Chapter 27: Rank Quest (2)

2282 Kata
[Rank Quest is Started!] [A new dungeon will be generated for this quest. Dungeon baru akan dibentuk untuk quest ini.] Ketika pesan itu berakhir, ruangan sekitarnya bergetar hebat. Ace yang duduk langsung meraih tepi tempat tidur untuk mempertahankan keseimbangannya. Benda-benda yang berada di sekitarnya ikut terjatuh lalu menghilang. “Apa-apaan ini?” Tepian tempat tidur yang dipegang Ace tiba-tiba pecah. Dirinya melompat-lompat di ruangan dan berusaha untuk tidak teriak. Tiba-tiba, sebuah lubang yang terbuat dari lingkaran sihir terbentuk di lantai penginapan. Ace mati-matian melarikan diri ketika lubang yang semakin meluas itu mencoba menariknya. Satu per satu barang di dalam ruangan seakan ditelan oleh kegelapan. Pandangan Ace mengabur dan semua berubah menjadi gelap. Beberapa detik setelahnya,  getaran itu berhenti. Kegelapan seolah memudar. Ujung jarinya menyentuh rumput-rumput pendek yang kering. Di antara rerumputan itu, ada salju-salju lembut yang menebarkan udara dingin. Perlahan dia membuka mata dan mengangkat kepala. Matanya menangkap pemandangan di dataran tak berujung yang ditumbuhi tanaman berwarna mencolok dengan alga yang tumbuh di lereng-lereng batu. Sementara ketika menatap ke langit, dia tidak menemukan bulan, matahari, atau pun bintang. Hanya ada langit kosong tak berawan yang berwarna kebiruan. Ace mengerutkan kening dan bangkit sambil membersihkan sisa-sisa salju yang menempel di pakaian lalu melihat ke sekeliling. “Tundra?” Jadi … inikah dungeon yang diciptakan untuk rank quest-nya? Tempat ini sekilas mirip dengan hidden dungeon waktu itu. Sebuah pesan dari system muncul di pandangan ketika Ace mengedarkan pandang. [You have entered the dungeon. You can’t leave this dungeon until Rank Quest has been completed. Kamu telah memasuki dungeon. Kamu tidak bisa meninggalkan dungeon ini sampai Rank Quest diselesaikan.]   [This location forbids the usage of potions and shop. Your HP and MP will not recover even if you level up. Lokasi ini melarang penggunaan ramuan dan toko. HP dan MP-mu tidak akan pulih meskipun kamu naik level.] Ace hampir saja menggigit lidah ketika membaca pesan itu. Artinya, dia hanya bisa menggunakan sisa potion di inventory selama quest berlangsung. Dan sekarang dia hanya memiliki lima HP potion dan empat MP potion. Dia juga tidak bisa menggunakan shop untuk membeli perlengakapan lain seperti antiracun dan potion. Jika terlalu banyak terluka, situasi akan memburuk karena dia tidak bukan healer yang bisa menyembuhkan diri. Mungkin dia bisa menggunakan [Energy Drain] untuk mengisi bar HP dan MP setiap kali ada kesempatan. Ace menutup pesan itu. “Artinya, aku harus menjaga baik-baik stamina dan mana-ku.” Buruknya, Ace tidak bisa mengonfirmasi tingkatan dungeon ini. Satu fakta yang Ace ketahui: rank quest berada di tingkatan yang berbeda, dia tidak bisa menyembuhkan diri sendiri dan tidak ada jalan keluar. Namun, semakin tinggi resiko, semakin tinggi pula hadiahnya. Semua resiko ini setimpal dengan kemampuan-kemampuan yang akan diterimanya sesuai rank. Bunyi pesan membuat Ace tersadar. “Ini bukan waktunya untuk melamun.” Jika berhasil melalui semua rintangan di dungeon ini, dia bisa mendapatkan rank tinggi dan bisa secepatnya kembali ke dunia nyata. Namun, jika dirinya tidak mampu melalui quest dan mendapat rank rendah, dia akan menjadi sekadar pengganggu bagi guild-nya. Dia tidak bisa terus bergantung kepada mereka dan tidak melakukan apa-apa. Jadi untuk sekarang, Ace harus berusaha semaksimal mungkin. Setelah menarik napas panjang, Ace mulai melangkah. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh, seolah bersiap untuk menyerang. Ace berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak lebih cepat. Pendengarannya menajam, seolah bersiap-siap seandainya ada serangan dadakan. Matanya menatap jauh ke depan. Namun, tidak ada apa-apa di sini. Dia disambut oleh pemandangan biasa dengan sebuah jalan setapak dari batu kerikil. Bahkan setelah berjalan cukup lama pun, yang ditemui Ace hanyalah hamparan tundra yang dikelilingi gunung bersalju. Tempat itu terlalu hening dan damai untuk disebut sebagai dungeon. Dengan kesunyian yang memekakkan telinga disertai udara dingin yang menusuk, tempat ini menjadi jauh lebih menakutkan dibanding dungeon rank A kemarin. Namun, Ace tahu level monsternya tidak akan terpaut jauh dari levelnya sekarang. Mungkin level dua puluh sampai level tiga puluh. Dia menebak demikian karena batas minimum pengerjaan Rank Quest adalah level dua puluh, sementara level maksimalnya adalah level tiga puluh. Di dalam game, developer tidak akan memberikan main quest yang levelnya terlalu jauh dari player. Mereka selalu menerapkan level minimum dan level maksimum dalam mengerjakan quest. Contohnya saja seperti dungeon rank A kemarin. Serangan Ace tidak akan terlalu berpengaruh karena perbedaan level, tapi ketika dia mengalami kenaikan level, pertarungan menjadi lebih seimbang. Ace sesekali melempar lirikan ke belakang. Karena banyak pikiran, dia tidak sadar sudah berjalan sejauh itu. Portal tempatnya muncul hanya terlihat seperti kerlipan biru di tengah padang yang luas. Setiap Ace melangkah, udara jadi semakin dingin. Dia dengan gugup memelankan langkah, menahan napas, dan mengamati sekeliling. Namun, dia tetap tidak bisa melihat sesuatu yang khusus. Mungkinkah mereka berusaha menyembunyikan hawa keberadaan untuk menyerang Ace secara bersama-sama? Dia dengan hati-hati menginjak salju yang keluar di antara rerumputan pendek. Meski segalanya tampak hening dan tenang, Ace bisa merasakan tatapan sesuatu yang tak terhitung jumlahnya. Perlahan, muncul bau busuk hewan di sekitar. Bagi Ace yang tidak pernah menjumpai bau seperti ini, dia agak terkejut. Namun, dia tidak bisa menemukan keberadaan monster-monster itu sama sekali. Persis seperti pemangsa yang mengintai mangsanya. Namun, dia telah bersiap-siap Kesal, Ace berhenti. “Jadi, untuk apa kalian bersembunyi?” Setelah mendengar suara Ace, salju-salju di sekitar perlahan berubah menjadi beruang berbulu putih dengan mata merah. Monster beruang terkenal sebagai tipe binatang buas yang menyerang dengan cakar, dipandang sebagai karnivora terkuat. Dan saat ini, Ace tengah berhadapan dengan monster binatang yang telah mengelilinginya seperti lalat yang mengelilingi bangkai. [The ‘First Quest: Kill all enemies 0/50’ has started!] [First Quest:  Kill All Enemies 0/50] [Difficulty: Rank C ] [Reward:  ???] [Time Limit: 315 minute] [Failure: Death] [QUEST START!] Quest pertama? Apakah mungkin ini adalah quest bertahap sebelum akhirnya menyelesaikan dungeon? Mata Ace membulat ketika membaca keterangan pesan. Dengan ini tingkat keberhasilannya semakin memburuk. Dia harus membunuh lima puluh monster ini sendirian? Namun, rank quest-nya berbeda dengan dungeon rank A, jadi tingkat kesulitannya pun pasti berbeda. Dia bisa membunuh kawanan lizardman dan orcs yang memiliki rank A, jadi dia pasti bisa mengalahkan beruang-beruang ini. Meski dia tidak tahu seberapa kuat beruang salju ini, Ace yakin mereka jauh lebih lemah dibanding naga yang memberinya kekuatan. “Dibanding dia, kalian benar-benar lemah.” Ace bergumam. Matanya menatap satu per satu beruang itu dengan tajam, seolah menilai keadaan. Nama monster-monster itu ditulis dengan warna kuning yang artinya tidak terlalu berbahaya. Seekor beruang salju maju, menggeram memamerkan taringnya. Perlahan-lahan beruang di belakangnya ikut maju. Meski bentuknya seperti beruang kutub, ukuran mereka jelas berbeda. Tinggi mereka dua kali dari Ace dengan sebuah kristal biru yang dapat dilihat di tengah-tengah dahinya. Ketika melihat kristal itu, Ace jadi teringat titik lemah naga es. “Jadi, apakah itu titik lemah mereka?” Ace bertanya sambil mempersiapkan posisi menyerang. Dia mengangkat kedua tangan ke depan membentuk kepalan. Meski dia bertanya, monster-monster itu tidak akan mengerti kan?   “Bagaimanapun, kalian berada dua level di bawahku. Ini akan jadi pertarungan yang seimbang.” Beruang–beruang itu mengaum marah hingga tanah-tanah yang mereka pijakan bergetar. Tidak seperti insiden di kamar penginapan, Ace sudah lebih siap kali ini. Dia membentuk pijakan es yang menahan kakinya agar tidak jauh selagi beruang-beruang itu mengentakkan kaki. Rumput-rumput di sekitar membeku. Udara dingin semakin menusuk kulit, tapi ini merupakan keuntungan bagi Ace. Mungkin karena jenis sihirnya, dia tidak merasa kedinginan sedikit pun. Ace mengubah posisi kedua tangan kanannya menumbuk tangan kiri sambil memperhatikan musuh. “Majulah!” Beruang es mengayunkan lengan depannya yang tebal ke arah Ace secepat kilat. Namun, serangan itu dihalau oleh dinding es tebal yang kemudian pecah dan menusuknya. Sebelum beruang es itu terlepas dari sihirnya, Ace menciptakan palu besar yang menghantam kepala beruang ke tanah bersalju. [You defeated the ‘Yedee’] Ace bersiap-siap untuk serangan selanjutnya. Dia segera membentuk perisai es ketika beruang-beruang itu menyerangnya secara bersamaan, sementara sebelah tangannya membentuk pedang es panjang. Ace dengan erat memegang pedang di genggaman. Ketika perisai itu runtuh, Ace mengayunkan pedang. Tepi tajam dari pedang itu mengiris masing-masing lengan yang terulur. Beruang itu menggeram kesakitan saat Ace kembali mengayunkan pedang, melumpuhkan kaki-kaki mereka. Setelahnya, dia bergerak dengan cepat, mengayunkan pedang, memisahkan kepala beruang dari tubuhnya, lalu pecah menjadi kepingan cahaya. Ternyata bukan hanya mayat monster saja yang menjadi pecahan cahaya. Setelah membunuh sekitar lima belas beruang, pedang itu pecah menjadi polygon-poligon warna yang melayang di udara. “Huh? Apakah ada limit waktunya?” Ace bergumam sambil memandangi kedua tangan. Namun, ini bukan waktunya meratap. Beruang lain telah datang. Ace menerjang mendekat dan mengumpulkan kekuatan sihirnya di tangan, lalu membekukan lengannya sendiri. Mungkin ini sedikit nekat, tapi dia bisa menghemat penggunaan MP karena membekukan diri sendiri. Tentu saja tindakan ini akan mengurangi poin HP secara berkala. [HP: 2811/2867] [MP: 410/ 460] Se rangan barusan menciptakan kerusakan yang dashyat. Sebagian beruang yang menyerangnya telah berubah menjadi kepingan cahaya. Meski begitu, Ace tidak ingin terlena. Dia dengan segera mengubah es di lengannya menjadi kepingan tajam yang melesat ke titik lemah beruang. Karena pada dasarnya, skill Ace mengandalkan daya imaji, dia bisa menciptakan apa pun ketika mengingat bentuknya. Namun, menciptakan hal-hal besar seperti s*****a yang bertentangan dengan jenis sihirnya akan menguras MP. Jika dia sembarangan menghabiskan MP di sini, dia mungkin tidak bisa menggunakannya di saat yang diperlukan. Jadi, dia memutuskan untuk berhenti menciptakan s*****a dan menggantinya dengan serangan lain. Nyatanya, Ace cuma petarung tangan kosong yang meniru skill orang lain. Ace mundur beberapa langkah dan memperbaiki postur tubuh. Beruang-beruang itu telah berkurang. Dia melirik jendela penghitung yang menunjukkan angka 31/50. Senyum tipis perlahan terbentuk di bibir Ace. Semua itu karena ingatannya saat bertarung dengan teman-temannya hari ini. Berkat pengalaman itu, dia telah mengingat bentuk-bentuk serangan dari mereka yang mungkin bisa digunakannya sekarang. Yah, Ace rasa sudah waktunya untuk mengeluarkan sihir tiruan andalannya. Beruang-beruang itu bergegas maju dengan kasar seperti binatang liar. Ace dengan mudah menghindari se rangan yang ditujukan ke bahu berkat agilty­-nya yang lumayan tinggi. Di saat seperti ini, dia jadi bersyukur telah membagikan poin-poinnya secara rata ke seluruh stat, kecuali magic power yang paling dominan. “Kalian memang benar-benar lemah rupanya.” Ace berkata dengan sombong sambil mengusap keringat di dahi. Walau tempat ini dingin, bertarung dengan monster dalam jumlah banyak dapat membuatnya berkeringat. Ah, ataukah karena dia masih lemah? [HP: 2697/2867] [MP: 385/ 460] Benar. Dia hanya bisa meniru skill dan mengembangkannya dengan imaji sendiri. Namun, itu tidak masalah. Fakta bahwa dia telah bertahan telah membuktikan kekuatan meniru juga sama hebatnya dengan pemilik asli. Walau tidak memiliki damage yang sama, semua itu sudah cukup membantu, terutama ketika dia meniru [Fire Burst] Demian yang merupakan tipe AoE dan mengtransformasikannya menjadi sihir es. Meski Ace tahu dia tidak akan bisa meniru sihir pengobatan Allura yang tidak berbentuk, atau sihir Lucas yang terfokus kepada kecepatan. Cakar beruang yang tajam hampir saja mendapatkan kepala Ace jika lelaki itu tidak bergegas menciptakan pijakan yang membuat posisinya lebih tinggi dari kepala beruang. Ace sadar betul bahwa pengalaman bertarungnya jauh di bawah monster-monster ini, tapi bukan berarti dia tidak bisa memberikan perlawanan yang pantas. Kedua tangan Ace terarah ke bawah, tempat sembilan beruang yang tersisa berusaha menggapai pijakannya dengan rakus. Dari posisi ini, dia bisa mengarahkan se rangan ke titik lemah beruang. “[Energy Drain]!” Aura kebiruan menguar dari tangan Ace. Bibir Ace membentuk senyum ketika melihat bar HP dan MP-nya pulih kembali. Meski dia tidak bisa membeli potion dan harus menghematnya, dia masih punya skill yang berguna.  [HP: 2867/2867] [MP: 460/ 460] Masih dengan kedua tangan terulur, Ace mengumpulkan kekuatan di telapak tangan. Menggunakan skill ini akan sedikit menghabiskan MP, tapi tidak masalah. Setelah lima menit kemudian dia bisa mengisinya kembali.  “[Frost Barrage]!” Lingkaran sihir yang besar tercipta di masing-masing telapak Ace. Dalam hitungan detik, kepingan-kepingan es berujung tajam melesat ke kristal di dahi beruang-beruang itu, sementara lainnya menye rang secara asak. Pemandangan di depan Ace berkilat samar-samar. Satu-satunya yang bisa Ace lihat hanya bayangan kebiruan yang terus melesat dari tangan. Dengan teriakan singkat, Ace meningkatkan kecepatan skill. Sekarang di sekitarnya diselimuti efek cahaya biru langit yang terus menembus tubuh beruang tanpa ampun. Namun, bukan darah yang keluar melainkan cahaya kekuningan yang beterbangan. Bersamaan dengan berakhirnya skill Ace, beruang-beruang itu berteriak dengan marah atau mungkin ketakutan dan mengangkat cakarnya ke udara. Jejak sinar di udara berbentuk garis-garis lurus yang acak berpijar, lalu terpencar. Pada saat yang sama, bar HP di atas beruang-beruang itu menghilang tanpa menyisakan sedikit pun. Tubuh-tubuh yang besar itu jatuh, meninggalkan jejak panjang, kemudian berhenti tiba-tiba. Persis seperti kaca yang pecah, beruang-beruang itu berubah menjadi kepingan kaca kecil berwarna-warni yang tak terhitung, lalu menghilang. [You leveled up!] [You leveled up!] [You leveled up!]   Pesan kenaikan level terus berdering di kepala Ace. Berkat jumlah mereka yang banyak, Ace mendapat banyak exp ketika mengalahkan seluruhnya. Dia merasa seluruh kekuatan di tubuhnya terkuras habis karena mempertahankan [Frost Barrage] yang terus mengonsumsi MP-nya. Ace terengah-engah, melirik bar HP dan MP. [HP: 2867/2867] [MP: 400/ 460] Lihat? Bahkan menggunakan [Frost Barrage] dalam tiga menit telah mengurasi enam puluh MP-nya. Namun, Ace tidak menyesali itu. Menggunakan skill AoE lebih baik dibanding membunuh monster-monster itu dengan single target skill. [You have completed ‘First Quest: Kill All Enemies 50/50!] Meski quest pertamanya selesai, ruangan ini tidak berganti. Ada kemungkinan Ace harus mencari jalan untuk membuka quest kedua. Mungkinkah dia harus menjelajah sekitar? Entah kenapa dia merasakan hawa dingin yang merayap perlahan membelai tulang punggungnya. Sensasi yang aneh, sekaligus membuat Ace merinding. [The ‘Second Quest: Kill the King Yedee 0/1’ has started!] [Second Quest:  Kill King Yedee 0/1] [Difficulty: Rank B ] [Reward:  ???] [Time Limit: 30 minute] [Failure: Death] [QUEST START!] Bahkan sebelum Ace selesai membaca pesan itu, lubang sihir yang besar telah muncul di udara. Dan pemandangan di sekeliling Ace telah berubah menjadi hamparan kristal-kristal es yang dingin.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN