-sihir itu. Apakah ada mantra tertentu yang membuat tubuh mereka bergerak sendiri? Ace mencelos. Seketika dia merasa merinding jika membayangkan sebuah system bisa mengatur gerak tubuh seseorang. Tidak. Ini bukan waktunya untuk memikirkan hal-hal konyol semacam itu. Dia harus berkembang. Jika seluruh stat dan atributnya berkembang, dia akan punya kemampuan lebih untuk mengalahkan Apostologia dan mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang Creator. Andaikan pemikiran Ace benar, bahwa dirinya dan Allura berasal dari dunia yang sama dengan timeline berbeda, mungkin ayahnya juga berada di sini. Jika dia bisa menemukannya, mereka bisa kembali ke rumah. Ibunya akan kembali normal. Ace mengepalkan kedua tangan. Saat ini dia tidak bisa menyerahkan hidupnya secara sia-sia. Tidak setelah dia menjadi Dragon Slayer yang merupakan pilihan system. Sistem telah memilihnya, untuk itu dia akan memanfaatkan semua itu dengan sebaik mungkin. Pertarungan dengan naga yang levelnya terpaut jauh telah membuat Ace naik sebelas level. Kemungkinan besar, naga itu sepuluh atau dua puluh lebih tinggi levelnya dari Ace. Tapi, pertarungan sebelumnya berhasil karena ada banyak serangan player yang mengurangi HP naga sebelum Ace bergabung. Ace tidak bisa membayangkan jika dia harus melawan musuh seperti itu sendirian. “Aku harus meningkatkan levelku lagi. Apakah ada tempat di mana aku bisa mendapatkan exp lebih banyak?” Ace membuka jendela peta Erfheim. Ada beberapa bagian peta yang diwarnain merah, hijau, dan kuning. Berdasarkan keterangan di sana, bagian merah adalah wilayah dengan level musuh yang lebih tinggi darinya. Dia tidak bisa pergi ke sana, kecuali jika memiliki setidaknya tiga anggota party yang selevel atau lebih tinggi dari level musuh. Sedangkan wilayah hijau memiliki tingkatan level yang sama dengannya. Untuk memasuki wilayah itu, Ace membutuhkan dua orang yang juga selevel dengannya. Wilayah kuning berisi musuh-musuh yang lebih rendah dari Ace dan tidak memberikan exp yang banyak. Apakah lebih baik mengajak anggota guild-nya? Ace akan merasa aman jika bisa membujuk Niel untuk menemaninya. Namun, masalahnya Niel adalah tipe kaku yang tidak akan melakukan hal-hal semacam itu dengan sukarela. Di sisi lain, meski levelnya telah meningkat, Ace butuh perlengkapan bertarung seperti armor. Dia tidak bisa menggunakan hoodie biru yang telah berantakan dan celana training usang yang dibawanya dari Hilfheim. “Kurasa, sudah waktunya untuk berjalan-jalan di luar penginapan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN