Pemandangan padang tak berujung telah berubah menjadi sangkar yang terbuat dari kristal-kristal kebiruan. Rerumputan yang diselingi salju kini menjadi hamparan lantai es yang dingin dan keras. Ruangan bundar ini juga dikelilingi oleh jeruji es yang berkilau. Tiang-tiang di dalam sangkarnya dibuat terpisah cukup lebar sehingga seorang manusia bisa masuk ke dalam seandainya system tidak memasang barrier.
Di sela-sela jeruji terdapat pola heksagon merah transparan. Di antara heksagon itu muncul dua kata yang saling bersilangan, yaitu [Warning] dan yang satu lagi adalah [Rank Quest]. Persis seperti yang dilihatnya sewaktu naga muncul di Dawn Grimmer.
Tiang-tiang es yang saling bersilangan memanjang ke atas membentuk kubah dengan cincin besar di ujungnya. Sederhananya, ruangan persis seperti sangkar burung yang amat besar yang terbuat dari kristal es. Di luar sangkar, semuanya gelap. Tidak ada matahari, bulan, bintang atau benda-benda langit, selain pola heksagon dan kristal es yang bercahaya.
Meski tampak megah dan indah, tempat itu akan menjadi penentuan bagi Ace.
Dari cincin di puncak kubah perlahan muncul monster yang lebih besar dari beruang es mendarat dengan sempurna di tengah-tengah ruangan. Ace mundur beberapa langkah. Monster itu memiliki penampilan seperti manusia, tapi kedua lengan yang sangat panjang dengan otot-otot menonjol. Karena postur tubuhnya membungkuk ke depan, kedua lengan yang dilapisi kristal es bisa menyentuh tanah. Bagian wajahnya penuh dengan janggut ikal seputih salju dan panjangnya mencapai perut, sementara tubuh bagian bawahnya dilapisi oleh bulu biru yang tidak terlihat jelas di balik cahaya kebiruan.
“Monster ini … yeti?”
Di dunia nyata, monster ini mirip dengan yeti. Perbedaannya, monster ini memegang sebuah kapak di tangan kanan dan memiliki cakar-cakar panjang yang melebihi beruang es sebelumnya. Yang menarik perhatian Ace adalah surai biru yang memanjang ke belakang dari atas kepala, mengingatkan Ace kepada ekor kuda jantan. Ada dua tanduk meliuk menempel di kedua sisi kepala dan matanya yang terlihat seperti terbakar api biru terang tertuju kepada Ace, terasa sangat dingin dan tidak
Meski begitu, penampilannya tidak penting. Di mata Ace, monster itu merupakan transformasi dari yeti di dunia nyata yang dilengkapi kekuatan mematikan.
Ace terpaut jarak yang cukup jauh antara monster itu, tapi aura sihirnya yang kuat membuat Ace kesulitan bergerak. Perlahan-lahan Ace memofkuskan pandangan ke monster itu hingga cursor berwarna merah tua. Dari warna nama dan cursor telah menunjukkan perbedaan level yang cukup jauh antara Ace dan monster ini.
[King Yedee Level 30].
Tidak salah lagi monster inilah yang harus dilawannya.
Ketika Ace berpikir, monster itu tiba-tiba mulai berteriak. Cahaya biru yang muncul mengguncang ruangan dengan kasar, menggertakkan lantai es ruangan. Napasnya yang dingin keluar dari mulut dan hidung ketika dia mengangkat pedang. Lalu monster itu mulai menerjang lurus ke arah Ace dengan kecepatan yang tidak bisa dipercaya tanpa memberikan kesempatan bagi Ace untuk berpikir. Seketika, keadaan sekitar menjadi sangat terang karena cahaya kebiruan yang terpancar dari monster itu.
“Dia cepat!” Ace bergumam sambil terus melarikan diri dari serangan monster yang begitu cepat meski memiliki tubuh yang besar. Bahkan kecepatan, kekuatan, dan range-nya melampaui perkiraan Ace.
Ace menggigit bibir bawah. Jantungnya berdetak cepat ketika monster itu kembali mengayunkan pedang. Sebelum pedang itu menembus bahunya, Ace lebih dulu menciptakan tembok es tebal setinggi dua meter, lalu bergulir ke samping. Meski luas, tempat ini tetap saja dibatasi oleh jeruji-jeruji besi. Setiap kali Ace menyentuh jeruji yang dialiri sihir, HP-nya akan ikut berkurang.
Melalui sudut pandangan, Ace berusaha mencari tempat yang bagus untuk mempersiapkan skill. Namun, sekelilingnya hanya ruang kosong yang dikelilingi kristal es tajam dan barrier. Jika dia berhenti sesaat saja, monster ini akan kembali menghantamnya.
“s**l. Aku tidak punya banyak ruang bergerak.”
Kecepatan yang dihasilkan monster itu mungkin setara dengan sihir listrik Lucas, membuat Ace tidak percaya dia bisa melakukannya dengan kaki yang jauh lebih kecil dibanding tubuh dan lengan. Seketika, sebuah pemikiran konyol melintas di benak Ace.
“Apakah semua sesuatu yang berkaki pendek memiliki kecepatan yang tinggi?”
[King Yedee] menutup jarak dalam sekejap mata lalu melompat ke udara dengan pedang di atas kepala, siap menghantam lantai es. Ace berguling ke samping, membiarkan pedang monster itu menghancurkan lantai es setengah meter darinya. Dia kemudian kembali berdiri dan berlari ke sisi ruangan. Tidak ada waktu untuk mengagumi betapa hebatnya monster itu.
Ace bergegas membentuk tombak-tombak es dari kedua tangan yang melesat menuju monster itu. Namun, dengan sekali ayunan saja monster itu berhasil menghancurkan serangan. Lantai es yang baru saja beregenerasi kembali hancur.
“Ketangkasan yang sama seperti Niel, huh?” Mata Ace membelalak melihat keakuratan menangis yang mirip dengan Niel. Namun, dengan segera Ace menyesali penilaiannya.
“Tidak. Kau lebih lemah darinya.”
Tidak seperti beruang es sebelumnya, yeti ini memiliki strength dan agility yang tinggi. Kekuatannya mungkin setara dengan Edgar dengan ketangkasan seperti Niel, ditambah kecepatan yang menyaingi Lucas. Namun, tetap saja serangan monster itu merupakan tipe single target, petarung jarak dekat meski range pedangnya cukup mengkhawatirkan. Entah seperti apa penilaian system sampai meletakkan Ace di dungeon seperti ini.
Ace bergumam sambil bersiap-siap. “Setidaknya, dia bukan tipe jarak jauh seperti Hilla. Jika dia bisa menyerang dari jauh, kesempatanku untuk menang benar-benar nol.” Ace bergumam sambil bersiap-siap.
Ace kembali melesat sebelum monster itu bergerak. Kaki kanannya terbungkus es keras, lalu menendang kepala monster secara diagonal. Cukup mengejutkan ketika monster itu masih bisa menggerakkan lengan dengan akurat ketika posisi tubuhnya tidak stabil. Tendangan Ace dengan mudah diblokir oleh tangan monster yang tidak memegang pedang.
Mata Ace terbuka lebar. Sementara kaki kanannya dicengkeram, monster itu melemparnya kuat. Tubuh Ace melayang di udara sebelum menabrak jeruji es. Bahkan sebelum Ace menyadari kondisinya, tangan kiri [King Yedee] kembali menghantam tubuh tubuhnya.
“Kuat!”
TIdak ingin memberi kesempatan lebih lanjut, Ace segera memblokir serangan [King Yedee] dengan tembok es. Dia berhasil memaksa kakinya kembali berdiri setelah beberapa saat.
[HP: 1782/2867]
[MP: 320/ 460]
Karena level [King Yedee] itu lebih tinggi darinya, terkena beberapa serangan saja sudah mengurangi seribu lebih HP-nya. Apalagi dia baru saja menciptakan sen jata-sen jata yang berlawanan dengan tipe skill-nya.
Telinga Ace berdenging. Dia menggelengkan kepala beberapa kali untuk menghilangkan pusing sebelum bangkit. Namun, masalah yang jauh lebih besar dari itu semakin dekat kepadanya.
Ace membuka matanya lebih lebar dan bersiaps-siap. Tepat ketika tembok es di hadapan Ace runtuh, berubah menjadi poligon-poligon warna-warni kemudian menghilang di udara, pedang [King Yedee] mengayunkan dari atas. Seakan merasa memiliki pertahanan tinggi, monster itu bahkan mengabaikan kepalan tangan es yang terarah ke perutnya.
“Kau pikir bisa mengalahkanku semudah itu, huh?” Ace menantang. Tangan kirinya yang bebas membentuk perisai di atas kepala, menghalau mata pedang yang hampir membelah kepala.
Namun, monster itu kembali bergerak cepat, seolah serangan Ace barusan hanya menggelitiki sedikit bar HP-nya. Sebelum Ace memperbaiki postur tubuh, serangan balasan yang tajam dan akurat melayang ke bahu kanannya.
Ace terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang menimbulkan kerusakan pada lantai es. Kepalanya pusing dan telinganya kembali berdenging. Napas Ace menjadi sedikit sesak dan pengelihatannya mengabur. Seluruh tubuhnya sakit meski semua ini hanyalah data-data visual. Namun, tidak ada waktu untuk beristirahat saat ini.
Kepalan tinju [King Yedee] kembali mengarah ke perut Ace saat dia mengangkat kepala. Ketika tinjuan itu mendara dengan tenaga kuat, tubuh Ace membungkuk ke depan. Lagi, Ace melayang, lalu tersungkur ke lantai es yang telah beregenerasi. Meski hanya terpaut lima level, serangan [King Yedee[ terasa sangat gila seolah-olah bisa meremukkan Ace kapan saja. Di sisi lain, serangan Ace seakan tidak menimbulkan kerusakan yang berarti.
[HP: 912/2867]
[MP: 240/ 460]
Ace melirik bar HP dan MP yang telah berkurang banyak. Andaikan dia menerima beberapa pukulan lagi Ace yakin dirinya akan benar-benar mati. Namun, berkat pertarungan jarak dekat itu dia bisa mengetahui titik lemah musuh. Berbeda dari para beruang, [King Yedee] ini memiliki titik lemah di punggung, tepat di balik surai biru seperti ekor kuda jantan.
Tentu mengincar titik lemahnya akan sulit. Bahkan sebelum Ace berhasil beralih ke punggung, monster itu akan langsung melancarkan serangan. Di situasi ini, Ace tidak bisa menerjang begitu saja tanpa memikirkan apa pun. Dia membutuhkan serangan dengan tingkat akurasi yang tinggi untuk bisa memenangkan pertarungan. Saat itulah, sebuah pikiran memasuki benaknya.
Dia memang tidak punya jenis serangan yang memiliki akurasi tinggi, tapi salah satu temannya—Hilla—adalah tipe penyerang jarak jauh dengan tingkat akurasi tinggi. Terlebih dia telah melihat pertarungan Hilla dengan busurnya. Dan mungkin dia bisa meniru sihir rantai milik Niel untuk mengekang monster itu, lalu membentuk busur sebagai serangan lanjutan.
Ketika Ace masih berpikir, monster itu telah bergerak kembali. [King Yedee] menggenggam pedang dengan kedua tangan lalu melesat ke hadapan Ace. Segera ujung bilahnya terangkat ke langit, bersiap membelah tubuh Ace dengan sempurna. Namun, tentu saja Ace tidak akan membiarkan dirinya kalah tanpa terjadi perlawanan.
Ace mengangkat kedua tangan dan memblokir bilah pedang dengan tangan kiri yang telah dibekukan, lalu pembekuan itu merambat ke pedang musuh. Ace tidak ingin melewatkan kesempatan ini dan mengayunkan tangan kanannya. Seperti yang diharapkan Ace, monster itu tidak berusaha menghindar.
Setelah menghantamkan pukulan, Ace menghancurkan es yang membekukan tangan kanan, lalu menggunakan skill yang sudah disiapkan sejak tadi. “[Energy Drain!]”
[HP: 2867/2867]
[MP: 460/ 460]
Dalam beberapa detik, HP dan MP Ace sudah pulih kembali. Pada saat yang sama, pedang [King Yedee] yang mengalami pembekuan telah menjadi normal. Keduanya menarik jarak, mempersiapkan serangan berikutnya. Tentu saja Ace tidak ingin menyia-nyiakan lima menit cooldown dari skill tercintanya ini. Namun, bergantung pada pengisian HP dan MP seperti itu hanya akan memberinya sedikit waktu. Dia tidak bisa terus menerus menggunakan [Energy Drain] seperti pengecut.
“Bahkan system pun tahu seorang pengecut membutuhkan skill seperti ini.”
Melihat dari tingkat kecepatan dan ketangkasan monster ini, Ace tidak akan punya waktu untuk menarik busur. Dia bukan Hilla. Dia hanyalah penyihir pencuri skill player lain. Satu-satunya jalan saat ini hanyalah menghadapi monster itu dari jarak dekat sambil mengincar punggungnya.
Tunggu—
Punggung?
Ace mengedar pandang. Dia jadi teringat dengan serangan mematikan yang dilancarkan [King Yedee] pada awal pertarungan. Benar. Jika tidak bisa menyentuh titik lemah dengan kekuatannya sendiri, dia bisa memanfaatkan kondisi sekitar untuk menciptakan peluang. Dia bisa menyeret monster ini menuju barrier untuk menyerang punggung selagi dirinya menjadi umpan. Mungkin ini akan sedikit mempertaruhkan nyawa mengingat Ace tidak memiliki kecepatan seperti Lucas atau pertahanan seperti tanker. Tapi, dia bisa membentuk perisai di mana pun, termasuk dirinya sendiri.
Sebelum Ace selesai menyusun rencana, monster itu kembali melesat dengan kecepatan yang tidak mudah diikuti. Ace membungkuk untuk menghindari ayunan pedang, sedikit bersyukur karena dia telah menginvestasikan skill point ke agility sehingga tubuhnya terasa seringan bulu. Ketika pedang monster itu menebas udara di atas kepala, Ace segera memeluk bagian tengah tubuh [King Yedee] lalu berlari secepat mungkin. Sayangnya dia tidak memiliki kecepatan seperti Lucas.
“Kau tahu? Aku punya guru yang baik.” Ace mengatakannya sambil tersenyum miring.
Monster itu meronta-ronta kesakitan dan berhasil mendaratkan beberapa pukulan kuat di punggung Ace. Mengetahui hal itu, Ace membekukan bagian punggung untuk meminimalisir serangan dan tidak membiarkan monster itu terlepas. Sayang sekali dia tidak bisa melihat ekspresi monster itu dalam posisi ini.
Sambil mencengkeram bagian tengah tubuh [King Yedee] lebih keras, Ace terus berlari ke jeruji di belakang. Tentu saja, jika mereka menabrak jeruji dengan posisi ini, [King Yedee]-lah yang akan menerima kerusakan tinggi. Sementara Ace masih memiliki kartu truf tersembunyi yang telah ditiru dari anggota party hari ini.
Jarak menuju jeruji telah terkikis. Seiring dengan ledakan besar, monster itu menabrak dinding. Tak berhenti di sana, Ace membekukan tangan kanan dan melayangkannya ke monster. Kekuatan pukulan itu cukup besar untuk membuat ruangan itu bergetar sesaat. Setengah tubuh [King Yedee] terkubur pecahan kristal es dengan bar HP yang tersisa satu lapisan.
“Aku harus segera menyelesaikannya.” Ace bergumam sambil membentuk pedang panjang milik Karein, lalu menembus tubuh monster itu.
Namun, ketika bar HP-nya habis, [King Yedee] mengeluarkan aura kebiruan yang sangat kuat sampai menghempaskan tubuh Ace, seolah-olah sedang berevolusi. Tubuh Ace terpental beberapa meter dari [King Yedee] yang kini bangkit kembali. Apakah mungkin seorang boss berevolusi setelah bar HP-nya habis? Itu benar-benar hal yang menyebalkan.
Dalam permainan yang sering Ace mainkan, itu bisa saja terjadi. Apalagi quest ini merupakan penentu dari nasib seorang player. Tentunya system tidak akan memberikan kemenangan secepat ini sebelum player benar-benar sekarat. Yah, mungkin saja.
Namun, berkat evolusi itu, Ace jadi memahami beberapa cara menggunakan sihirnya lebih efisien, termasuk membekukan bagian tubuhnya sendiri. Itu tidak hanya memberi kekuatan, tapi juga perlindungan sehingga bagian tubuh yang beku tidak akan mudah diserang. Namun, membekukan tubuhnya secara terus menerus akan menguras MP meski dia memiliki skill pasif [Elemental Affinity].
Ukuran tubuh [King Yedee] bertambah ketika evolusi selesai. Kini tidak hanya lengannya saja yang dilapisi kristal es, tapi seluruh tubuhnya. Bahkan surai kebiruannya mencuat ke atas menantang gravitasi. Mata biru yang tajam dan bercahaya biru seolah-olah siap melakukan serangan selanjutnya.